Skip to main content

Halo, Mak Cik!


Di sebuah Rabu yang sedikit hectic, akhirnya saya bertemu dengan Andes, sahabat saya dari kuliah, yang sudah beberapa hari sampai di Indonesia. Awalnya saya minta akhir pekan, namun ia tidak bisa karena mau bulan madu ke Korea. Entah bulan madu kedua atau bulan madu yang tertunda. Hehe. Dalam rangka liburan sekolah kedua anaknya, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bertemu sanak famili dan teman-temannya. Di tengah jadwal silahturahmi yang padat, ia menyempatkan bertemu dengan saya di Kalibata City.

Beberapa bulan setelah kelulusan pun saya beberapa kali pergi ke Jakarta sendirian hanya untuk main ke rumahnya. Ia pun beberapa kali datang ke Bandung bersama keluarganya dan kami menyempatkan untuk bertemu. Saat saya mulai bekerja di Jakarta, sayangnya Nde (panggilan akrabnya) harus ikut suaminya ke Tawau--sebuah kota kecil di Malaysia. Kepergiannya sangat disayangkan mengingat Nde adalah satu-satunya orang yang dekat dengan saya di ibukota, lalu saya jadi sendirian. Kami hanya berhubungan lewat social media saja.

Saat pertemuan kemarin, Nde bercerita tentang kisahnya di Tawau. Tawau merupakan sebuah kota kecil yang bisa dicapai sekitar 8 jam dari Kinabalu. Ia memperlihatkan video perjalanan menuju Tawau yang ada di tablet-nya yaitu sisi kanan dan kiri jalan masih penuh dengan pepohonan (seperti perjalanan ke luar kota yang masih terpencil). Di sana banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di kebun kelapa sawit. Biasanya mereka membangun pemukiman di tengah ladang, berkembang biak hingga anak-anaknya lahir dan bekerja sebagai pemetik kelapa, bahkan saking entah nyaman atau memang keterbatasan ... ada seorang anak yang dari kecil hingga besar tidak pernah keluar dari ladang.

Kehidupan di Tawau pasti berbeda dengan kehidupan Nde yang dari kecil di Jakarta yang begitu metropolitan, serba lengkap, dan ramai. Namun berbeda dengan Jakarta, menurut Nde, di sana lalu lintasnya teratur. Mobil akan tetap berhenti di lampu merah walau jalanannya sepi, tidak parkir sembarangan, serta ada batas kecepatan tertentu yang jika dilanggar akan tetap ketahuan karena sudah mulai pakai CCTV.

Selain itu dia juga menceritakan tentang suka dan duka sebagai pendamping suami yang harus aktif dalam organisasi. Wah, sekarang ia jauh berbeda saat masih kuliah karena awalnya dia terlihat paling santai, paling banyak tidur, dan paling mudah nangis dan homesick ingin pulang ke Jakarta. Hehe. Kini ia bersama keluarga kecilnya jauh di negeri orang, mengecap kehidupan orang dewasa dengan berbagai peran: istri, ibu, dan pekerja.

Namun selain itu dia masih Nde yang sama. Ia masih blak-blakan kalau ngomong dengan logat Betawinya yang khas yang selalu bikin saya dan Ella--sahabat kami yang berkeluarga jauh di Bengkulu sana--hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, "Ya ampun, Tum!" Selain itu sesi pertemuan pun diisi dengan sesi foto-foto kemudian ia merajuk minta agar dirinya dituliskan di blog ini. Duh ...

Pastinya nanti kami akan bertemu lagi. Lengkap. Bareng Ella. Dengan cerita yang berbeda sambil sedikit mengulang memori lama. Suatu saat. Suatu tempat.

Comments

Anonymous said…
Hihihihi...kangen :))

n_n
Nia Janiar said…
Halooo Nengnongg..

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…