Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Merenda Cikapundung dan Pemukiman Padat

Pemanfaatan Cikapundung menjadi tema ngaleut Minggu (20/1) yang cerah itu. Berkumpul di Jl. Sumur Bandung, kami berjalan melewati Babakan Siliwangi yang kini sedang terancam keberadaannya sebagai hutan kota yang akan hilang karena rencana komersialisasi lahan. Awalnya Babakan Siliwangi disebut Lebak Gede ("lebak" artinya lembah) yang daerahnya membentang hingga kampus UNPAD di Jl. Dipatiukur. Di arah utara dari Lebak Gede, terdapat Villa Mei Ling yang merupakan saksi sejarah karena beberapa kali pernah diadakan rapat penyerahan dari Belanda ke Jepang di sana.

Nama Babakan Siliwangi mulai muncul di tahun 1950an karena munculnya sanggar-sanggar film dan teater. Dari sanggar teater tersebut, terdapat sebuah sosok yang fenomenal yaitu Nurnaningsih karena ia merupakan artis Indonesia yang telanjang di depan kamera. Jika kalian penasaran, filmnya berjudul Harimau Tjampa. Kembali kasih.

Di bawah pohon Ki Hujan, Bang Ridwan menjelaskan bahwa Ratu Juliana, ratu Belanda kala itu, ingi…

#8: Keterasingan

Jadi ceritanya dua minggu belakangan ini si monyet kembali ke Jakarta dalam durasi yang pendek-pendek karena ada urusan pendek pula di rimba Jakarta Barat. Beberapa kali menyempatkan main ke museum namun tidak bisa karena macet yang menggila (apalagi ada musibah banjir yang bikin Jakarta lumpuh). Namun untungnya, saat bermalam di kostan kawan satu spesies di dekat kantor Kompas-Gramedia, si monyet punya waktu luang untuk jalan-jalan.

Sebelum agenda jalan-jalan dimulai, charger handphonenya rusak padahal baterainya sudah menipis. Ia memutuskan untuk mengontak Niken, teman sepermainan yang juga doyan jalan-jalan, untuk bertemu. Monyet bilang tentang keperluannya untuk membeli charger, maka Niken membawa si monyet ke Sarinah karena di sana tersedia toko elektronik serba ada. Di sana ada beragam charger, USB port, dvd player, dan banyak lagi. Bahkan alat make up juga ada!

Walau tidak dapat benda yang diinginkan karena colokkan yang tidak akur, mereka pergi makan dan minum saja. Niken meng…

Menjelajah Karees - Cikudapateuh

Perjalanan bersama Komunitas Aleut! kali ini spesial karena sejak enam tahun komunitas ini berjalan, jalur yang kami lalui pada Minggu (13/1) adalah jalur pertama dan belum pernah dilalui Aleut! sebelumnya. Walau saat itu hujan gerimis kecil-kecil nan padat, semua peserta berjalan kaki dari kawasan jalan-jalan pegunungan dan berakhir di jalan-jalan bebungaan. Kedua titik atraksinya adalah kamp konsentrasi Karees dan Cikudapateuh.

Angkutan umum yang kami carter berhenti di dekat eks toko roti Valkenet yang kini sudah rata dengan tanah demi kepentingan membangun Malaka Hotel. Sekitar tahun 2011, saya sering mondar-mandir di wilayah ini dan memperhatikan betapa cantiknya dan kokohnya bangunan yang pernah berdiri di sini tanpa tahu bahwa dulunya ini adalah sebuah toko dan pabrik roti dan memasok ke Maison Bogerijen (kini Braga Permai). Sayangnya begitu sudah tahu, bangunannya sudah rata untuk keperluan komersialisasi pariwisata apalah.


Kami mengunjungi si cantik Sekolah Menengah Industri…

#housemate

Delapan bulan di Jakarta, saya tinggal bersama #housemate. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin usianya sekitar awal 30. Walau saya tinggal di kosan perempuan, kamarnya bersebelahan dengan kamar saya karena ia bukan orang lain melainkan adik/kakaknya dari mbak kos (yang juga masih muda). Saat masuk kosan pertama kali di bulan Januari 2012, mbak kos menanyakan apakah saya keberatan atau tidak dengan keberadaan laki-laki. Saya jawab tidak--lagian saya tidak mau tinggal sendirian di lantai dua.

Kehadirannya dari suara cukup menarik minat saya untuk memperhatikan. Apalagi ketika diri merasa takut, pendengaran menjadi lebih awas. Saya jadi memperhatikan langkah kaki saat ia naik tangga, buka pintu, serdawa, menyalakan keran air kamar mandi, berbicara di telepon dengan pacarnya, dan seterusnya. Saya melihat barang-barangnya, pakaiannya, dan kebiasaannya yang kadang tidak cocok dan bikin sebal. Suara dan pengamatan melalui mata yang sangat sekilas itu saya tuliskan dalam sebuah blog yang…

Hikayat Buku Harian (bag. 2)

Metri, teman kerja saya dulu, kaget ketika saya bawa buku harian ke kantor. Saat itu suasana hati saya sedang turun semenjak pagi tapi tidak ada waktu menulis, oleh karena itu saya bawa ke kantor agar bisa menulis di jam istirahat. Dengan spontan ia berkata, "Di serba zaman digital seperti ini, masih zaman nulis buku harian?" Oh, tenang, saya juga penghayat sejati era digital, tapi saya tidak akan meninggalkan yang manual. Tentu itu alasan kedua setelah alasan bahwa tidak semua hal saya bagi di blog atau social media lainnya. Buku harian khusus untuk diri (dan saya tidak berharap anak dan cucu membacanya).

Perihal buku harian ini mencuat ketika saya mengobrol dengan teman saya, Rukman, walaupun sebelumnya sudah saya tulis di sini. Dengan sukarela, saya membacakan sebagian tulisan dari buku harian yang saya tulis di awal tahun 2011. Tentu saja yang dibacakan adalah hal-hal yang tidak terlalu memalukan dan cukup pantas didengar oleh orang lain.

Setelah sesi ngobrol, saya jadi…

Dalam Bayangan

Tahun ini saya memutuskan untuk merayakan tahun baru di Bandung saja. Di rumah saja. Tidak di Dieng atau Bali seperti sebelumnya. Meski ada ajakan dari teman-teman untuk merayakan dengan bakar-bakaran atau jalan-jalan, saya sudah merencanakan dari sebulan yang lalu untuk berada di rumah. Biasanya di rumah suka ada acara tersendiri seperti makan-makan atau kumpul keluarga, tapi karena sepupu di rumah sebelah sudah pindah, maka malam kemarin sepi saja. Kecuali keponakan yang berkumpul dengan teman-temannya di bagian rumah belakang.

Keberadaan di rumah saja semakin dikuatkan saat mendengar bahwa tetangga sebelah akan mengadakan acara wayang kulit dalam rangka bagian syukuran sunatan anaknya. Acaranya diadakan dari siang hingga subuh. Wayang kulitnya sendiri baru mulai sekitar pk. 21:00. Untungnya kedua teman saya, Farida dan Andika, juga ingin nonton wayang kulit. Saat yang lain sedang nonton Agnes Monica di televisi atau konser Kahitna atau macet-macetan di Dago dan Gasibu, kami memilih…