Jeda

Huruf yang berangkai jadi kata bermakna, ditambah tanda baca, lalu kita butuh jeda.*

Jeda. Entah jeda apa yang Jana butuhkan sehingga ia mengambil waktu lama untuk menghindar dan untuk tidak mengindahkan. Entah alasan jeda apa yang Jana pikirkan, mungkin ia bosan, mungkin ia tidak ingin lagi berhubungan, atau mungkin ia merasa usahanya dalam merangkai kata terlalu berlebihan lalu membikin orang lain keburu candu padanya.

Kemungkinan dan kemungkinan. Masalah pikiran laki-laki, perempuan tidak pernah tahu.

Aku banyak mengambil dugaan tentang Jana melalui asumsi yang dirasa-rasa. Tapi kuyakin ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang dirasakan perempuan--dugaan-dugaan yang tidak berasal dari logika. Paling ia hanya berdalih, "Ah, itu cuman perasaanmu saja." Lalu tanda-tanda yang ditunjukkan dari sesuatu yang tidak biasa (intonasi, intensitas, habituasi) tiba-tiba sirna oleh perkataanya. Jana, tidakkah kau sadar bahwa perempuan begitu sensitif terhadap detil?

Dulu ia sering kali memulai komunikasi, melalui kalimat-kalimat panjang dan paragraf padat yang bercerita tentangnya. Tidak perlu repot dikupas satu persatu, ia laksana kembang yang sudah waktunya mekar--terbuka sendiri. Ia adalah motivator di podium yang kemudian kupuja dan kutunggu ia mengeluarkan pikiran-pikiran ajaibnya. Lalu di saat dunia terasa baik dan gemerlap oleh sinarnya, Jana memutuskan berhenti. Ia mengambil jeda. Duniaku kembali gelap. Aku kembali meraba.

Kenapa? Jana bungkam seribu bahasa. Ia menihilkan segala tanda.



*) Kalimat diambil dari tweet seorang teman, Jana Silniodi, dengan sedikit perubahan. Tulisan di atas terinspirasi dari kalimatnya.

Comments

Popular Posts