Anis dan Herman


Kisah fiktif sederhana dua orang sahabat ini dituliskan oleh Arswendo Atmowiloto tahun 1974. Anis dan Herman termanifestasi dalam sembilan cerita pendek yang menceritakan keseharian mereka bermain dan melakukan aksi nakal ala anak kecil seperti berbohong agar bisa menonton sirkus, menipu tukang makanan, mencuri tebu, dan lainnya. Meski banyak tindakan negatif yang mereka lakukan, penulis tidak mengambil hikmah layaknya cerita yang kerap muncul di lembar kerja siswa SD.

Saya mendapatkan buku tipis ini sebagai hadiah ulang tahun dari Andika. Sampul bukunya didominasi warna biru dan merah jambu--melengkapi tema hadiah "Nia, Sang Pecinta" dari sahabat saya. Awalnya saya pikir Anis adalah tokoh perempuan dan mereka adalah sepasang anak yang gemar bermain bersama. Cocok dengan tema kado cinta dari Dika. Ternyata Anis adalah laki-laki yang berwajah feminin dan mereka bersahabat. Oh, mungkin maksudnya cinta antar sahabat. Hehe.

Sebagai bahan perbandingan, saya pernah membaca tulisan dengan tema sederhana lainnya yaitu Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Kedua buku ini sama-sama tipis dan mengangkat tema keseharian yang realistis. Namun saya lebih suka karya Ahmad Tohari karena kesan setelah membacanya timbul lebih mendalam ketimbang Anis dan Herman. Sepertinya tidak adil juga untuk dibandingkan karena Ahmad Tohari menceritakan tema yang lebih besar seperti kemiskinan, kelaparan, dan lainnya. Namun setelah membaca karya Ahmad Tohari, karya Arswendo ini seperti cemilan yang asal lewat saja di pencernaan.

Contoh kesan makanan ringan itu muncul di cerpen pertama berjudul Hadiah Seorang Kakak yang bercerita bahwa Herman dan teman-temannya mendapatkan akan mendapatkan hadiah karena kelulusan kakaknya Herman. Mereka diberikan sebuah ruangan untuk belajar serta buku kosong bergaris tiga buah, buku gambar, penggaris, dan pensil. Di akhir ceritanya dituliskan, "Sore harinya, sambil membeli papan tulis, mereka berjalan bersama-sama. Dua tahun lagi, kakak Herman akan ujian lagi, kata ayah Herman. Herman beserta kawan-kawannya mendoakan supaya dia lulus. Mereka mengharapkan hadiah selanjutnya."

Sudah. Sekian. Mengingatkan saya pada karangan berlibur ke rumah nenek.

Mungkin target pembaca buku ini ditujukan untuk siswa-siswi SD dan SMP karena kesederhanannya. Cocok dipakai para guru jika ingin mengadakan ujian pemahaman bacaan. Selain itu juga setiap cerita pendeknya dilengkapi dengan ilustrasi adegan yang dapat membantu visualisasi pembaca.

Comments

Wow tahun 70an ! pernah baca yg setipe judulnya Rusdi jeung Misnem. Cerita anak2 seru pada jamannya yg mungkin saat ini terasa garing klo dibandingin buku2nya Enid Blyton.
emh hadiah cinta nya keren, bilangin dong mau jg kado gitu dari Dika :) *ngarep
Nia Janiar said…
Wah, yang Rusdi itu karangan siapa? Tapi di luar kegaringannya, bagus gak? He.

Dikaaa, nih Ala juga mauuu.. Hihi.

Popular Posts