Diri yang Tak Kukenal

Seorang teman berkata tulisan saya kini lebih kaku. Ya, informatif, tapi tidak ada sentuhan personal (atau jatahnya sedikit). Teman yang lain pun berkata bahwa sekarang kurang imajinatif. Apakah ini pertanda semakin tua maka seseorang akan semakin membosankan?

Kemarin, saya melihat kembali tulisan-tulisan lama saya yang ada di blog yang saat membacanya bikin mengerenyitkan dahi tidak mengerti. Karena saya menulis hal-hal seperti ini:

"Jam pasir pun siap berlomba dengan dimensi waktu yang ada. Mereka saling berebut masuk pada tabung dibawahnya. Kasian ya mereka, hidup bolak-balik antar tabung dan diburu oleh waktu. Pasti menjemukan ya?
Kamu tahu waktu itu apa? Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Oh.. bukan. Itu bukan definisi dari waktu tetapi itu bagian dari waktu. Waktu itu adalah ruang yang tidak terlihat. Kamu tidak perlu menempelkan definisi saya dan membuatnya permanen di otak karena itu adalah jawaban yang tidak ilmiah." (26 Maret 2006)

"Tergagas dalam pemikiran saya untuk tidak mengkerdilkan potensi karena saya tidak mau menjadi korban kaum kapitalis. Tidak mau sebagai korban mereka yang mereduksi potensi disambung dengan budaya barat yang mendera (hayo.. engga ngerti kan? SENGAJA!)
Susah juga untuk menghilangkan budaya menemukan positif dalam negatif. Tapi apakah betul mereka adalah makhluk positif? Mereka itu adalah masyarakat dan budaya. Dialektika Hegel!! Tapi bagus lah.. setidaknya itu mengendurkan tegangan di pemikiran." (23 Maret 2006)

"Sartre bilang kalau manusia itu sendirian, ditinggalkan dan bebas. Dan itu benar! Karena saya seperti itu. Saya manusia dan saya seperti itu. Dia bilang manusia itu mencoba untuk menjadi Tuhan. Mereka berseru pada Tuhan tetapi hanya dibalas dengan kesunyian. Yah.. kesunyian adalah Tuhan itu sendiri. Saya manusia dan saya seperti itu." (15 Maret 2006)

Tulisan saya di atas adalah tulisan tipikal mahasiswa yang baru mengenal istilah-istilah baru, lantas merasa keren, lalu dipakai dalam tulisan. Kata-kata grandeur/besar menjadi senjata untuk menarik pembaca agar terlihat lebih canggih. Rumit, sulit dimengerti, tapi diharapkan bisa indah. Semua itu berlangsung hingga saya ikut Klab Nulis (kini Reading Lights Writer's Circle), saya bertemu dengan koordinator kala itu, Mirna Adzania. Saya masih ingat, waktu itu saya membacakan tulisan saya berjudul Padang Bintang, lalu Mirna komentar bahwa tulisan saya ini melelahkan dan sulit dicerna. Lalu, saat ia membacakan karyanya, saya lihat kata-katanya yang sederhana tapi masih bagus pula. Saya masih ingat betul saat itu saya berkomentar tentang kesederhanaan kata-kata namun masih bermakna. Setelah itu, saya terkesan.

Lalu saya membaca pendapat Remy Sylado bahwa orang pintar itu justru adalah orang yang mampu menyederhanakan hal-hal rumit. Karena saya ingin (disebut) pintar, maka saya mulai mengurangi istilah-istilah rumit. Apalagi saya ketemu dengan karya Sapardi yang begitu sederhana tapi luar biasa. Lalu, perubahan mulai terlihat ketika salah seorang teman saya di klab nulis, Sapta, bilang kalau tulisan saya begitu 'keseharian'.

Lalu, setelah banyak baca, ternyata banyak penulis yang menggunakan kata-kata biasa. Karena bagus tidaknya karya bukan dilihat dari kerumitan bahasa, melainkan rasa bahasa, plot, struktur, klimaks, penokohan, setting, dan lainnya. Adnan, rangda, sad, gotri ... adalah kata-kata yang ada di Bahasa Indonesia yang tidak terjamah. Menggunakan kata-kata tersebut bukan rumit karena justru menambah kosa kata baru dalam tulisan.

Saya berpikir bahwa sepertinya saat itu saya terlalu disibukkan dengan alam pikiran sendiri. Mengapa begini dan mengapa begitu. Tulisan yang ditulis pun rasanya tidak terstruktur karena betul-betul menumpahkan apa yang ada di kepala. Tentu hal ini adalah hal yang bagus karena saya diajari saat awal-awal menulis untuk menumpahkan apa saja yang ada di kepala. Dan terutama saat itu saya tidak memikirkan siapa pembaca saya: saya menulis untuk diri saya. Jika ini adalah masturbasi, saya pikir ini bukan hal yang buruk karena sesuatu yang menumpuk itu harus dikeluarkan.

Dua tahun yang lalu, saat ditanya cita-cita saya mau jadi apa, saya jawab saya ingin jadi filsuf. Sekarang kalau ditanya, jawabannya, "Ingin kerja di majalah." Kini tampaknya saya sedang bersenang-senang dengan fenomena sosial, dengan apa yang terpampang di luar pikiran saya. Tentang taman yang saya lihat, tentang interaksi orang lain, tentang ibu kota, tentang gunung yang baru saya kunjungi, dan seterusnya. Tapi kemudian saya dilibatkan dalam urusan membuat artikel sehingga secara tidak langsung harus menjabarkan fakta (tahun, luas area, dll) dan justru mengurangi nilai personalnya sehingga teman-teman yang mengetahui bagaimana saya dulunya berkata: kaku, bosan, dan tidak imajinatif.

Jika pemikiran bertambah dewasa, imajinasi tidak boleh hilang. Kapan terakhir saya menulis pengalaman saya ngobrol sama air atau sama Tuhan di tempat jemuran? Atau kapan terakhir saya menulis cerita fiksi berdasarkan keinginan sendiri--bukan karena pertemuan klab nulis? Sudah lama.

Kemudian bingung. Mau dibawa kemana ini gaya penulisan. Saya jadi merindukan diri saya yang dulu, yang bahkan sudah tidak dikenali lagi. Karena jika dirunut di-blog sebelum ini (blog di Friendster sebelum tahun 2006), itu lebih "gila" lagi. Ada tips-tips, ada Marlon, ada tulisan tentang perempuan ideal, dan lainnya. Bahkan sepertinya saya tidak bisa menulis hal-hal seperti dulu.

Nia kecil ada di hati. Nia besar memarahinya agar lebih serius dan jangan main-main terus. Lalu Nia kecil terus menjauh dan menjauh. Tanpa bilang, ia menghilang.

Comments

Popular Posts