Mengenai Amba dari Seorang Mysogyny

Bandung belakangan ini sudah tidak hujan dan udaranya panas di saat malam. Rasanya musim kini sudah masuk kemarau. Kipas angin hasil boyongan dari Jakarta pun kini terpakai.

Selama saya di Bandung (sudah hampir dua bulan) banyak waktu yang saya habiskan di rumah seperti membaca novel Amba karya Laksmi Pamuntjak dan menonton film hitam putih Casablanca, film Rusia berjudul Burnt by the Sun, dan film Harold and Maude keluaran tahun 1971.

Banyak hal yang saya akan tulis, namun karena Sophie yang masya Allah tidak sembuh-sembuh, segalanya jadi urung. Saya juga lebih sedikit menulis artikel. Padahal orang zaman dulu masih bisa menulis tanpa mesin tik dan komputer. Tapi saya 'kan orang zaman sekarang. (Cih! Rasionalisasi.)

Maka postingan kali ini saya tulis lewat handphone. Mudah-mudahan hasilnya oke.

Baik, saya akan bercerita novel yang dikasih Neni saat saya ulang tahun di bulan Januari. Novel ini saya ketahui dari Farida yang membawanya saat kami nonton wayang kulit saat tahun baru. Kami terpukau dengan komentar dari para penulis hebat seperti Dewi Lestari, Amarzan Loebis, Sitok Srengenge, hingga Goenawan Mohamad yang berkata bahwa novel ini akan merupakan salah satu dari deretan karya terkemuka kesusastraan Indonesia. Belum lagi sosok Laksmi yang begitu cantik dengan beragam pengalaman hebat seperti menjadi salah satu juri internasional The Prince Clause Fund Award.

Novel tebal dengan sekitar 400 halaman ini berkisah tentang perjalanan hidup Amba dari ia lahir, dibesarkan di kota Kadipura, sarat kehidupan pewayangan dan banyak diceritakan Serat Cethini oleh bapaknya. Berbeda dengan adik kembarnya yang cantik, muka Amba biasa saja namun ia pintar dan kritis. Ia menolak konsep pernikahan dini dan memutuskan kuliah di Yogyakarta.

Si perempuan dan pintar ini yang konon tidak cantik-cantik amat mampu menarik para lelaki seperti Salwa (seorang pengajar di UGM dan menjadi tunangannya), Bhisma Rashad (seorang dokter lulusan Jerman yang bertemu dengan Amba saat perempuan ini menjadi tenaga sukarela di rumah sakit kecil di Kediri), Adalhard Eilers (orang asing yang menjadi pengajar Bahasa Inggris), hingga Samuel (pria yang jatuh cinta begitu saja saat Amba berada di Pulau Buru dengan usia hampir 60 tahun).

Ah, gimana yah.

Diceritakan Amba selingkuh dari tunangannya yang begitu baik dan hidupnya lurus-lurus saja, jatuh cinta dengan Bhisma yang asing dan rumit sehingga mereka bersetubuh berkali-kali sambil sesudahnya saling menceritakan masa lalu. Meski Amba yang sedari kecil merasa pintar dan tidak mau kalah, bertekuk lutut juga pada dokter muda. Bahkan ia minder karena Bhisma yang begitu berpendidikan dengan pergaulan yang luas sehingga seringkali ingin pulang ke orang tuanya dan Salwa. Duh, saya tidak suka. Apalagi ia sampai hamil akibat mani Bhisma namun Bhisma harus menghilang ke Pulau Buru akibat disangka terlibat sebagai komunis. Lalu, Amba yang beruntung ini, dinikahi si bule pengajar bahasa asing dan menerima apa adanya.

Huah.

Lalu cerita berlanjut pada perburuan Amba ke pulau pengasingan itu karena ia mendapat email bahwa Bhisma sudah meninggal. Tentu dia di sana ia bertemu Samuel yang mengagumi Amba meski ia sudah tua.

Di luar dari itu, Laksmi Pamuntjak menambahkan banyak sekali catatan sejarah yang bisa dilihat bahwa ia melakukan riset panjang kali lebar yang sebagaimana bisa terlihat di ucapan terima kasih dan daftar buku dari mana penulis mengutip beberapa kalimat. Saya mengagumi kemampuannya itu.

Kata-kata yang digunakan Laksmi Pamuntjak memang tidak indah dan mendayu-dayu seperti Dewi Lestari. Ia juga banyak menggunakan narasi ketimbang deskripsi. Ada beberapa kutipan yang saya sukai, misalnya:

"Seperti dalam kitab-kitab kuno, kadang-kadang ada kata-kata yang diucapkan begitu saja dan menjadi sakti." (hal. 276)

Saya pikir buku ini memiliki target pasarnya tersendiri. Mungkin para jurnalis atau para pecinta sejarah. Jika hanya minat pada dinamika karakter atau alur secara umum, mungkin ya komentarnya hanya seperti di atas saja.

Comments

Anonymous said…
si Penulis sepertinya terinspirasi dari Mahabarata sewaktu "episode" Bhisma dan Dewi Amba.

Episode paling tragis menurut saya, ngenes- menyukai seseorang terus terbunuh oleh orang itu dan orang itu disumpah tidak menikah dan mati oleh titisannya.

bolehbaca

Popular Posts