Dalam Bayangan

Tahun ini saya memutuskan untuk merayakan tahun baru di Bandung saja. Di rumah saja. Tidak di Dieng atau Bali seperti sebelumnya. Meski ada ajakan dari teman-teman untuk merayakan dengan bakar-bakaran atau jalan-jalan, saya sudah merencanakan dari sebulan yang lalu untuk berada di rumah. Biasanya di rumah suka ada acara tersendiri seperti makan-makan atau kumpul keluarga, tapi karena sepupu di rumah sebelah sudah pindah, maka malam kemarin sepi saja. Kecuali keponakan yang berkumpul dengan teman-temannya di bagian rumah belakang.

Keberadaan di rumah saja semakin dikuatkan saat mendengar bahwa tetangga sebelah akan mengadakan acara wayang kulit dalam rangka bagian syukuran sunatan anaknya. Acaranya diadakan dari siang hingga subuh. Wayang kulitnya sendiri baru mulai sekitar pk. 21:00. Untungnya kedua teman saya, Farida dan Andika, juga ingin nonton wayang kulit. Saat yang lain sedang nonton Agnes Monica di televisi atau konser Kahitna atau macet-macetan di Dago dan Gasibu, kami memilih nonton wayang kulit. Roaming bersama.

Kami sudah berada di tempat sejak pk. 20:00. Saat itu penabuh gamelan dan sinden sudah bernyanyi namun dalang tak kunjung datang. Bergerak satu jam dari waktu kedatangan, Farida bertanya kapan biasanya acara wayang kulit dimulai kepada salah satu warga yang datang. Jawabannya adalah acara seperti ini biasanya dimulai dari pk. 22:00. Wah, kita kecepetan.


Akhirnya dalang datang dan pembawa acara memberikan sambutan dalam Bahasa Jawa. Pertunjukkan berlangsung (tentunya) dalam Bahasa Jawa. Di antara kami, hanya Andika yang orang Jawa. Kadang ia tidak mengerti karena bahasa yang dipakai adalah Bahasa Jawa halus. Tapi saat pertunjukkan wayang masuk ke ranah humor, bahasanya lebih muda dimengerti oleh Andika sehingga ia menerjemahkan pada kami berdua.

Berbeda dengan wayang golek yang tiga dimensi, wayang kulit yang tipis ini memiliki pesonanya tersendiri terutama saat dalang memainkan bayangan dari cahaya lampu yang menembus melalui wayang yang berongga dan berlekuk dengan indahnya. Apalagi saat wayangnya didekatkan pada lampu sehingga sang wayang tampak besar di kelir (layar putih di depan dalang).

Kami pikir saat pk. 24:00 datang, mereka akan menghitung mundur (dengan Bahasa Jawa) kemudian memukul gong sebagai tanda puncak tahun baru. Nyatanya adem ayem saja meski di luar sudah ribut oleh suara dentuman kembang api. Saat tahun baru sudah lewat, kami memutuskan untuk pulang duluan dan melihat kembang api dari pinggir jalan. Kembang api keluar dari tumpukkan rumah dan pohon mahoni besar, menembus kabut Bandung yang saat itu sedang dingin, berwarna-warni di langit malam.



Selamat tahun baru 2013, teman-teman dan pembaca. Kita berhasil melewati kiamat :). Meski banyak yang pesimis bahwa tahun baru tidak mengubah apapun dan masih menghadapi hal yang sama keesokan harinya, saya pikir perubahan tahun menjadi penyemangat tentang momen yang tepat untuk melakukan perubahan. 

Seperti saat melihat matahari pertama kali di pagi hari.

Comments

Popular Posts