Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2012

Ketidakpastian

Kupikir kapal yang kadang terombang-ambing ini akan cukup kuat dan sampai hingga tujuan. Nyatanya tidak, ia tenggelam di tengah jalan. Tanpa adegan tertabrak gunung es, tanpa ada keluhan bocor, tanpa aba-aba ... ia tenggelam begitu saja. Oleh kapten, para anak buah kapal disuruh berlari ke sekoci sesegera mungkin tanpa simulasi. Dan bahkan, setelah dicari, sekoci tidak pernah ada.

Zona nyaman yang dibangun itu hilang mendadak--seiring rencana tentang masa depan masing-masing anak buah kapal, membawa ke perasaan khawatir. Rencana berlabuh dan bersenang-senang dengan anak istri, atau sekedar jalan-jalan di kota yang akan disambangi, atau tabungan-tabungan yang akan disimpan hingga tua juga tenggelam seiring hilangnya kapal. Kini kapal tinggal seperempatnya, sementara mereka terapung sambil berpegangan dengan apa yang bisa dipegang untuk sementara. Terpisah-pisah. Sendirian.

Lagi-lagi ketidakpastian melanda: mau kemana 'kah ombak akan membawa?

Gajah dan Naga

Akhirnya impian saya datang ke klenteng di Jl. Klenteng dan vihara di Jl. Vihara, Bandung, tercapai juga. Saat Komunitas Aleut! mengagendakan jalan di kawasan Pecinan, saya buru-buru bertanya ke fasilitator, Reza, apakah kita akan pergi ke klenteng dan vihara. Reza menjawab iya. Saya senang bukan kepalang.

Pecinan Bandung bukanlah destinasi baru buat saya. Tahun lalu, saya dan teman-teman sudah pernah ngaleut ke Pecinan (untuk melihat tulisannya, sila klik ini, sayangnya gambarnya pada hilang.) Hal terbaru yang saya dapat saat itu adalah bersama-sama melewati daerah Saritem untuk tembus ke Jl. Klenteng dan Jl. Vihara.

Kami sampai di Vihara Tanda Bhakti dan menyempatkan lihat-lihat ke dalam vihara. Peletakan batu pertama Vihara Tanda Bhakti ini dilakukan pada 28 Februari 1979 kemudian diresmikan pada 22 Maret 1981. Di pelataran vihara, kami membahas perbedaan vihara dan klenteng. Singkatnya, umat yang beribadah di vihara menyembah Buddha sementara umat yang beribadah di klenteng menyem…

Objektifikasi Subjek

Awalnya saya bukan penggemar karya video yang ada di pameran seni. Contohnya spesifiknya adalah salah satu video yang pernah hadir di pameran "Jakarta 32°C" pada bulan Agustus lalu di Galeri Nasional Jakarta. Video itu memperlihatkan seseorang yang berlari melintas apapun yang menghalangi ketika ia melewati trotoar. Orang tersebut naik ke atas mobil, meloncati motor, melampaui pot bunga, dan lainnya. Atau "Ereksi MLM" karya Indra Komara Nugraha yang ditamplikan video permainan ular dengan latar belakang suara orang yang sedang mempersuasi ala MLM. Idenya menarik dan nyata, tapi bagi saya ... tidak indah saja.

Tapi pameran "Tatapan (tak Terlihat)" karya Muhammad Akbar di Selasar Sunaryo ini berbeda. Eksekusinya begitu rapi dan bisa dinikmati. Misalnya seri portrait dimana ada video tiga orang perempuan beda profesi yaitu polisi, pramugari, dan bank teller yang sedang tersenyum selama 10 menit lamanya sehingga pengunjung bisa melihat ekspresi muka aneh sepe…

Pecahan Kepala Boneka

Saat berkunjung ke Lawangwangi untuk melihat pameran Mella Jaarsma, saya dan Dika melihat pamflet pameran yang diadakan di Platform 3. Secara spontan, kami memutuskan untuk pergi ke galeri yang berada di Jl. Cigadung Raya Tengah No. 40, Bandung. Tempatnya agak terpencil dari jalan utama, namun papan nama galeri bisa terlihat jelas di antara himpitan rumah warga.

Begitu masuk, kami bertemu dengan Mbak Herra--pengurus dari galeri s.14. Ia mengenalkan kami ke beberapa temannya yang saat itu sedang berdiri di ambang pintu. Dengan agak canggung, kami masuk ke dalam galeri. "Silakan direspon," kata Mbak Herra. Saat masuk, saya hanya melihat hamparan pecahan keramik putih dan merah muda di tengah ruangan yang tidak beraturan. Apa ini? Pecahan-pecahan tersebut berada di sebuah alas putih namun banyak juga yang keluar dari batas alas tersebut.


Rupanya pameran berjudul "Chance" karya Marco Cassani--seorang seniman dari Milan yang lahir pada tahun 1981--ini mulanya bukanlah p…

Faux médicaments

Pemeran seni dengan tema obat-obatan palsu yang menjadi fenomena dan berbahaya bagi pemakainya rasanya baru saya dengar. Pameran yang kali pertama saya datangi ini menghadirkan 20 seniman dari berbagai negara yaitu Kamboja, Indonesia, Laos, Thailand, dan Vietnam. Mereka semua memberikan perspektif tentang fenomena tersebut dan menuangkanya melalui karya dari foto, lukisan, hingga kolase.

Pameran ini diselenggarakan oleh IFI yang bekerja sama dengan Galeri Soemardja, Bandung, hingga tanggal 22 Desember. Beruntung bisa melihat pameran ini karena bisa melihat karya seniman dari luar Indonesia sehingga mungkin sedikit banyak bisa mengetahui gaya atau rasa karya seniman negara tetangga. Aduh, kalimatnya njlimet. Ya, kira-kira begitu.

Berikut saya tampilkan beberapa karya, sisanya ada di-Facebook saya (bukan promosi):





Dari contoh beberapa karya di atas, ada beberapa yang tidak saya sukai karena bentuknya seperti poster kampanye atau poster film yang akan tampil di bioskop yang dicat ulang m…

Kamar

Ruangan sebesar 3.5 x 3.5 meter itu cukuplah jadi rumah saya, tempat paling personal dan paling inti dalam diri. Yang lain bisa dijajah, diduduki, dan dikuasai, tapi tolong tinggalkan satu ruangan kecil agar diri bisa sebebas-bebasnya berekspresi--terutama untuk hal yang paling malas, menjijikan, dan memalukan jika dilihat orang lain. Tempat di mana diri bisa berkubang hingga bau, tinggal dengan nyaman di atas pecahan kapal, dan ... ambil jeda dari dunia.

Kamar saya bukan mushola, tempat transit, juga bukan tempat penitipan barang. Dia juga bukan ruang tamu di mana semua tamu bisa masuk dan mengobrol, dia juga bukan klien psikolog yang bisa diobservasi tiap detilnya, apalagi dia bukan pacar yang bisa kamu pegang-pegang. Kamu boleh masuk jika diundang.

Juga kasur itu. Kasur itu bukan pelacur yang bisa kamu tiduri sembarangan. Jamban itu bukan toilet umum yang kamu kencingi lalu keluar dengan cap terima kasih. Apalagi secara keseluruhan, ruangan ini bukan manusia untuk kamu kritik masal…

#7: Menyambangi Erasmus Huis

Rupanya selain festival film Perancis, ada movie screening yang berjudul Europe on Screen. Kabar ini datang dari teman sepermonyetan, Indra Permadi, yang mengajak nonton film The Heineken Kidnapping di Erasmus Huis yang terletak di Rasuna Said. Proses janjian sudah memakan waktu karena monyet pikir kedutaan Belanda itu terletak setelah Pasar Festival Kuningan (dari arah Mampang berdasarkan peta), namun ternyata begitu dekat dari halte transit Kuningan Timur, sehingga mereka harus bolak-balik. Syukurlah tidak terlambat. Lagipula acara tidak tepat waktu. Dan terlalu banyak sambutan.

Masuk ke kedutaan itu harus mengantri, layaknya muda-mudi yang ingin masuk ke klub, lalu tas diperiksa dan melewati pemindai. Saat si monyet lewat, pemindainya berbunyi. Satpam pria langsung mengarahkan pemindai portable ke badan. Pemindai semakin berbunyi ketika sampai di saku celana. "Bisa dikeluarkan?" tanyanya. Si monyet mengeluarkan handphone. Setelah itu ia memindai lagi. Aman.

Entah ada kej…

Halo, Mak Cik!

Di sebuah Rabu yang sedikit hectic, akhirnya saya bertemu dengan Andes, sahabat saya dari kuliah, yang sudah beberapa hari sampai di Indonesia. Awalnya saya minta akhir pekan, namun ia tidak bisa karena mau bulan madu ke Korea. Entah bulan madu kedua atau bulan madu yang tertunda. Hehe. Dalam rangka liburan sekolah kedua anaknya, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bertemu sanak famili dan teman-temannya. Di tengah jadwal silahturahmi yang padat, ia menyempatkan bertemu dengan saya di Kalibata City.

Beberapa bulan setelah kelulusan pun saya beberapa kali pergi ke Jakarta sendirian hanya untuk main ke rumahnya. Ia pun beberapa kali datang ke Bandung bersama keluarganya dan kami menyempatkan untuk bertemu. Saat saya mulai bekerja di Jakarta, sayangnya Nde (panggilan akrabnya) harus ikut suaminya ke Tawau--sebuah kota kecil di Malaysia. Kepergiannya sangat disayangkan mengingat Nde adalah satu-satunya orang yang dekat dengan saya di ibukota, lalu saya jadi sendirian. Kami hanya berhubu…

#6: Terkapitalisasi

Halo, lama tak jumpa dengan si monyet yang sedang menjelajah rimba Jakarta. Maklum, kemarin ia sempat sibuk mengerjakan tugas kemonyetannya antara cagar alamnya di Bandung dan rimbanya hutan beton di Jakarta serta menjelajah hutan bakau Segara Anakan dan cagar alam Nusakambangan.

Perlu diakui bahwa lagaknya si monyet memang sudah fancy. Belakangan ia milih-milih makanan yang mahal, ingin di tempat yang bagus--bahkan untuk sekedar ngopi, makan makanan ringan yang tidak mengenyangkan namun harganya sudah seperti makan berat sambil mengobrol dengan teman-temannya, dan seterusnya. Tidak hanya di Jakarta, di Bandung pun demikian adanya. Kalau ada teman yang ingin main, ia akan mengajak makan di suatu tempat ketimbang rumah sendiri. Diajaknya ke tempat-tempat makanan yang bisa menghabiskan Rp. 100.000 per orang, eksplorasi makanan mahal (setara kelas menengah ke atas) yang belum pernah dikecapnya. Kalau uangnya sedang menipis, komprominya adalah makan di tempat yang agak murah namun tetap