Mengenal Buddha

Empat hari belakangan ini, di rumah saya ada seorang teman baru bernama Bas. Dia adalah seorang pria kewarganegaraan Belanda yang tinggal di Amsterdam. Pria yang berusia 22 tahun ini tidak kenal dengan keluarga kami secara langsung. Dulu kakeknya pernah main ke rumah saat usia saya masih sekitar 6 tahun. Kakek mengenal keluarga kami karena perkenalannya dengan saudara sepupu saya saat saudara saya pergi ke Belanda. Sayangnya, sang kakek sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, jadi kini keturunannya yang bergantian datang ke rumah.

Ini adalah pertama kalinya Bas ke Bandung sekaligus Indonesia. Berbekal dengan Lonely Planet, ia ngaleut sendirian. Dari semua agenda penjelajahannya solonya, kami sempat pergi bersama ke Vihara Vipassana yang terletak di Jl. Kolonel Matsuri. Awalnya ia berencana pergi ke Maribaya. Karena saya ada keperluan liputan dan tempatnya satu arah, maka saya ajak pergi bareng. Saat saya rekomendasikan vihara, ia sempat menolak karena ia sudah melihat banyak vihara sebelumnya. Namun saat saya bilang saya akan ke sana, dia memutuskan untuk ikut.

Kami naik angkutan umum dari rumah sampai ke sana. Bas agak terkejut bagaimana 12 orang bisa masuk ke dalam satu mobil. Begitu tahu ongkosnya yang murah, dia senang sekali karena di hari pertama kedatangannya, ia pergi ke Cafe Bali dan Museum Geologi dengan menggunakan taksi. Tentu kalau taksi panggilan memiliki tarif minimum yang sangat mahal jika destinasinya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Begitu masuk ke vihara, ia senang karena ini adalah tempat peribadatan umat Buddha. Selain itu, vihara putih dengan kubah yang tinggi juga menarik hati. Setelah berkeliling dan foto-foto, saya ajak dia main ramalan yang ada di depan tempat peribadatan. Ramalannya berupa segelas koin yang sudah ditimbang lalu koin tersebut disebarkan ke kendi atau wadah yang tersebar di sekeliling vihara. Koin tersebut harus dimasukkan satu persatu hingga habis. Sisa koin atau sisa wadah akan menjadi hasil ramalan.

Hasil ramalan milik Bas menunjukkan tentang 4 kebenaran mulia. Kami bertanya kepada seorang bhikshu yang sedang membersihkan altar untuk mengetahui maksud ramalannya. Intinya, tolong koreksi jika saya salah, mereka percaya bahwa manusia dilahirkan untuk merasakan kesedihan akibat sakit, tua, dan mati. Selain itu juga manusia akan bertemu dengan orang yang tidak disukai dan ditinggalkan orang yang dikasihi. Buddha datang ke bumi untuk menyelamatkan manusia dari kesedihan tersebut.

Mereka percaya pada konsep reinkarnasi alias kehidupan yang berulang yang terjadi akibat manusia memiliki masa lalu yang buruk dan ada urusan yang belum selesai. Mereka yang mati akan pergi ke surga dan neraka hingga urusannya selesai dan dikembalikan lagi ke dunia. Oeh karena itu, Buddha datang untuk menyelamatkan manusia dengan memutus siklus reinkarnasi tersebut dengan mengajarkan perbuatan baik.

Tunggu. Ada missing link. Kalau manusia sudah baik dan pergi ke surga, bukannya misi Buddha sudah selesai? Kenapa harus terjadi reinkarnasi lagi? Pertanyaan ini timbul saat saya menulis jurnal ini. Sayangnya saya lupa bertanya kepada sang bhikshu. Adakah pembaca yang bisa meluruskan atau menjawabnya?

Sang bhikshu juga mengajarkan tentang meditasi yang dapat menjernihkan pikiran. Ia beranalogi: pikiran yang sering dipakai itu seperti kopi yang sedang diaduk. Airnya keruh. Kopi perlu didiamkan agar ampasnya mengendap dan airnya menjadi (agak) bening. Begitu juga pikiran. Pikiran juga harus didiamkan (dengan meditasi) agar menjadi jernih. Seperti air bening yang dapat dicampur dengan pewarna apapun, maka pikiran yang jernih juga bisa menerima apapun.

Intinya ramalan Bas menunjukkan tentang saran untuk melakukan perbuatan baik karena manusia tidak akan tahu kapan ia akan meninggal dan tidak akan ada yang menolong saat mereka di akhirat selain perbuatannya selama di dunia. Walau Bas tidak memiliki agama, agaknya ia setuju bahwa manusia harus berbuat baik. Dia sempat bilang, "Thank there is no afterlife because I've done many sins."

Berkunjung ke Indonesia dengan beragam agama tentunya menimbulkan pertanyaan bagi Bas seperti: "Apakah umat Buddha tidak terganggu dengan suara adzan?" yang muncul saat kami berada di atas vihara dan adzan Dzuhur berkumandang. "Adakah agama asli Indonesia?" dan "Kenapa kamu tidak pakai jilbab?" juga terlontar. Ia juga bilang bahwa di negaranya, membuat gambar atau lelucon tentang Yesus itu biasa dan tidak apa-apa karena lelucon membuat hal menjadi lebih mudah diterima. Saya paham bahwa mereka tidak menjadikan hal tersebut sesakral atau sesuci umat Islam yang tidak pernah menggambar nabinya, rasulnya, dan Tuhannya.

Mengenal Bas sekaligus bisa berpetualang bersama sungguh menyenangkan karena perbedaan budaya, kepercayaan, dan pola pikir bisa menjadi asupan pengetahuan untuk saya. Apalagi saya dapat kesempatan mengobrol dengan bhikshu-nya. Mudah-mudahan pengalaman seperti ini bisa terus berlanjut.

Comments

Andika said…
Liputan? :D
Anonymous said…
Sebenernya aku punya pengertian, pemikiran dan pendapat tersendiri soal Buddha, dan sebaiknya aku sampaikan saat diskusi (udah lama ga diskusi.hehehe :P)
udah lama juga ga komen .hahaha


_BolehBaca_
Nia Janiar said…
@Andika: Lho, iya.. untuk majalah. Ada apa?

@Tiwi: Mari..

Popular Posts