Banyu Busuk


Saat dia bilang dia akan kawin, aduh ... rasanya hati ini lega betul. Rasanya ada beban besar yang diangkat dari pundak sehingga saya bisa bebas berjalan dan bertingkah seperti apapun. Tidak jalan menunduk-nunduk seperti dahulu.

Sebut saja namanya Banyu.

Banyu adalah seorang pria rupawan dengan rahang tegas, tubuh tinggi tegap, kulitnya cokelat, dan kalau menatap ... adduuuh, tidak ada yang tidak lumer dibuatnya. Saya seperti cokelat dijemur lama-lama atau seperti es kutub di zaman yang serba panas ini; meleleh. Lalu rupanya si rupawan ini pun tertarik betul dengan saya yang katanya punya segudang cerita, berkabut sehingga ia merasa tertantang untuk menyibaknya, juga rahasia-rahasia dalam yang ingin ia ketahui. Karena usahanya yang intens untuk melepas lapis demi lapis, maka akhirnya saya seperti batu yang memiliki ceruk karena tetesan air yang selalu sabar.

Lalu saya buka semuanya hingga saya tidak memiliki apa-apa lagi. Transparan.

Namun lama-kelamaan, Banyu memang boleh jadi pujaan karena ketampanan wajahnya, namun ternyata hatinya busuk. Hitam dan bau tengik. Pikirannya begitu picik. Ia sering kali berprasangka tanpa bertanya, membentuk opini sendiri, memanipulasi orang-orang yang ada di sekitar agar menjadi sekutu saat berpendapat. Jangan lupa, jika ia sudah sakit, maka ia akan membalas rasa sakit dua kali lipat. Lalu mulutnya mulai rajin melontarkan kata-kata pedas, kritik-kritik tanpa diminta, sumpah serapah jika ia tersinggung barang sedikit saja. Ia laksana air panas yang siap menjerang apa saja hingga kelewat matang; tercerai berai di dalam panci.

Kata orang ada istilah Stockholm Syndrome dimana korban mulai memiliki rasa simpati terhadap pelaku (penculikan--lihat sejarah stockholm syndrome dengan googling sendiri). Maka, saya kupas lapisannya dan menemukan fakta-fakta yang saya jadikan pembenaran atau penyangkalan bahwa Banyu adalah seorang pria sakit, bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud untuk menyakiti, bahwa itu adalah cara menunjukkan kasih sayangnya ... Biar saya menjaga Banyu, menimangnya, mengelus kepalanya di saat lelah. Saya sediakan air dengan sigap saat ia haus, saya siapkan makan secepatnya saat ia lapar.

Walau busuk, ia adalah kesayangan saya. Biar dia bahagia walaupun saya harus sakit karena kata-kata. Wakau saya harus menjauh dari teman-teman sendiri karena ia bilang teman-teman saya itu tidak baik, orang-orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, juga mengekang hingga diri saya tidak berkembang seperti sekarang. Maka, saya putus tali kontak satu persatu-satu.

Karena saya mencintainya.

Hingga sore itu, di atas sofa hijau tua di rumahnya itu, ia bilang bahwa ia mau menikah oleh karena itu hubungan ini harus selesai sudah. Ia memperlihatkan foto teman wanitanya yang cantik bukan kepalang; laksana model yang ada di majalah, putri-putri yang menunggu pangeran di kastil tanpa berbuat apa-apa dan tanpa terluka. Mata saya berkaca-kaca. Si busuk ini akhirnya menemukan pasangan dan bahagia. Dua orang dipundak--entah siapa--mengangkat beban berat lalu melempar jauh-jauh bebannya. Air mata saya meleleh membasahi pipi. Dia bilang jangan menangis karena sedih. Saya bilang bahwa saya tidak sedih. Saya bahagia sekali. Tidak pernah sebahagia ini.

Banyu busuk yang dulu mengendalikan saya--bahkan dalam mimpi kini sudah tidak ada. Semenjak sore itu berlalu, saya bisa mimpi lucid lagi. Saya bisa mengendalikan apapun: mimpi, kegiatan, dan terutama ... diri. Walau jejaknya berbekas betul di hati, saya rawat memarnya hingga sembuh. Tak apa-apa. Kau tidak usah membantu. Saya sudah biasa sendiri.

2 comments:

Sundea said...

Banyu. Banyak utang.

Nia Janiar said...

Jyaaaahh, pada udah keren2 "air" :p