Larung

"Dari semua karya Ayu Utami, saya paling suka tokoh Larung. Rasanya ingin ketemu di dunia nyata."

Lalu Ayu Utami membalas dalam twit-nya, "He's dark and fragile at the same time."

Iya, mungkin saya suka orang-orang yang gelap dan rapuh. Seperti teman-teman saya dalam keseharian. Gelap. Rumit. Tetapi rapuh.

Jika kamu belum pernah membaca Larung, akan saya jabarkan mengenainya. Larung saya temui dalam sebuah novel yang penulisnya sudah disebutkan di atas. Larung, dengan judul yang diambil dari nama tokoh, merupakan novel kelanjutan Saman (1998). Sebelumnya saya sudah baca saat SMA namun otak belum kesampaian dan alur terasa super duper lambat. Setelah saya baca ulang, saya sangat tertarik dengan tokoh ini. Saat saya menunjukkan ketertarikan padanya, salah satu teman saya bilang, "Seriously? The psychotic activist whom desecrated his own grandmother's cadaver?"

Tidakkah itu menarik, kawan?

Larung ini pulang kampung dalam rangka "mempermudah" kematian neneknya yang dulu dikenal sebagai dukun. Nenek yang sudah keriput, dengan badan yang semakin membungkuk seperti bayi dalam rahim, dengan aroma nafas dan mulut yang suka mengeluarkan lendir tidak sedap. Larung, yang menganggap dirinya istimewa karena tidak pernah kena kata-kata tajam neneknya, memiliki kedekatan khusus dengan si nenek. Karena sulitnya proses meninggal akibat susuk, gotri, dan mantra, Larung harus berkelana mencari penangkal untuk mempermudah kematian neneknya. Alias, membunuhnya.

Saat Larung menjajarkan 6 buah cupu dari dada hingga pusar agar mantranya hilang, cerita berubah menjadi sudut pandang kedua yaitu nenek berkisah keadaan Larung dan orang tuanya saat kecil. Larung pernah memiliki teman keturunan Tionghoa yang toko kelontongnya dijarah dan ayah sang teman dipukuli sampai mati. Juga bapaknya sendiri disiksa sampai mati karena dianggap komunis. Hanya tuduhan Gerwani terhadap ibunya tidak mempan karena orang-orang tidak berani melangkahkan kaki karena si nenek dukun yang ditakuti ini yang melindungi menantu dan cucunya. Bahkan, menurut teman si nenek, jika sang nenek tidak melindungi mereka, belum tentu ia dan ibunya masih hidup.

Ketika cupu keenam ditempatkan, Larung mulai melakukan prosesi "pembedahan" untuk mengeluarkan susuk-susuk yang ada di tubuh neneknya. Jelas ia mengetahui teori pembedahan karena ia adalah mahasiswa kedokteran. Darah yang melimpah di kasur berdebu pun dengan tenang ia cuci, menyisakan air merah dan anyir. Setelah itu tubuh neneknya dimampatkan dalam dua tas dan dikubur di halaman belakang.

Jika dibaca, kisah Larung sungguh memualkan. Tapi saya harus takjub dengan penceritaan Ayu Utami tentang tokoh Larung melalui sudut pandang pertama sehingga membuat pembaca mengikuti jalan pikiran Larung. Selain itu, kata-katanya kuat dan enak dibaca perlahan-lahan untuk dinikmati keindahannya. Misal:

"Ketika ia menunduk ke arah jari-jarinya yang menggenggam notesku, aku melihat kupingnya yang berada di depan mataku. Duh, relung, setiap telinga adalah labirin dengan bulu-bulu kecil. Dan kuping, sahabatku, adalah tubuh kita yang tak pernah menjadi tua. Tulang yang tetap rawan sampai kelak tiada. Lihat ulirnya, bau bantat yang gurih, dan liang gelap itu, di mana ada cairan lumas yang melindungi gendang telinga lunak, dan gemuk itu mengeluarkan bau pahit yang sengak sehingga serangga tak mau pergi ke sana. Liang vagina mengingatkan aku pada jaringan seperti malam tempat hidup pertama dilentuk, bau asam yang menanti basa mani, lembab dan hangat, tapi lorong telinga mengingatkan aku pada kematian: sbuah akhir yang tak selesai." (Larung: 5)

"Kau tidak menyadari waktu, tetapi aku mencatat tanggal itu: 21 November. Kau tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi aku menggores semua itu dalam urat-urat jantungku. Mereka datang mengambil anakku, tanpa mengetuk pintu. Sebab sebelum mereka menyentuh daunnya, aku telah berdiri di sana. Telah kudengar sebelumnya, bisik-bisik orang menuduhku menyimpan ular di lipatan stagen. Nenek itu leak, rangda dengan sad tatayi, sebab setiap janda adalah potensi bahaya." (Larung: 38)

Cerita yang penuh dengan narasi ini seperti ruang tunggu yang nyaman. Ayu Utami mempersilahkan pembaca berlama-lama untuk menikmati keindahan interiornya. Setelah itu, tidak hanya dekorasi yang bagus, si ruang tunggu juga diisi dengan wewangian yang memabukkan; atau dalam novel ini penulis betul-betul memaksimalkan indra penciuman sehingga pembaca turut merasakan betapa busuknya si nenek di jelang kematiannya.

2 comments:

Anonymous said...

ada deskripsi fisiknya ga?:D

Tiwi

Nia Janiar said...

Ah! Itu dia. Engga ada (atau sedikit banget), Wi! Keren yah.