Dilema Eksistensial Karman


Masih terngiang di ingatan bahwa Ahmad Tohari memang paling suka mengusung tema kaum-kaum miskin yang terpinggirkan. Jika belum pernah baca Kubah (1995) atau Senyum Karyamin, Ahmad Tohari menceritakan tentang kehidupan seorang ronggeng dan warga dukuh (lebih kecil dari desa) di novel Sang Penari. Ia mengajak para pembaca untuk mengetahui sisi-sisi kehidupan dari sudut pandang masyarakat kelas bawah.

Dalam novel Kubah yang saya akan bahas sekarang, saya jadi curiga bahwa Ahmad Tohari adalah seorang eksistensialis. Oke, saya ringkas dulu ya ceritanya. Kubah bercerita tentang Karman, seorang tahanan Pulau Buru, yang sudah habis masa tahanannya dan harus kembali ke tempatnya di Pegaten dengan latar belakang waktu 1935an hingga 1970an. Di sini tokoh dihadapkan dengan persoalan bagaimana ia mendapatkan posisi dirinya kembali di hadapan masyakarat yang sudah disakitinya. Awalnya Karman adalah seorang pemuda yang baik dan dicintai keluarga karena ia disekolahkan cukup tinggi oleh paman dan dipekerjakan dengan baik oleh Haji Bakir. Konflik timbul ketika lamaran Karman terhadap Rifah, anak perempuannya Haji Bakir, ditolak lalu Karman sakit hati. Situasi ini dimanfaatkan oleh Margo, anggota partai Komunis, untuk menghasut Karman melawan kapitalisme dan penjajahan orang-orang kaya terhadap petani yang disimbolkan oleh tokoh Haji Bakir yang memiliki kuasa terhadap sawah-sawah. Hingga akhirnya partai ditumpas, Karman menjadi buronan selama hampir sebulan lebih, ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru. Ia mengalami nasib baik ketimbang kawan-kawan komunis yang dibunuh dan mayatnya terapung-apung di sungai.

Kecurigaan saya berangkat dari cara Ahmad Tohari mendeskripsikan pengalaman Karman pertama kali keluar dari pengasingan. Ia menggambarkan jelas penghayatan diri Karman:

Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Ia selalu merasa dirinya tidak berarti, bahkan tiada. (hal. 9)

Oh, kota kabupaten ini benar-benar sudah berubah, pikirnya. Dan anehnya perubahan yang tampak merata di depan mata itu membuat Karman merasa makin terasing. Sangat jelas terasakan ada garis pemisah yang tajam antara dirinya dan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bagian dari bumi dan lingkungan yang sedang dipijaknya. Karman merasa dirinya begitu kecil; bukan apa-apa. Semut pun bukan. (hal. 7)

Bagaimana juga sepulang dari pengasingan ia merasa ada yang hilang pada dirinya. Ia ingin memperoleh bagian yang hilang itu. Bila ia dapat memberi sebuah kubah yang bagus kepada orang-orang Pegaten, ia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu! (hal. 210)

Deskripsi seperti ini bisa diambil sebagai pelajaran dalam menggambarkan inner world seseorang. Juga ciri khas dari Ahmad Tohari yang begitu detil dalam menceritakan keadaan lingkungan yang jauh dari diri tokoh, misalnya seperti binatang-binatang yang berlarian, ikan-ikan kawin di permukaan dangkal, dan lainnya yang rasanya tidak mungkin ditangkap oleh mata tokoh. Namun sayangnya, secara teknis tulisan seperti banyak banyak salah ketik atau huruf yang hilang, menghiasi buku yang masuk edisi cetakan keempat. Sebuah catatan untuk editornya.

Comments

Anonymous said…
nia, marwan itu siapa?
Nia Janiar said…
Sudah diganti. Thanks.

Popular Posts