Skip to main content

Tersesat


Altingia excelsa merunduk di antara langit-langit pagi yang masih tertutup kabut. Udara pagi saat itu begitu dingin sehingga dua orang yang sudah memakai jaket tebal dan pakaian berlapis tetap menggigil. Cahaya keemasan belum terlihat dari ufuk timur. Mungkin baru lima belas menit lepas dari subuh. Pemandangan kelabu membikin jarak pandang semakin pendek di antara pohon-pohon yang rapat.

Musa Idris memutuskan keluar dari tenda, menumpahkan spiritus di wadah trangia. Persediaan air putih yang ada di tempat minum Aji Saka—teman perjalanannya—ia tumpahkan di atas panci kecil. Setelah mendidih, ia memasukkan serbuk kopi instan dari kemasan plastik. Sebelum kopi disesap, Musa Idris membakar rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa hangat.

“Anjing, kau pakai air siapa?!” Aji Saka diselimuti amarah ketika hidungnya mencium aroma kopi. Apalagi ia tahu begitu kalau persediaan air minum temannya itu sudah habis. Air siapa lagi yang dipakai jika bukan air yang sudah ia kumpulkan berhari-hari dari embun dan rintik hujan.

“Bagi dikit ‘lah. Jangan pelit-pelit ke teman.”

“Gila kau, Musa. Itu persediaan air minum sampai kita ketemu jalan pulang. Kau malah enak-enakan minum kopi!”

Pria bertubuh kurus dan berkepala botak itu menepis panci kecil sehingga kopi panas menyiram tanah Gunung Gede yang basah. Bayangan kopi yang melewati kerongkongannya itu musnah sudah. Tanpa berpikir panjang, Musa Idris berdiri dan menerkam Aji Saka sehingga mereka bergumul di tanah.

“Anjing betul kamu, Saka. Gara-gara kamu salah arah, kita terjebak empat hari di sini. Sok-sokan enggak mau pakai jalur biasa, sok-sokan menebak arah dengan kompasmu yang rusak. Sekarang kamu larang aku minum kopi, hah?!” ujar Musa Idris dalam posisi terhimpit. Namun karena badan Musa Idris lebih besar dari Aji Saka, ia dengan mudahnya membuat temannya itu terjengkang.

“Kamu mau kita ketahuan tentara? Lagipula kalau kau pintar, kenapa kau tidak cari jalan sendiri?!”

Rupanya tantangan Aji Saka disambut baik dengan temannya yang berambut gimbal itu. Tanpa mengambil banyak waktu, ia mengemas barang-barangnya di tenda lalu meninggalkan teman perjalanannya sendirian.

Sepanjang perjalanannya, Musa Idris mencoba mengingat-ingat perjalanannya ke Gunung Gede sekitar lima tahun yang lalu—masih dalam rangka melarikan diri dari tentara seperti sekarang. Namun segalanya sia-sia karena kawasan yang dilaluinya tampak asing. Ia memutuskan untuk mencari aliran sungai dan mengikuti hingga hilir—berharap airnya bermuara pada salah satu titik di kaki gunung—walau ia tahu sungguh berbahaya karena binatang buas seperti babi hutan bahkan macan tutul selalu mendekati sumber air.

Dengan mendekapkan tangan ke dadanya, ia menerobos semak-semak rapat. Golok yang selama ini dipakai untuk menghalau ranting itu tidak dibawanya. Entah berapa puluh kilo yang sudah ia lalui. Matahari semakin tinggi, cahayanya mencoba menembus rimbunnya pohon Rasamala yang menjulang tinggi hingga mereka tenggelam di barat. Kenyataannya tidak ada pemukiman atau kumpulan pendaki yang ia temui. Gunung Gede terasa begitu sepi, terlalu sepi.

Hutan semakin gelap. Musa Idris belum membuat apa-apa untuk berteduh. Matanya samar-samar menangkap sebuah asap yang membumbung di sebelah barat daya. Ia bergegas menghampiri asap tersebut dan menemukan hanya satu buah tenda yang bertengger di tanah yang agak lapang yang terasa familiar. Begitu ia melihat orang yang berada di balik tenda, dengan lantang Musa Idris berteriak, “Assuuuu!”

“Apa? Sekarang kamu memutuskan untuk kembali?” ujar Aji Saka sambil mendongkakkan kepala keluar dari tenda.





Bandung, 20 Oktober 2012

Latihan sesi Reading Lights Writer’s Circle dengan tema “kita berpisah untuk bertemu lagi”. Masih banyak logika cerita yang belum diperbaiki.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…