Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2012

TOPOS/CHAOS

"Dika, lo suka engga sama karya-karyanya?"
"Engga."
"Karena engga indah ya?"
"Iya."

Kira-kira begitulah respon Andika, teman saya sekaligus Neni, yang kala itu datang bersama-sama melihat pameran TOPOS/CHAOS karya Bambang BP. Karya dengan garis merah kekisruhan atau kacau balaunya pasir, debu, kerikil, jejak, galian, lumpur, dan lainnya yang digambar menggunakan potlot diatas kanvas tidaklah "indah" dipandang mata. Tidak warna-warni, tidak feminin layaknya bebungaan, atau mungkin tidak menimbulkan perasaan senang saat melihatnya.

Memang Bale Tonggoh Selasar Sunaryo kala itu tampak biasa saja dengan hamparan gambar yang dominasi hitam, putih, dan keabuan. Monokrom. Kecuali di sisi dalam Bale Tonggoh terdapat hamparan tanah coklat di atas papan.

Berbeda dengan Dika, saya menyukai karya-karyanya, terutama ketertarikan pada detil yang digambar oleh Bambang BP pada kasarnya tekstur tanah hingga lembutnya langit berbulan. Dimensi-dimensi ya…

Midnight Dialogue

"I understand Nazis, but that does not mean I am one of them," he said.
I replied, "Did I say that you're one of them?"
"No, but your words makes me think that way," he insisted.
"That's your perception."
"From your word."
"By your brain."
"By your intent."
"How do you know?"
"I just know."
Then I paused for his invalid answer.
He continued, "What? Do you want me to argue you like (later he mentioned two guys who had close relationship with me)? I have a lot of other things to be discussed."
"Then bring it on!"


Bandung, 27 July 2012

Bravery

On the Floor

Daydreaming

Colorgasmic

Home

We have a little house outside the city. Tiny little brown house with colorful Moroccan cement tiles and bricks covered by Ficus pumila. Our wall is decorated by Agus Suwage's and Gatot Pudjiarto's artworks because they are my favorite artists. You don't like it but you compromise. Wooden furniture always be your favorite.

We have a big garden although our house is small. Our kids are running and playing cheerfully. That's my boy named Aksara Ringin Satria. He is so close to me. And that's your daughter. You put her a beautiful name. She is so close to you too. Yes, we are Freudian. My cupboard filled by his books.

A mesmerize scenery is what we see in every morning. The weather is very chill so we can see a misty hill. In every morning, we brew some coffee or tea. You like the light one, I like the heavy one. I have a cat, you have a dog. Although they are so different, they get along together; like us. Sometimes we fight but it won't last.

Sweetheart, we are …

Mata Hari di Atas Canvas

Halo. Seperti yang dijanjikan bahwa saya akan datang ke pameran di Lawangwangi saat datang ke Bandung, akhirnya terlaksana juga. Andika, Marty, dan saya datang di hari Minggu (11/11) ke galeri yang terletak di Dago Giri ini. Nun jauh di atas sana. Dekat dengan surga.

Pameran kali ini berjudul Mata Hari Centhini karya Eddy Susanto. Awalnya kami membaca tulisan di tembok tentang pameran ini kemudian Andika berkata bahwa sosok Mata Hari betulan ada. Wah, saya baru tahu nih. Pengetahuan baru ini juga ditambah oleh penjelasan general manager Lawangwangi yaitu ibu Andajani Trahaju yang saat itu menemani kami lihat-lihat. Ibu Andajani menjelaskan bahwa Mata Hari adalah seorang penari perempuan kelahiran Belanda, yang menjelajah hingga Nusantara (salah satunya Semarang), yang direkrut Jerman sebagai mata-mata, kemudian ditembak mati oleh tentara Perancis. Haduh, pusiang.

Di tembok berdinding violet, terpasang dua buah gambar akrilik di atas kanvas dengan judul Kamasutra #1 dan Kamasutra #2. J…

Dilema Eksistensial Karman

Masih terngiang di ingatan bahwa Ahmad Tohari memang paling suka mengusung tema kaum-kaum miskin yang terpinggirkan. Jika belum pernah baca Kubah (1995) atau Senyum Karyamin, Ahmad Tohari menceritakan tentang kehidupan seorang ronggeng dan warga dukuh (lebih kecil dari desa) di novel Sang Penari. Ia mengajak para pembaca untuk mengetahui sisi-sisi kehidupan dari sudut pandang masyarakat kelas bawah.

Dalam novel Kubah yang saya akan bahas sekarang, saya jadi curiga bahwa Ahmad Tohari adalah seorang eksistensialis. Oke, saya ringkas dulu ya ceritanya. Kubah bercerita tentang Karman, seorang tahanan Pulau Buru, yang sudah habis masa tahanannya dan harus kembali ke tempatnya di Pegaten dengan latar belakang waktu 1935an hingga 1970an. Di sini tokoh dihadapkan dengan persoalan bagaimana ia mendapatkan posisi dirinya kembali di hadapan masyakarat yang sudah disakitinya. Awalnya Karman adalah seorang pemuda yang baik dan dicintai keluarga karena ia disekolahkan cukup tinggi oleh paman dan d…

Jejak Patung, Lukisan, dan Undangan

Hore! Akhir pekan ini saya habiskan lagi dengan jalan-jalan lihat pameran seni. Setelah postingan sebelumnya yang pergi ke empat galeri dalam dua hari, sekarang saya pergi ke tiga galeri dalam dua hari. Bedanya dengan dulu adalah saya datang dengan penuh niat, kini saya menemukan dua acara pameran seni yang kebetulan sedang diadakan. Jadi, begini ya ceritanya ...

Sudah sejak lama saya melihat kabar berita bahwa Salihara akan mengadakan pameran seni yang berjudul Uwuh Seni. Uwuh Seni merupakan karya Nasirun--seorang seniman lulusan ISI dan ia merupakan finalis Philip Morris Award 2007. Di pameran tunggal pertamanya di Salihara, ia menampilkan sekitar 1000 karya. Karyanya berupa kertas/kartu undangan bekas yang ia kumpulkan dari tahun 2008. FYI, "uwuh" artinya sampah. Undangannya ya macam-macam dari undangan pameran seni, acara ulang tahun, pertunjukkan musik, dan lainnya. Ukurannya bermacam-macam dari besar, kecil, panjang, atau lebar. Desain dan gambar yang ada di kartu unda…