Hilangnya Otoritas Pada Diri

Barusan teman saya pulang ke kampung halamannya. Sudah seminggu belakangan ini ia tampak sibuk--bolak-balik menerima telepon. Juga beberapa kali ia terlihat kusut dengan area kisaran mata yang lembab, entah baru nangis atau kecapekan. Ia pun terjebak dalam euforia berkegiatan yang berlebihan seperti seseorang yang sedang melupakan sesuatu. Karena ia tidak bercerita, maka saya tidak bertanya.

Dulu, kami pernah mengobrol tipe cowok yang kami sukai. Dia bilang dia suka laki-laki berkulit terang dan bermata sipit. Sementara saya kebalikannya. Lalu kami saling memperlihatkan contoh orang-orang yang sesuai dengan kriteria. Kemudian di tengah-tengah obrolan, sempat ada isu yang dilontarkan bahwa ia dipaksa menikah oleh orang tuanya. Maka iseng saya tebak alasan kepulangannya sebelum hari ini, ia menjawab, "Kira-kira seperti obrolan kita dulu." Lalu setelah ia kembali dari kepulangannya, saya bertanya sambil bercanda, "Jadi?" lalu ia menjawab, "Sudah."

"Sudah? Sudah bagaimana maksudnya??" tanya saya sampai-sampai beranjak dari kursi untuk menggapai tangannya, menggoncang-goncangkan tubuhnya.

Ia menghindar sentuhan saya sambil berkata, "Iya. Sudah, Nia. Sudah."

Mendengar kabar itu, saya terkejut. Rupanya ia membawa keterkejutan saya dari ekspresi muka. "Kok kamu yang terkejut?"

"Saya enggak tahu harus bilang apa. Saya harus kasih selamat atau ...?"

"Kasih selamat saja."

Saya ingat bahwa calonnya dia saat itu adalah teman kakaknya. Si calon rupanya sudah dekat dengan orang tuanya. Walaupun keluarga ada di kampung halaman dan teman dan si calon berada di kota, komunikasi mereka terjalin cukup baik. Orang tua sudah kepalang jatuh cinta dengan calon menantu, sementara anaknya tidak.

Saat obrolan itu mengeruak, saya bilang pada si teman untuk terus memperjuangkan keinginannya. Apalagi rumah tangga itu tidak main-main dan seumur hidup pula. Ia pun sempat melontarkan bahwa pernikahannya mungkin tidak akan jadi. Saya ikut senang. Tapi saat ia bilang pernikahannya sudah berlangsung, saya lemas. Mungkin dia biasa saja dan saya terlalu berlebihan. Namun fenomena kawin paksa ini ada, terpampang di depan mata, bukan di novel-novel fiksi belaka. Tidakkah menyakitkan ketika diri sudah kehilangan otoritas pada diri sendiri dan keberadaannya ditentukan oleh orang lain?

Apakah orang tua berhak memutuskan ini dan itu untuk anaknya yang sudah dewasa dan berakal sehat? Adakah alasan takut anak tidak ketemu jodoh? Juga alasan ingin segera menikahkan agar beban membiayai segera hilang? Maaf, orang tua, bagi saya ketakutan adalah hal yang belum tentu terjadi dan mengeliminasi beban sambil memindahkan beban kepada anaknya terdengar egois sekali.

Rencana-rencana yang dibangun tentang masa depan, menikah dengan orang yang disukai, seru-seruan bersama teman-teman, tampaknya hilang. Diri jadi harus beradaptasi pada sesuatu yang datang dengan pemaksaan. Harus mengurus dan harus berada dengan seseorang yang tidak diharapkan kehadiran seseorang yang bukan si laki-laki-sipit-berkulit-terang.

"Sekarang saya kalau belanja lebih cenderung boros. Beli ini, beli itu. Enggak tahu, udah enggak mau mikir aja," ujarnya saat kami makan malem bersama.

"Yah ... semoga ... apa yah. Semoga ..."

"Semoga semuanya berjalan lancar ya, siapa tahu ujungnya baik," ia melanjutkan omongan saya yang mengambang.

Ya, kawan, rencana Tuhan tidak ada yang tahu. Saya terlalu berlebihan saja.

Comments

Popular Posts