Ketidakpastian


Kupikir kapal yang kadang terombang-ambing ini akan cukup kuat dan sampai hingga tujuan. Nyatanya tidak, ia tenggelam di tengah jalan. Tanpa adegan tertabrak gunung es, tanpa ada keluhan bocor, tanpa aba-aba ... ia tenggelam begitu saja. Oleh kapten, para anak buah kapal disuruh berlari ke sekoci sesegera mungkin tanpa simulasi. Dan bahkan, setelah dicari, sekoci tidak pernah ada.

Zona nyaman yang dibangun itu hilang mendadak--seiring rencana tentang masa depan masing-masing anak buah kapal, membawa ke perasaan khawatir. Rencana berlabuh dan bersenang-senang dengan anak istri, atau sekedar jalan-jalan di kota yang akan disambangi, atau tabungan-tabungan yang akan disimpan hingga tua juga tenggelam seiring hilangnya kapal. Kini kapal tinggal seperempatnya, sementara mereka terapung sambil berpegangan dengan apa yang bisa dipegang untuk sementara. Terpisah-pisah. Sendirian.

Lagi-lagi ketidakpastian melanda: mau kemana 'kah ombak akan membawa?

2 comments:

M. Lim said...

kenapa begitu sedih?

Nia Janiar said...

Mungkin karena kebutuhan engga punya waktu buat ketidakpastian, jadinya cemas dan agak sedih.