I'm a Ghost in My Own House

Di pertengahan bulan Oktober, Andika dan saya menyusuri empat buah galeri dalam dua hari. Saat itu sepertinya Bandung lagi banyak-banyak pameran. Dari keempat pameran yang diadakan, saya kurang tertarik dengan pameran tunggal Bunawijaya tentang Membaca Langit Merapi yang diadakan oleh Selasar Sunaryo Art Space. Karyanya berupa lukisan-lukisan Gunung Merapi yang dikuratori oleh bapaknya teman saya, Dea, yaitu Jim Supangkat. Di luar dari pameran, pembukaan pameran Bunawijaya begitu hangat karena ia merupakan teman dari Sunaryo dan A. D. Pirous, apalagi banyak candaan-candaan kecil yang dilontarkan oleh Sunaryo.

Cukup tentang Bunawijaya. Saya mau berbagi foto-foto pameran ketiga sisanya:

1. Landscape #2




Natas Setiabudhi, seniman yang membuat keramik berbentuk seperti di atas kemudian ditempel di dinding, adalah seorang yang pemberani. Membuat keramik bukanlah hal yang mudah, sebagaimana yang saya tahu dari saudara sepupu saya yang juga suka membuat keramik, karena seringkali retak, melintut (semacam bengkok sendiri), dan lainnya. Berbeda dengan keramik konvensional yang biasanya bentuknya melingkar, Natas membuat tiga modul keramik yang berbentuk negatif, positif, dan netral.

Ini adalah kali kedua saya melihat pameran keramik setelah Prof. Chitaru Kawasaki di Galeri Nasional, Jakarta. Kesan awal saat masuk ke s.14, saya terkesima dengan keramik-keramik yang dipasang di sisi kanan dan kiri ruangan. Saya dan Andika mencoba mengukur apakah kedua sisinya saling mengisi layaknya lingga dan yoni, tapi ternyata tidak. Karyanya membikin kami berlama-lama memperhatikan detil keramik yang mulus tanpa retak. Setidaknya yang kami lihat.

2. Continuum of Consciousness




Karya Linda Sim Solay, seorang seniman dari Swedia-Austria yang fokus pada evolusi psikologi dan fisik kontemporer sehingga membentuk suasana internal yang membangkitkan renungan perseptif. Tidak hanya visual, seniman memberikan aroma ruangan untuk menambah penghayatan. Sayangnya saat saya datang, alat sedang rusak sehingga jadi tidak turut merasakan efek baunya.

Saat masuk ke dalam IFI--tempat pameran saat itu--kami masuk ke dalam sebuah ruangan gelap yang ditengah-tengahnya karya yang awalnya terlihat seperti tiang. Saya suka pada efek kaca yang membuatnya menjadi infinity alias tidak terputus-putus juga detil gelas yang disusun vertikal. Kata Andika, dia dan saya pernah menghadiri pameran yang juga melibatkan aroma yaitu Java's Machine: Family Chronicle oleh Jompet, namun saya lupa (tentu saja).

3. I'm a Ghost in My Own House




Sebuah pameran instalasi, gambar, foto, dan video ... bahkan pertunjukkan oleh Melati Suryodarmo. Pameran ini berkisah tentang penghayatan tubuh kultural yang mengalami keterasingan. Bagi artis, tubuh seakan menjadi bayangan, tilas, tidak terasa sebagai entitas yang eksis, yang nirmakna. Melati menyebutnya sebagai "tubuh-hantu"--bayangan yang mencari ruang-ruang dan makna baru dalam kesendirian dan kesunyian perjalanan.

Kesan pertama? Serem! Apalagi Lawangwangi yang begitu besar dan sepi itu diisi dengan sebuah pakaian melayang-layang di tengah ruangan. Untung saya tidak sendirian. Galeri pun dicat dengan warna gelap seperti abu-abu dan ungu tua.

Dari semua karyanya, saya paling suka apa yang saya tampilkan di atas. Karya pertama diberi judul Destination LIAR, karya kedua adalah judul pameran itu sendiri yaitu I'm a Ghost in My Own House, dan karya ketiga adalah Torso yang dibuat dari kulit anak domba. Untuk karya I'm a Ghost in My Own House, di sana ditampilkan bagaimana Melati Suryodarmo menggerus arang selama 12 jam! Fiuh..

Jelas saya puas menghadiri keempat pameran tersebut. Seolah-olah kebutuhan saya akan seni jadi terpenuhi, jiwa yang kering ini tersiram dan basah kembali. Hahay. Karena saking banyaknya konten, maka judul tulisan ini saya ambil dari yang paling menarik yaitu karya Melati. Mungkin agak mewakilkan sebuah keterasingan sepulang dari Bandung ke Jakarta.

Btw, terima kasih untuk Andika! :)

Comments

Popular Posts