#6: Terkapitalisasi


Halo, lama tak jumpa dengan si monyet yang sedang menjelajah rimba Jakarta. Maklum, kemarin ia sempat sibuk mengerjakan tugas kemonyetannya antara cagar alamnya di Bandung dan rimbanya hutan beton di Jakarta serta menjelajah hutan bakau Segara Anakan dan cagar alam Nusakambangan.

Perlu diakui bahwa lagaknya si monyet memang sudah fancy. Belakangan ia milih-milih makanan yang mahal, ingin di tempat yang bagus--bahkan untuk sekedar ngopi, makan makanan ringan yang tidak mengenyangkan namun harganya sudah seperti makan berat sambil mengobrol dengan teman-temannya, dan seterusnya. Tidak hanya di Jakarta, di Bandung pun demikian adanya. Kalau ada teman yang ingin main, ia akan mengajak makan di suatu tempat ketimbang rumah sendiri. Diajaknya ke tempat-tempat makanan yang bisa menghabiskan Rp. 100.000 per orang, eksplorasi makanan mahal (setara kelas menengah ke atas) yang belum pernah dikecapnya. Kalau uangnya sedang menipis, komprominya adalah makan di tempat yang agak murah namun tetap cozy.

Ia jadi berpikir bahwa ada untungnya kebiasaan ini hadir saat ia sudah punya penghasilan sendiri. Artinya, ia menghabiskan uangnya sendiri dan menanggung sendiri akibatnya. Karena sepertinya budaya makan-makan cantik di tempat fancy baru hadir di tahun-tahun belakangan (saat tempat makan semakin merebak) dan dikonsumsi oleh anak muda. Si monyet sering melihat kaum pelajar dan mahasiswa yang makan cake dan kopi yang mungkin menghabiskan sekitar Rp. 50.000. Bayangkan jika mereka masih meminta uang ke orang tua, kasihan sekali jika orang tua harus diperas untuk gegayaan. Mungkin orang tua mereka mampu. Tapi orang tua monyet tidak. Mungkin saat itu monyet akan gigit jari saja.

Di dekat tempatnya tinggal, ada sebuah pusat perbelanjaan--semacam pusat grosir dan eceran yang menjual baju-baju tipis, berantakan, dan murah--tentunya ditujukan untuk kalangan kelas menengah ke bawah. Tempat ini juga penuh dengan monyet-monyet yang berpesta pora berbelanja terutama di awal bulan dan akhir pekan. Mereka bersenang-senang menurut golongan dan kemampuannya. Makanan fancy pun ada seperti roti dan donat yang mahal, itu pun tetap laku dan penuh. Ayam goreng mahal itu tidak pernah kosong meski becek sehabis hujan dan terkesan kumuh. Barang abal-abalan seperti tas palsu dan sepatu buaya KW sekian juga tetap diburu.

Wogh.

Selamat datang di hutan dimana para rajanya mengambil keuntungnya sebanyak-banyaknya di lahan basah karena penghuni hutannya doyan membeli apa yang dijual. Sayangnya, si monyet juga termasuk. Ia sah terkapitalisasi.

Comments

Popular Posts