Skip to main content

#housemate

Delapan bulan di Jakarta, saya tinggal bersama #housemate. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin usianya sekitar awal 30. Walau saya tinggal di kosan perempuan, kamarnya bersebelahan dengan kamar saya karena ia bukan orang lain melainkan adik/kakaknya dari mbak kos (yang juga masih muda). Saat masuk kosan pertama kali di bulan Januari 2012, mbak kos menanyakan apakah saya keberatan atau tidak dengan keberadaan laki-laki. Saya jawab tidak--lagian saya tidak mau tinggal sendirian di lantai dua.

Kehadirannya dari suara cukup menarik minat saya untuk memperhatikan. Apalagi ketika diri merasa takut, pendengaran menjadi lebih awas. Saya jadi memperhatikan langkah kaki saat ia naik tangga, buka pintu, serdawa, menyalakan keran air kamar mandi, berbicara di telepon dengan pacarnya, dan seterusnya. Saya melihat barang-barangnya, pakaiannya, dan kebiasaannya yang kadang tidak cocok dan bikin sebal. Suara dan pengamatan melalui mata yang sangat sekilas itu saya tuliskan dalam sebuah blog yang khusus bercerita tentangnya. Namun blog tersebut saya tutup karena saya sebal dengan orang-orang yang kelewat usil ikut-ikut mengurusi urusan etis atau tidak menuliskan kisah seseorang tanpa diketahui orang tersebut.

Selama delapan bulan itu, obrolan kami tidak jauh dari "halo, apa kabar?", "mau berangkat kerja ya?", "wah, tumben pulang cepet" dan lainnya. #housemate tipe pria Jawa yang mudah sungkan dan tidak menatap mata lawan bicara saat mengobrol. Selain itu tampaknya ia juga tidak minat untuk melebarkan sayap obrolan walaupun saya menggebu-gebu ingin punya teman di kosan. Beberapa bulan pertama, ia bahkan tidak pernah panggil nama saya (walau ia tahu dari mbak kos). Dia mulai panggil "mbak Nia" beberapa bulan terakhir sebelum saya pindah, itu juga saya jarang berada di Jakarta.

Pindah?

Iya, saya pindah. Sekarang kantor saya sudah tidak di sana sehingga saya harus pindah kosan. Bahkan saya sudah kembali ke Bandung. Oleh karena itu, saya menuliskan hal ini sebagai cerita terakhir tentang #housemate. :)

Pada tanggal 8 Januari 2013, saya berangkat dari Bandung ke kosan untuk membereskan barang-barang. Saya sampai di kosan sekitar pk. 16:00. Begitu buka pintu, saya melihat pintu ruang tv dan pintu kamarnya terbuka. Oh, berarti ia sedang tidak bekerja (karena biasanya ia pulang sangat larut). Setelah tiga minggu ditinggalkan, akhirnya saya mendapatkan kesempatan beres-beres kamar. Untungnya debunya tidak tebal-tebal amat karena teman kantor saya sempat menginap di kamar saya. Ia juga melaporkan bahwa #housemate tidak pulang-pulang selama ia di sana.

Saya sibuk di kamar, #housemate juga. Malamnya, saya keluar untuk beli makan. Saat saya akan naik ke lantai dua, saya mendengar suaranya dari dapur rumah utama. Saat saya sedang cuci tangan di tempat cucian, dia naik ke lantai dua dan menemukan saya lalu ia berkata, "Hey, mbak Nia ..." Saya balas sapaannya. Setelah itu, saya masuk kamar dan ia menjemur pakaian. Sudah. Sekian. Itu komunikasi terakhir saya dengan #housemate karena besoknya saya pindahan ke Bandung.

Kenapa #housemate harus pakai "#" ketimbang "housemate" saja? Penceritaan tentang dia ini awalnya bermula dari gunjingan personal di Twitter untuk dibagi bersama teman-teman saja. Ternyata teman-teman saya menyambut positif. Saat saya pulang ke Bandung atau mengobrol di mana saja, mereka selalu bertanya, "#housemate apa kabarnya?" dan mereka juga mulai penasaran dengan mukanya. Tagar dibuat untuk memudahkan pencarian saat #housemate hidup di internet. Jadi, buat saya, #housemate bukanlah orang yang saya ingat-ingat ketika saya berada di kehidupan nyata karena ia hanyalah tagar di dunia maya. Dia ada, tapi dia tidak mengada di dunia saya.

Apa deh.

Oke, sekian. Cerita tentang #housemate resmi tamat di hari ini.

See you when I see you, mate! :)


Comments

Sundea said…
Nia, tau-taunya si #housemate itu agen dari luar angkasa, makanya dia harus jaga jarak dari elu supaya identitasnya nggak ketauan ...

Jengjengjeng ...
Nia Janiar said…
Haha iya. Kalo keluar kamar, dia baru deh pake topeng manusianya. Aakk.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…