#7: Menyambangi Erasmus Huis


Rupanya selain festival film Perancis, ada movie screening yang berjudul Europe on Screen. Kabar ini datang dari teman sepermonyetan, Indra Permadi, yang mengajak nonton film The Heineken Kidnapping di Erasmus Huis yang terletak di Rasuna Said. Proses janjian sudah memakan waktu karena monyet pikir kedutaan Belanda itu terletak setelah Pasar Festival Kuningan (dari arah Mampang berdasarkan peta), namun ternyata begitu dekat dari halte transit Kuningan Timur, sehingga mereka harus bolak-balik. Syukurlah tidak terlambat. Lagipula acara tidak tepat waktu. Dan terlalu banyak sambutan.

Masuk ke kedutaan itu harus mengantri, layaknya muda-mudi yang ingin masuk ke klub, lalu tas diperiksa dan melewati pemindai. Saat si monyet lewat, pemindainya berbunyi. Satpam pria langsung mengarahkan pemindai portable ke badan. Pemindai semakin berbunyi ketika sampai di saku celana. "Bisa dikeluarkan?" tanyanya. Si monyet mengeluarkan handphone. Setelah itu ia memindai lagi. Aman.

Entah ada kejadian apa namun ada seorang bekantan tua marah-marah karena tidak boleh masuk. "Memalukan, saya tidak pernah diperlakukan tidak boleh masuk seperti ini!" ujar dia sambil sibuk menghubungi seseorang di handphone-nya.

Rupanya sudah banyak yang hadir di Erasmus Huis, rerata kalangan menengah ke atas dan kaum ekspat, atau kalangan suka-suka ingin mencari bule. Di sana juga banyak antrian yang membikin si monyet dan temannya latah antri padahal tidak tahu apa yang diantrikan. Akhirnya setelah bertanya, antrian yang awalnya mereka singgahi itu adalah antrian movie screening untuk undangan sementara pengunjung umum silakan ... *lalu orang yang mereka tanya menunjuk kursi-kursi dan tenda dengan menunjukkan rasa tidak enak* nonton ala layar tancap.

Oh, oke. Indra sudah sengit saja dan mengingat-ingat luka lama. Ia berkata, "Kalau pribumi engga boleh masuk ya? Kayaknya mereka pas rapat bilang gini: Naah, pribumi kan suka tuh layar tancep, gimana kalau mereka di luar saja. Haha. Saya ini berlebihan atau gimana sih?" Si monyet ketawa saja. Tipikal Indra. Jadi teringat pengumuman Verbodden voor Honder en irlander yang artinya “dilarang masuk bagi anjing dan pribumi” di Bioscoop Majestic pada masa Hindia Belanda.

Tempat duduk sudah penuh. Akhirnya mereka memutuskan membopong kursi taman untuk dibawa ke kerumunan. Karena kursi tamannya muat untuk empat orang, sementara mereka hanya berdua, lalu datang dua monyet betina bertanya apakah kursi ini kosong atau tidak. "Kosong," ujar si monyet tanpa begeser. Saat sudah bergeser, Indra berkata, "Bilang kosong tapi engga geser. Nia sekali." Lalu si monyet bercanda, "Padahal sekalian bilang, Keliatannya bagaimana? Kosong apa tidak? ya?"

Haha.

Film yang berdurasi sekitar 122 menit ini berkisah tentang Alfred Heineken yang diculik oleh sekelompok anak muda. Sebenernya si Alfred Heineken ini tidak diperlakukan apa-apa selain dikurung di kamar untuk menunggu kucuran dana perasan. Namun si Rem, anak dari ayah yang pernah dipecat setelah kerja 20 tahun di perusahaan Heineken, tidak sabar betul ketika Heineken mencoba bernegosisasi. Lantas ia memasukkan kepala Heineken ke dalam toilet. Berkali-kali. Sayangnya mata hijau dan perawakan Rem diingat benar oleh Heineken sehingga ia menginginkan perburuan yang berbeda untuk anak muda tersebut.

Pada intinya sih mereka tertangkap. Akhir ceritanya--setelah ditunggu lama--cukup klimaks dimana Rem kira-kira berkata, "Saya akan keluar sekitar 8 - 10 tahun. Mungkin akan ada orang yang seperti saya (yang akan menculik kamu). Tapi selamanya kamu akan ketakutan dan terus melihat ke belakang."

Film besutan Maarten Treurniet ini sebetulnya bagus, hanya si monyet sih kurang suka. Berbeda dengan Indra. Apalagi monyet engga fokus nontonnya karena cemas memikirkan cara pulang. Takut enggak kebagian busway. Duh, maklum, kandangnya di ujung rimba.

Saat berada di Halte Kuningan Barat, untungnya ada seorang monyet betina lainnya. Si monyet mulai khawatir karena waktu menunjukkan pk. 23:00 sementara busway belum juga datang. Ia tanya ke monyet tersebut apakah pernah pulang semalam ini dan masih kebagian busway, yang ditanya menjawab belum pernah. Waduh. Setelah basa-basi, akhirnya diketahui bahwa ia bekerja sebagai kasir Lawson yang ada di Kuningan. Dia pulang malam karena kebagian shift malam.

Si monyet betina ini perawakannya kecil sehingga tangannya tidak bisa menggapai pegangan busway yang saat itu sudah habis--hanya menyisakan palang yang tinggi. Karena bingung, si monyet menawarkan teman barunya itu agar bisa pegangan tas monyet. Sepanjang perjalanan, ia bersyukur juga bisa pulang bersama monyet-monyet betina lain yang pulang semalam itu. Oh, Jakarta. Rengkuhlah mereka dengan aman selagi malam merayap pelan-pelan.

Comments

Andika said…
Seru banget! :D
Nia Janiar said…
Masa iya, Dik? :D

Popular Posts