Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2012

I'm a Ghost in My Own House

Di pertengahan bulan Oktober, Andika dan saya menyusuri empat buah galeri dalam dua hari. Saat itu sepertinya Bandung lagi banyak-banyak pameran. Dari keempat pameran yang diadakan, saya kurang tertarik dengan pameran tunggal Bunawijaya tentang Membaca Langit Merapi yang diadakan oleh Selasar Sunaryo Art Space. Karyanya berupa lukisan-lukisan Gunung Merapi yang dikuratori oleh bapaknya teman saya, Dea, yaitu Jim Supangkat. Di luar dari pameran, pembukaan pameran Bunawijaya begitu hangat karena ia merupakan teman dari Sunaryo dan A. D. Pirous, apalagi banyak candaan-candaan kecil yang dilontarkan oleh Sunaryo.

Cukup tentang Bunawijaya. Saya mau berbagi foto-foto pameran ketiga sisanya:

1. Landscape #2




Natas Setiabudhi, seniman yang membuat keramik berbentuk seperti di atas kemudian ditempel di dinding, adalah seorang yang pemberani. Membuat keramik bukanlah hal yang mudah, sebagaimana yang saya tahu dari saudara sepupu saya yang juga suka membuat keramik, karena seringkali retak, melint…

Deetje

Deetje, a set on Flickr. Pada hari Minggu, saya dan Komunitas Aleut pergi menyurusi Bandung Utara. Saat itu kami akan jalan kaki dari Lembang menuju Punclut. Sebelumnya kami mampir dulu ke rumah dengan nama Deetje yang konon bekas rumahnya Ursone--pengusaha susu masa Hindia Belanda yang kini jasadnya dikuburkan di Makam Pandu.

Begitu melihat Deetje, saya langsung merasa rumah ini begitu cantik! Lihat menaranya yang menjulang di sebelah kiri (yang mengingatkan pada restoran Dakken di Jl. Riau), lihat pula lantai yang penuh semangat akan corak, lihat pilar-pilar dan ruang kosong di dalamnya. Selain itu, saya paling suka pintunya dengan kaca-kaca di atasnya.

Bagian tengah Deetje cukup terawat, mungkin karena sering dipakai foto pre-wedding (sebagaimana yang dikatakan penjaga rumah). Bagian belakangnya hampir ambruk namun tidak mengurangi kecantikannya.

Deetje memiliki empat buah kamar mandi yang cukup bersih. Teman saya bertanya untuk apa ya kamar mandi sebanyak itu (dan berdempetan lay…

Tersesat

Altingia excelsa merunduk di antara langit-langit pagi yang masih tertutup kabut. Udara pagi saat itu begitu dingin sehingga dua orang yang sudah memakai jaket tebal dan pakaian berlapis tetap menggigil. Cahaya keemasan belum terlihat dari ufuk timur. Mungkin baru lima belas menit lepas dari subuh. Pemandangan kelabu membikin jarak pandang semakin pendek di antara pohon-pohon yang rapat.

Musa Idris memutuskan keluar dari tenda, menumpahkan spiritus di wadah trangia. Persediaan air putih yang ada di tempat minum Aji Saka—teman perjalanannya—ia tumpahkan di atas panci kecil. Setelah mendidih, ia memasukkan serbuk kopi instan dari kemasan plastik. Sebelum kopi disesap, Musa Idris membakar rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa hangat.

“Anjing, kau pakai air siapa?!” Aji Saka diselimuti amarah ketika hidungnya mencium aroma kopi. Apalagi ia tahu begitu kalau persediaan air minum temannya itu sudah habis. Air siapa lagi yang dipakai jika bukan air yang sudah ia kumpul…

adult angst on Twitter.

Keberadaan Twitter yang memfasilitasi orang berkicau atau meracau sekenanya tentu disambut dengan baik sehingga orang-orang mulai meninggalkan Facebook. Di media sosial yang berlogo burung ini, orang-orang menumpahkan segala opini (Orang-orang yang merasa berkompetensi, mereka akan membikin kultwit--semacam serial twitter mengenai satu topik), laporan aktivitas, refleksi perasaan, bahkan hingga doa. Saking ingin membuncahkan isi pikiran dan perasaan, twit seseorang bisa mencapai puluhan ribu (termasuk saya).

Ada yang bilang bahwa orang tidak bisa melakukan judgment dari apa yang terlihat di sosial media, karena mungkin ada beberapa twit yang tidak benar alias pencitraan. Namun bukankah orang-orang yang terus melakukan pencitraan (pembentukan citra diri positif atau negatif di hadapan orang lain) itu menandakan sesuatu? Mungkin ingin menutupi diri yang edan membosankannya sehingga ingin menjadi orang lain?

Abaikan kalimat terakhir.

Kalau sering ngetwit lalu apa yang ditwit itu menarik…

Jeda

Huruf yang berangkai jadi kata bermakna, ditambah tanda baca, lalu kita butuh jeda.*

Jeda. Entah jeda apa yang Jana butuhkan sehingga ia mengambil waktu lama untuk menghindar dan untuk tidak mengindahkan. Entah alasan jeda apa yang Jana pikirkan, mungkin ia bosan, mungkin ia tidak ingin lagi berhubungan, atau mungkin ia merasa usahanya dalam merangkai kata terlalu berlebihan lalu membikin orang lain keburu candu padanya.

Kemungkinan dan kemungkinan. Masalah pikiran laki-laki, perempuan tidak pernah tahu.

Aku banyak mengambil dugaan tentang Jana melalui asumsi yang dirasa-rasa. Tapi kuyakin ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang dirasakan perempuan--dugaan-dugaan yang tidak berasal dari logika. Paling ia hanya berdalih, "Ah, itu cuman perasaanmu saja." Lalu tanda-tanda yang ditunjukkan dari sesuatu yang tidak biasa (intonasi, intensitas, habituasi) tiba-tiba sirna oleh perkataanya. Jana, tidakkah kau sadar bahwa perempuan begitu sensitif terhadap detil?

Dulu ia ser…

Sehari Bersama Prof. Chitaru Kawasaki

Saat di Bandung, teteh saya sudah mewanti-wanti akan ada pameran keramik di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sepertinya si teteh ingin sekali ke sana (karena dia usaha keramik) tapi suaminya tampak tidak terlalu antusias dan dia ingin saya melihat pamerannya. Awalnya saya pikir saya tidak akan sempat melihat karena saat itu masih di Bandung dan hari kerja saya habiskan di kantor hingga pukul 6 sore. Tapi ternyata pameran berlangsung lama dan kebetulan teman ngaleut, Memes, pun mengajak jalan. Lalu kami let’s go ke sana.

Saya bener-bener engga ada bayangan saya akan melihat pameran siapa. Sudah browsing sedikit tentang pameran Knot, Connection, and String Playing ini yang dibuat oleh seniman dari Jepang. Saat pertama kali melihat karya-karyanya yang tampak begitu-begitu saja (seluruh karya berupa tanah liat cokelat yang saling melengkung), saya langsung menghakimi "bosan" karena saya tidak melihat karya warna-warni.


Namun tentu saja saya salah. Apalagi saat saya dan teman…