Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Mengenai Amba dari Seorang Mysogyny

Bandung belakangan ini sudah tidak hujan dan udaranya panas di saat malam. Rasanya musim kini sudah masuk kemarau. Kipas angin hasil boyongan dari Jakarta pun kini terpakai.

Selama saya di Bandung (sudah hampir dua bulan) banyak waktu yang saya habiskan di rumah seperti membaca novel Amba karya Laksmi Pamuntjak dan menonton film hitam putih Casablanca, film Rusia berjudul Burnt by the Sun, dan film Harold and Maude keluaran tahun 1971.

Banyak hal yang saya akan tulis, namun karena Sophie yang masya Allah tidak sembuh-sembuh, segalanya jadi urung. Saya juga lebih sedikit menulis artikel. Padahal orang zaman dulu masih bisa menulis tanpa mesin tik dan komputer. Tapi saya 'kan orang zaman sekarang. (Cih! Rasionalisasi.)

Maka postingan kali ini saya tulis lewat handphone. Mudah-mudahan hasilnya oke.

Baik, saya akan bercerita novel yang dikasih Neni saat saya ulang tahun di bulan Januari. Novel ini saya ketahui dari Farida yang membawanya saat kami nonton wayang kulit saat tahun baru. …

Wanita Penghibur di Tengah Masyarakat Tionghoa

Ingatan tentang Ca Bau Kan kembali menyeruak ketika hari Minggu (17/2), saya menonton film ini bersama teman-teman Komunitas Aleut! Sebelum menonton filmnya, saya pernah membaca buku karya Remy Sylado dengan judul yang sama ketika masih kuliah. Karena ingatan sudah melapur dan menjadi tidak valid jika dibandingkan, saya ingin mengapresisasi Ca Bau Kan berdasarkan filmnya yang disutradarai Nia Dinata.

Jujur, keberadaan film (juga novelnya) merupakan secercah cahaya dari kejenuhan atas karya-karya sastra Indonesia yang penuh dengan latar sejarah komunis atau hal-hal yang terjadi pada Oktober 1965. Setiap baca buku ini itu dari penulis ini itu yang diganjar penghargaan ini itu, lagi-lagi saya menemukan tema yang sama sehingga jadi berpikiran apakah sejarah Indonesia hanya itu-itu saja? Rupanya komunisme menjadi tema favorit pengarang Indonesia ya.

Ca Bau Kan bercerita tentang seorang seorang perempuan bernama Tinung yang tidak berpendidikan dan terjebak dalam konstruksi masyarakat patri…

Anis dan Herman

Kisah fiktif sederhana dua orang sahabat ini dituliskan oleh Arswendo Atmowiloto tahun 1974. Anis dan Herman termanifestasi dalam sembilan cerita pendek yang menceritakan keseharian mereka bermain dan melakukan aksi nakal ala anak kecil seperti berbohong agar bisa menonton sirkus, menipu tukang makanan, mencuri tebu, dan lainnya. Meski banyak tindakan negatif yang mereka lakukan, penulis tidak mengambil hikmah layaknya cerita yang kerap muncul di lembar kerja siswa SD.

Saya mendapatkan buku tipis ini sebagai hadiah ulang tahun dari Andika. Sampul bukunya didominasi warna biru dan merah jambu--melengkapi tema hadiah "Nia, Sang Pecinta" dari sahabat saya. Awalnya saya pikir Anis adalah tokoh perempuan dan mereka adalah sepasang anak yang gemar bermain bersama. Cocok dengan tema kado cinta dari Dika. Ternyata Anis adalah laki-laki yang berwajah feminin dan mereka bersahabat. Oh, mungkin maksudnya cinta antar sahabat. Hehe.

Sebagai bahan perbandingan, saya pernah membaca tulisa…

Mengenal Buddha

Empat hari belakangan ini, di rumah saya ada seorang teman baru bernama Bas. Dia adalah seorang pria kewarganegaraan Belanda yang tinggal di Amsterdam. Pria yang berusia 22 tahun ini tidak kenal dengan keluarga kami secara langsung. Dulu kakeknya pernah main ke rumah saat usia saya masih sekitar 6 tahun. Kakek mengenal keluarga kami karena perkenalannya dengan saudara sepupu saya saat saudara saya pergi ke Belanda. Sayangnya, sang kakek sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, jadi kini keturunannya yang bergantian datang ke rumah.

Ini adalah pertama kalinya Bas ke Bandung sekaligus Indonesia. Berbekal dengan Lonely Planet, ia ngaleut sendirian. Dari semua agenda penjelajahannya solonya, kami sempat pergi bersama ke Vihara Vipassana yang terletak di Jl. Kolonel Matsuri. Awalnya ia berencana pergi ke Maribaya. Karena saya ada keperluan liputan dan tempatnya satu arah, maka saya ajak pergi bareng. Saat saya rekomendasikan vihara, ia sempat menolak karena ia sudah melihat banyak vihara …