Skip to main content

Hikayat Buku Harian (bag. 2)


Metri, teman kerja saya dulu, kaget ketika saya bawa buku harian ke kantor. Saat itu suasana hati saya sedang turun semenjak pagi tapi tidak ada waktu menulis, oleh karena itu saya bawa ke kantor agar bisa menulis di jam istirahat. Dengan spontan ia berkata, "Di serba zaman digital seperti ini, masih zaman nulis buku harian?" Oh, tenang, saya juga penghayat sejati era digital, tapi saya tidak akan meninggalkan yang manual. Tentu itu alasan kedua setelah alasan bahwa tidak semua hal saya bagi di blog atau social media lainnya. Buku harian khusus untuk diri (dan saya tidak berharap anak dan cucu membacanya).

Perihal buku harian ini mencuat ketika saya mengobrol dengan teman saya, Rukman, walaupun sebelumnya sudah saya tulis di sini. Dengan sukarela, saya membacakan sebagian tulisan dari buku harian yang saya tulis di awal tahun 2011. Tentu saja yang dibacakan adalah hal-hal yang tidak terlalu memalukan dan cukup pantas didengar oleh orang lain.

Setelah sesi ngobrol, saya jadi membongkar buku-buku yang saya miliki dan mulai membaca lagi. Rasanya malu tapi ya begitulah saya dulu. Tidak hanya buku harian, saya juga memiliki buku yang isinya karya-karya fiksi (mayoritas cerita pendek) yang saya tulis dengan semangat. Duh, sekarang malah sudah agak jarang menulis cerita pendek, apalagi sejak mengenal artikel. Jadi ingin semacam menginginkan semangat yang dulu kembali. Apalagi menulis tanpa takut.

Ini koleksi buku harian dan tulisan saya:

Buku tulisan dari SMP hingga awal kerja

Buku harian dari SD hingga sekarang

Sementara itu, saat merayakan tahun baru bersama Andika, ia mengizinkan saya melihat jurnalnya. Bisa diintip sedikit di sini:

Comments

Andika said…
Komplit geuning. Buku Harianku keluaran Mizan yang gambarnya jam beker itu gw juga pernah punya. Kalo nggak salah belinya pas pembagian rapor SD. Penerbit Mizan buka stand di sekolah. Uh, gw agak nyesel nggak nyimpen semua buku harian di satu tempat.
Nia Janiar said…
Wah, kayaknya gue juga gitu deh.. beli saat pembagian rapor (soalnya gak inget pernah beli buku diary--apalagi sama nyokap) di zaman SD. Wah, bukunya pada kemana, Dik? Gue kira lo simpen semua..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…