Skip to main content

Wanita Penghibur di Tengah Masyarakat Tionghoa


Ingatan tentang Ca Bau Kan kembali menyeruak ketika hari Minggu (17/2), saya menonton film ini bersama teman-teman Komunitas Aleut! Sebelum menonton filmnya, saya pernah membaca buku karya Remy Sylado dengan judul yang sama ketika masih kuliah. Karena ingatan sudah melapur dan menjadi tidak valid jika dibandingkan, saya ingin mengapresisasi Ca Bau Kan berdasarkan filmnya yang disutradarai Nia Dinata.

Jujur, keberadaan film (juga novelnya) merupakan secercah cahaya dari kejenuhan atas karya-karya sastra Indonesia yang penuh dengan latar sejarah komunis atau hal-hal yang terjadi pada Oktober 1965. Setiap baca buku ini itu dari penulis ini itu yang diganjar penghargaan ini itu, lagi-lagi saya menemukan tema yang sama sehingga jadi berpikiran apakah sejarah Indonesia hanya itu-itu saja? Rupanya komunisme menjadi tema favorit pengarang Indonesia ya.

Ca Bau Kan bercerita tentang seorang seorang perempuan bernama Tinung yang tidak berpendidikan dan terjebak dalam konstruksi masyarakat patriarki dimana segalanya dikendalikan oleh laki-laki. Ia masuk ke dalam lingkungan Tionghoa karena disuruh menjadi wanita penghibur dengan cara dibeli, kemudian dijadikan gundik, diperkosa oleh tentara Jepang, dan hingga menjadi istri seorang pengusaha tembakau keturunan Tionghoa, Tan Peng Liang, meski tidak pernah dinikahi secara resmi.

Sisanya film ini berkisah bagaimana kedatangan Tan Peng Liang ke Batavia dan timbul konflik dengan komunitas Tionghoa, boikot usaha seperti rencana pembakaran gudang tembakau, bagaimana ia hijrah ke negeri Siam dan memulai usaha penyelundupan senjata (kemudian ia membantu tentara Indonesia dengan cara memberikan bantuan senjata karena Tan Peng Liang mengaku dirinya nasionalis), kembali lagi ke Hindia Belanda dan menemukan Tinung di rumah sakit jiwa dalam keadaan terguncang akibat diperkosa saat ia menjadi jugun ianfu.

Bagi saya, cerita menjadi fokus pada Tan Peng Liang alih-alih Tinung yang seharusnya mengendalikan jalan cerita. Mengapa ia menjadi harus? Karena status Tinung sebagai ca bau kan menjadi judul dari film. Di film ini, keberadaan tokoh Tinung tidak cukup kuat seperti Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Kepasrahan pasif Tinung tanpa perjuangan berarti membikin ia tenggelam di tengah cerita. Selain itu, di akhir cerita dari film ini, tidak diceritakan bagaimana Tinung meninggal atau mengambil alternatif kuat seperti ia yang mengurus bisnis Tan Peng Liang pasca mati diracun oleh musuhnya.

Tentu, ending alternatif itu selera personal saya saja.

Di film ini diperlihatkan proses pemakaman warga Tionghoa dimana keluarga yang ditinggalkan menggunakan tudung berwarna putih seperti yang dikenakan oleh Tinung. Adegan ini mengingatkan film The Joy Luck Club--sekelompok warga Tionghoa immigran yang tinggal di Amerika yang gemar bermain mahyong. Di film tersebut juga diperlihatkan salah satu tokohnya menggunakan tudung putih yang sama seperti yang saya lihat di film Ca Bau Kan.

Setelah menonton filmnya, saya diperlihatkan video proses pembuatan Ca Bau Kan seperti riset yang panjang dan tidak main-main, keadaan bangunan dan jalanan tidak boleh sembarangan, pakaian pun disesuaikan, dan lainnya. Sungguh, di luar dari ketidakpuasan yang saya lontarkan di atas, saya kagum bahwa untuk membuat film bagus itu jelas tidak mudah.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…