Skip to main content

Objektifikasi Subjek

Awalnya saya bukan penggemar karya video yang ada di pameran seni. Contohnya spesifiknya adalah salah satu video yang pernah hadir di pameran "Jakarta 32°C" pada bulan Agustus lalu di Galeri Nasional Jakarta. Video itu memperlihatkan seseorang yang berlari melintas apapun yang menghalangi ketika ia melewati trotoar. Orang tersebut naik ke atas mobil, meloncati motor, melampaui pot bunga, dan lainnya. Atau "Ereksi MLM" karya Indra Komara Nugraha yang ditamplikan video permainan ular dengan latar belakang suara orang yang sedang mempersuasi ala MLM. Idenya menarik dan nyata, tapi bagi saya ... tidak indah saja.

Tapi pameran "Tatapan (tak Terlihat)" karya Muhammad Akbar di Selasar Sunaryo ini berbeda. Eksekusinya begitu rapi dan bisa dinikmati. Misalnya seri portrait dimana ada video tiga orang perempuan beda profesi yaitu polisi, pramugari, dan bank teller yang sedang tersenyum selama 10 menit lamanya sehingga pengunjung bisa melihat ekspresi muka aneh seperti bibir yang kelewat bergetar, mata yang banyak berkedip dan berair, dan lainnya--hingga senyuman yang dipaksakan tidak lagi indah. Pengunjung yang tidak terlihat oleh subjek diajak untuk mengamati para perempuan sebagai objek tontonan.

Dalam karyanya, Muhammad Akbar mengangkat isu subjek yang menonton dan objek yang ditonton. Subjek yang tidak terlihat (oleh objek) menatap, mengintip, menilai, dan mengevaluasi objek yang ditonton. Namun kadang subjek bisa berperan sebagai objek tontonan atau tatapan yang selalu ada di sekitarnya. Pertanyaannya adalah bagaimana objektifikasi itu merubah subjek mengikuti atau berusaha menjadi apa yang mereka ingin lihat, berusaha mengesankan suatu yang sempurna, atau malah menjadi apa adanya saja. Objektifikasi begitu mengendalikan subjek dalam bertindak.

Jadi teringat akan Sartre: “I am seen, transparent, transfixed.

Selain itu, saya suka adalah video The Light Chaser. Video tersebut ditampilkan di ruangan yang gelap dengan proyektor bergerak keliling ruangan sehingga terlihat orang tersebut sedang menangkap cahaya betulan. Juga ada video The Trip #1 dan The Trip #2 sebesar dinding ruangan bergambar mata yang di dalamnya merefleksikan sebuah perjalanan.

Karena ini adalah pameran video, maka akan saya bagi dalam bentuk potongan rekaman pameran. Silakan menikmati:

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…