#9: Peralihan


Selama si monyet tinggal di Jakarta Timur tahun lalu, agaknya ia jarang lihat bintang. Langit malamnya sering suram sehingga beberapa kali ia melewatkan gerhana dan purnama. Namun saat kemarin ia mendongkak ke langit Jakarta Barat yang sedari siang sudah cerah, ia melihat bintang-bintang.

Setelah dua bulan hibernasi dan wara-wiri antara rimba dan suaka, akhirnya si monyet beralih lagi ke rimba Jakarta untuk menguras energi dan pikiran agar tidak sia-sia dan tidak jenuh pula. Kini ia bekerja di media yang terkemuka yang berafiliasi dengan stasiun tv berita nomer satu pula. Dia juga menjabat posisi yang sudah diidam-idamkan sejak dulu: menjadi reporter atau wartawan di sebuah majalah untuk menyalurkan bakatnya dalam menulis dan ketidakinginannya terus menerus di belakang layar. Ngalkahmdulillah.

Hari pertamanya tidak berjalan baik. Di kantor yang serba besar ini, ia merasa kecil dan terasing dengan cara yang tidak enak. Selain belum ada kerjaan yang bisa mengalihkan pikiran, ia juga belum punya teman. Tidak ada basa basi, tidak ada usaha mendekatkan diri atau ingin tahu, dan lainnya. Untungnya ia punya bekantan jantan (bekantan adalah sejenis monyet besar dengan hidung panjang) yang bisa jadi tempat menangis dan mengadu. Tsaaah. Makasih, Tan. Man. Car. Yang.

Semakin hari keadaan semakin baik. Pekerjaan mulai datang (meski belum banyak) dan hubungan pertemanan mulai cair. Kalau sebelumnya makan sendiri, sekarang sudah makan berkoloni.  Kalau sebelumnya observasi majalah, sekarang sudah bikin janji dengan narasumber, membuat list pertanyaan, koordinasi dengan fotografer, dan lainnya. Keadaan memang tidak akan selalu baik, namun semoga yang buruk jarang terjadi.

Ia bermukim tidak jauh dari kantor bersama monyet-monyet betina. Kandangnya cukup besar (mungkin karena belum banyak barang), panas dan pengap di saat siang walau sudah ada kipas angin di langit-langit kamar. Kalau malamnya panas, bangunnya akan basah. Padahal tidur sendirian. Duh. Tampaknya kipas duduk harus diboyong dari suaka. Berbeda dengan kandangnya dulu, kandangnya sekarang membuat ia menumpulkan indera mata dan telinga karena tidak ada yang menarik untuk diobservasi.

Ia juga tidak punya jadwal rutin hibernasi di suaka selama dua minggu. Apalagi ia harus legowo merelakan jadwal liburnya di Sabtu dan Minggu--jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk liputan. Ia teringat kata-kata HRDnya, "Kalau reporter itu jadwalnya harus fleksibel. Kalau kaku, nanti tulisannya juga kaku." Ya bener juga sih. Asal tidak melewati deadline saja.

Namun Sabtu dan Minggu tetap ditunggu-tunggu. Untuk menemui keluarganya, teman-temannya, dan bekantan jantannya.

Comments

Vendy said…
Curhatkah? :D
Nia Janiar said…
Gak kok, Veen. Haha.

Popular Posts