Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2013

Menyambangi Dika

Saya kenal Dika sekitar tahun 2007, kalau tidak salah. Kami bertemu di sebuah klab nulis yang saat itu masih berada di Jl. Kyai Gede Utama. Bayangan tentang Dika kala itu tidak terlalu jelas. Saya hanya ingat kalau ada ia adalah orang yang soliter namun cukup aktif dalam memberikan tanggapan dalam dunia kepenulisan. Saat itu teman diskusinya yang adalah Erick dan Mirna. Ia fasih sekali dalam mengeluarkan berbagai referensi literasi, terutama buku berbahasa asing, sehingga memperkaya pendapatnya.

Pih. Tampak berlebihan. Tapi itulah Dika.

Saya sadar akan eksistensi Dika saat klab nulis sudah pindah ke sana-sini kemudian menetap di Jl. Siliwangi hingga sekarang. Saat itu kami mulai dekat. Pencetus kedekatannya tidak tahu. Tapi itu membuat saya berpikir bahwa pertemanan itu tidak diatur, tidak penuh basa-basi, atau berawal dari pernyataan "kamu mau ya jadi teman saya?" layaknya orang pacaran. Pertemanan terjadi begitu saja. Klik. Kemudian berlangsung seterusnya.

Dalam pertemanan…

Raya dan Bulan

"Bu, Bulannya ngikutin aku!" ujar Raya sambil menunjuk ke langit. Bulan penuh yang tampak bersinar putih itu bergeming di atas sana, mengikuti kemanapun Raya pergi. Kadang ia ada di belakang, kadang ia ada di samping kanan. Kadang ia juga hilang di balik gedung dan pepohonan. Walaupun Raya kesal dan mengeluh kalau Bulan yang terus mengikutinya (aku tahu ia pura-pura), ia sering mencari-cari jika Bulannya menghilang sebentar.

"Ayo, lihat jalan di depan, jangan lihat ke atas terus," ujarku sambil menggandeng tangan kecilnya. Kemudian ia hanya nurut sebentar kemudian kembali mendongkakkan kepalanya hingga aku harus menuntunnya berjalan.

"Ada yang tinggal di Bulan enggak, Bu?"

"Hmm.. ada. Namanya Nini Anteh. Dia suka menenun di Bulan."

"Menenun?"

"Menenun itu bikin benang dari kapas. Kalau benangnya dikumpulkan, nanti jadi kain. Kalau udah jadi kain, nanti bisa dibuat baju seperti yang Raya pakai ini."

"Jadi baju aku ini bu…

Aku Seperti Aku

Aku seperti aku, enggak apa-apa, ya? Aku enggak bisa seperti dia yang imajinatif, seperti dia yang pintar, seperti dia yang ramah, atau seperti dia yang selalu melontarkan kalimat-kalimat lucu. Aku hanya bisa seperti aku yang kadang murung dan sinis saja.

Aku seperti aku saja enggak masalah, 'kan, ya? Pengetahuanku terbatas, aku tidak tahu semua buku atau film yang kalian bicarakan, sehingga kadang tergopoh-gopoh mengikuti alur kalian. Aku tidak keren-keren amat, seleraku tidak canggih, dan tidak edgy. Aku hanya bisa seperti aku yang nulis hal-hal kecil yang personal--yang seringnya tidak penting saja.

Aku seperti aku, jangan bikin kamu hilang feeling, ya? Aku enggak sesabar dia, tidak semendukung dia, tidak pula bisa lugas mengatakan apa yang dirasakan. Aku malah lebih rewel, lebih banyak minta ini itu, lebih ingin didengar ketimbang mendengar. Aku hanya bisa aku yang tidak bisa menenangkan saja.

Aku seperti aku. Tapi kamu jangan pergi, ya?

Persepolis

Pada kisaran awal 2009, saya membaca sebuah komik berjudul Persepolis. Walaupun berbentuk komik, buku yang berwarna hitam putih ini tidak ditujukan untuk anak-anak. Persepolis adalah sebuah autobiografi Marjane Satrapi yang tumbuh saat revolusi Iran sedang terjadi di sekitar tahun 1970an. Selama konflik terjadi, ia banyak melihat keluarganya yang dipenjara dan orang-orang sekitarnya yang meninggal.

Empat tahun kemudian, saya baru nonton Persepolis versi filmnya. Jujur saja saya lupa dengan cerita yang pernah saya baca di komik (buku mana sih yang tidak lupa jalan ceritanya) sehingga saya menikmati saat menonton filmnya. Filmnya sama seperti komiknya yaitu didominasi warna hitam dan putih. Meski begitu, ceritanya tidak membosankan karena Marji, panggilan dari Marjane, dan keluarganya memiliki karakteristik yang menarik.

Di film ini diceritakan bagaimana ia beranjak tumbuh dewasa dari seorang anak kecil hingga menikah dan bercerai. Walaupun fasenya bergulir, masih ada benang merah yang…

Syphon: The Science of Coffee

Jadi, saat malam minggu kemarin, saya dan Anto berencana nonton film di bioskop. Tapi karena waktunya masih lama, kami memutuskan untuk ngopi sambil duduk-duduk cantik di salah satu cafe yang ada di Ciwalk. Biasanya kopi yang kami icipi adalah kopi hitam dengan ragam asal kopi agar pengetahuan perkopian bertambah. Oleh karena itu, saya memilih Kopi Tuan. Lagipula saya mencari tempat makan semacam kopitiam karena biasanya makanan yang disajikan tidak terlalu kebarat-baratan dan pilihan kopinya banyak.

Kami duduk di salah satu sofa. Pelayan yang ramah datang menghampiri kami. Akhirnya saya memilih Aceh Gayo sementara Anto memilih Kilimanjaro. Si pelayan menawarkan apakah kopinya mau dibuat dengan cara biasa (diaduk dengan air) atau pakai teknik syphon (dicampur dengan uap air). Wah! Saya baru tahu ini ada teknik syphon. Si pelayan menjelaskan sedikit tentang teknik ini. Saya pikir ini menarik, oleh karena itu kami memilih kopi yang dibuat dengan teknik syphon.

Pelayan datang dengan mem…

#10 Fatamorgana

Sebenarnya tulisan tentang petualangan si monyet kali ini sudah lama terjadi. Yaitu kisaran minggu pertama di bulan Maret, ia melakukan tugas liputan pertama saat akhir pekan. Ia harus wawancara di sebuah tempat yang terdapat di sebuah mall besar daerah Jakarta Pusat. Sebetulnya ini adalah kali pertama ia masuk mall high end selama ia berpetualang di rimba Jakarta. Tentu saja ia terkagum-kagum dengan hal yang ia lihat.

Semua orang di sana seperti mau pergi ke pesta. Para monyet betina menggunakan gaun pendek, sepatu bertumit tinggi, rambut yang ditata rapi dan teratur, mengenakan make up, dan lainnya. Tipe gaya yang biasa monyet lihat kalau pergi ke pernikahan. Para monyet muda berjalan sambil menenteng tas belanjaan dengan merk kenamaan dunia. Monyet jadi bertanya dalam hati orang tua mereka kerja apa sampai bisa kaya raya?

Hal lain yang paling sering dilihat adalah orang tua yang mempekerjakan monyet asuh untuk menggendong anaknya sementara mereka melenggang tanpa beban sambil berg…

#9: Peralihan

Selama si monyet tinggal di Jakarta Timur tahun lalu, agaknya ia jarang lihat bintang. Langit malamnya sering suram sehingga beberapa kali ia melewatkan gerhana dan purnama. Namun saat kemarin ia mendongkak ke langit Jakarta Barat yang sedari siang sudah cerah, ia melihat bintang-bintang.

Setelah dua bulan hibernasi dan wara-wiri antara rimba dan suaka, akhirnya si monyet beralih lagi ke rimba Jakarta untuk menguras energi dan pikiran agar tidak sia-sia dan tidak jenuh pula. Kini ia bekerja di media yang terkemuka yang berafiliasi dengan stasiun tv berita nomer satu pula. Dia juga menjabat posisi yang sudah diidam-idamkan sejak dulu: menjadi reporter atau wartawan di sebuah majalah untuk menyalurkan bakatnya dalam menulis dan ketidakinginannya terus menerus di belakang layar. Ngalkahmdulillah.

Hari pertamanya tidak berjalan baik. Di kantor yang serba besar ini, ia merasa kecil dan terasing dengan cara yang tidak enak. Selain belum ada kerjaan yang bisa mengalihkan pikiran, ia juga be…