Menyambangi Dika

Saya kenal Dika sekitar tahun 2007, kalau tidak salah. Kami bertemu di sebuah klab nulis yang saat itu masih berada di Jl. Kyai Gede Utama. Bayangan tentang Dika kala itu tidak terlalu jelas. Saya hanya ingat kalau ada ia adalah orang yang soliter namun cukup aktif dalam memberikan tanggapan dalam dunia kepenulisan. Saat itu teman diskusinya yang adalah Erick dan Mirna. Ia fasih sekali dalam mengeluarkan berbagai referensi literasi, terutama buku berbahasa asing, sehingga memperkaya pendapatnya.

Pih. Tampak berlebihan. Tapi itulah Dika.

Saya sadar akan eksistensi Dika saat klab nulis sudah pindah ke sana-sini kemudian menetap di Jl. Siliwangi hingga sekarang. Saat itu kami mulai dekat. Pencetus kedekatannya tidak tahu. Tapi itu membuat saya berpikir bahwa pertemanan itu tidak diatur, tidak penuh basa-basi, atau berawal dari pernyataan "kamu mau ya jadi teman saya?" layaknya orang pacaran. Pertemanan terjadi begitu saja. Klik. Kemudian berlangsung seterusnya.

Dalam pertemanan, Dika lebih sering ke rumah saya karena rumah saya satu arah dengan kebanyakan destinasi yang ia tuju. Saya baru sadar bahwa selama enam tahun itu, saya sama sekali tidak tahu rumahnya. Tidak tahu bagaimana ia menyimpan barangnya, ruang-ruang personalnya, dan lainnya. Maka, saya dan Neni memutuskan untuk menyambangi Dika yang letaknya di Perumahan Tamansari Bukit Bandung, dekat dengan lapas Sukamiskin.

Perbekalan ngegosip

Saya dan Neni janjian di sebuah mini market yang tidak jauh dari Terminal Cicaheum. Saat itu jalan menuju Ujung Berung padat sekali, mungkin karena akhir pekan yang panjang. Saat berada di depan kompleks perumahannya, saya agak kaget karena waktu itu saya pernah ditunjukkan oleh teman lainnya jalan masuk ke rumah Dika. Dan rasanya bukan yang ini. Ini terlalu bagus! Hehe.

Dika menjemput kami dengan motornya sehingga kami pernah boncengan bertiga. Ini adalah boncengan bertiga yang kedua kalinya. Kami pernah boncengan bertiga saat pulang dari Selasar Sunaryo sampai rumah saya. Gokil! Sebelum pergi ke rumahnya, ia mengajak kami ke toko kecil untuk beli minuman dingin. Neni beli minuman isotonik, saya beli teh dalam kotak.

Setelah diantar berbelok-belok, akhirnya kami sampai di rumahnya. Wah, saya langsung senang melihat tamannya yang cukup tertata. Ada batu-batu, ada rumput yang rata, ada bunga-bunga, ada tanaman rambat di dinding. Tidak ada garasi tapi tempat mobil memiliki kanopi. Selain itu juga rumahnya tidak berpagar. Keren!



Begitu masuk, Dika pergi ke kamar dan saya langsung mengikuti. Kepo banget ingin tahu kamarnya. Wah, ternyata kamarnya rapi sekali. Saya bilang, "Ini rapi gara-gara kita mau dateng ya?" terus Dika menjawab bahwa kamarnya memang biasa serapi ini. Duh, jadi malu. Kamar saya tidak serapi ini.

Di bagian depan tempat tidurnya yang pas untuk dua orang (haha), ada lemari gantung yang isinya barang-barang milik ibunya. "Ini seperti gudang karena banyak barang tidak terpakai di sini," ujar Dika. Di dalam lemari kaca itu terlihat beberapa koleksi bukunya, barang-barang pecah belah, juga frame foto. Sementara meja belajar, lemari, dan seperangkat sound system (jika tidak salah lihat) terletak di dekat pintu.

Saya dan Neni laksana dua orang yang sedang mencari rumah. Kami berkeliling untuk melihat-lihat (yang mungkin jika ada ibunya jadi tidak sopan), hal biasa yang dilakukan orang jika mereka berada di lingkungan baru. Bahkan sampai dapur saja ikut dilihat. Bahkan Neni sampai melihat tempat jemuran segala. Duh!

Meski sudah mendung, Neni menyatakan keinginannya untuk piknik di tamannya Dika. Tapi tidak jadi, kami ngobrol di ruang tamu sambil makan perbekalan, lalu ngobrol di teras, jalan-jalan di taman sebentar setelah hujan, lalu lesehan di ruang tengah sambil nonton film rated R. Haha. Karena sudah merasa nyaman, jadinya kami tiduran di karpet. Dan jika Dika tidak membawa netbook dan memperlihatkan koleksi lagunya, mungkin saya sudah jatuh tertidur. Apalagi hujan di luar suaranya begitu melenakan.

Dika menawarkan minum ini itu tapi kami tolak. Kasihan, nanti ia direpotkan. Setelah maghrib dengan hujan turun sedikit, kami memutuskan pulang sambil berboncengan bertiga sampai depan kompleks. Neni pegang  payung. Setelah sampai di depan kompleks, saya dan Neni kembali ke angkot putih yang membawa saya ke Jalan Riau, dekat dengan rumah.


Terima kasih, Dika, atas hospitality-nya. Kayaknya lain kali giliran kosannya Neni yang juga belum pernah disambangi.

Comments

Neni said…
Boleh,next time ke kostan saya. Tapi FYI laki-laki dilarang masuk...
Jadi dika cuma blh smp ruang tamu, hahha...
Nia Janiar said…
Hahaha.. ya udah deh, makan2 di sana aja sambil diliatin yang lain. Hee.
Haha
tapi sayangnya, tu kamar gak ada fotonya, jadi pengen tahu serapi apa tu kamar :)
Nia Janiar said…
Pretty neat :)

Popular Posts