Skip to main content

Mata Hari di Atas Canvas

Halo. Seperti yang dijanjikan bahwa saya akan datang ke pameran di Lawangwangi saat datang ke Bandung, akhirnya terlaksana juga. Andika, Marty, dan saya datang di hari Minggu (11/11) ke galeri yang terletak di Dago Giri ini. Nun jauh di atas sana. Dekat dengan surga.

Pameran kali ini berjudul Mata Hari Centhini karya Eddy Susanto. Awalnya kami membaca tulisan di tembok tentang pameran ini kemudian Andika berkata bahwa sosok Mata Hari betulan ada. Wah, saya baru tahu nih. Pengetahuan baru ini juga ditambah oleh penjelasan general manager Lawangwangi yaitu ibu Andajani Trahaju yang saat itu menemani kami lihat-lihat. Ibu Andajani menjelaskan bahwa Mata Hari adalah seorang penari perempuan kelahiran Belanda, yang menjelajah hingga Nusantara (salah satunya Semarang), yang direkrut Jerman sebagai mata-mata, kemudian ditembak mati oleh tentara Perancis. Haduh, pusiang.

Di tembok berdinding violet, terpasang dua buah gambar akrilik di atas kanvas dengan judul Kamasutra #1 dan Kamasutra #2. Jika dilihat dari kejauhan, gambarnya tampak seperti Mata Hari yang sedang duduk ala putri duyung, hanya memakai bra dan tidak mengenakan celana dalam. Saat melihat dari dekat, ya ampun.. ada aksara Hindi yang melingkar dengan pusat lingkaran di selangkangan lalu meluas hingga sisi canvas. Apalagi Bu Andajani menerangkan bahwa aksara tersebut membuat sebuah cerita! Lalu kejutan tidak berakhir di situ karena perbedaan dua gambar tersebut adalah: Kamasutra #1 dibuat dengan mencetak aksara Hindi terlebih dahulu lalu Mata Hari digambar di atasnya dan Kamasutra #2 dibuat dengan menggambar Mata Hari dan aksara Hindi dicetak di atasnya.

Whoa. Ini dia detilnya:

Kamasutra #1 dan Kamasutra #2 oleh Eddy Susanto, Lawangwangi, 2012

Detil Kamasutra #2 

Lanjut ke ruangan selanjutnya, terdapat sembilan buah gambar Mata Hari yang berpose sembilan gerakan tarian atas tafsir Centhini. Berbeda dengan gambar sebelumnya dengan aksara Hindi, kesembilan gambar ini berlapis aksara Jawa. Menurut Bu Andajani, Mata Hari, Kamasutra, dan Centhini merupakan sebuah satu elemen karena sama-sama memberi pandangan tentang perempuan. Selain tarian, kesembilan gambar tersebut menggambarkan sembilan watak manusia. Tubuh ideal, daya tarik seks yang sensual, dan watak yang mulia tercermin dalam bait-bait tembang Jawa--yang dihadirkan dalam pameran Mata Hari Centhini ini.

Ini adalah foto-foto iseng saya dan teman-teman yang konon gambar yang kami pilih mewakili alter ego kami. Hehe:


Marty dan alter ego-nya

Saya dan alter ego saya

Andika dan alter ego-nya
Saya senang menghadiri pameran Eddy Susanto ini karena eksekusinya begitu rapi dan terasa tema, tujuan, dan benang merah setiap karyanya. Tidak sabar untuk melihat pameran selanjutnya. Selain itu Mata Hari terlihat cantik dan begitu sensual sekaligus berbahaya. Femme fatale.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…