Skip to main content

Persepolis


Pada kisaran awal 2009, saya membaca sebuah komik berjudul Persepolis. Walaupun berbentuk komik, buku yang berwarna hitam putih ini tidak ditujukan untuk anak-anak. Persepolis adalah sebuah autobiografi Marjane Satrapi yang tumbuh saat revolusi Iran sedang terjadi di sekitar tahun 1970an. Selama konflik terjadi, ia banyak melihat keluarganya yang dipenjara dan orang-orang sekitarnya yang meninggal.

Empat tahun kemudian, saya baru nonton Persepolis versi filmnya. Jujur saja saya lupa dengan cerita yang pernah saya baca di komik (buku mana sih yang tidak lupa jalan ceritanya) sehingga saya menikmati saat menonton filmnya. Filmnya sama seperti komiknya yaitu didominasi warna hitam dan putih. Meski begitu, ceritanya tidak membosankan karena Marji, panggilan dari Marjane, dan keluarganya memiliki karakteristik yang menarik.

Di film ini diceritakan bagaimana ia beranjak tumbuh dewasa dari seorang anak kecil hingga menikah dan bercerai. Walaupun fasenya bergulir, masih ada benang merah yang sama dari karakteristiknya yaitu ia selalu memperjuangkan apa yang ia percaya. Misalnya saat kuliah seni, ia protes mengapa model harus mengenakan kerudung padahal mereka punya rambut dan bentuk tubuh yang berbeda. Setelah itu juga ia tidak suka dengan polisi moral yang mengingatkan Marji untuk tidak berlari (karena ia telat ke kampus) karena lari dapat menimbulkan gerak tubuh yang "tidak enak dilihat". Lalu kira-kira Marji membalas, "Stop staring at my ass!" dalam bahasa Prancis.

Walaupun perempuan Iran harus berkerudung, ia dan keluarganya memutuskan hanya mengenakan kain yang diikatkan ke kepalanya saja. Tidak jarang ia ditegur untuk membenarkan kerudungnya. Ibunya juga menarik dimana ia tidak menyukai pembatasan-pembatasan kebebasan yang terjadi di Iran. Adegan yang paling menarik adalah ketika ibunya ditegur oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal di depan anaknya karena penggunaan kerudung yang tidak menutupi rambut seluruhnya kemudian laki-laki tersebut kira-kira berkata, "A woman like you make me wanna fuck against the wall." Tentu ini menyakiti hati ibunya hingga ia menangis sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, ibunya lebih suka Marji tinggal di luar negeri sehingga ia dapat kebebasan di sana.

Salah satu adegan dimana Marji ditegur karena pakaian dan kerudungnya

Saya pikir buku sekaligus film ini tidak hanya bercerita bagaimana revolusi terjadi tetapi imbasnya pada orang-orang. Misalnya pasangan tidak bisa melenggang bebas di jalan karena mereka akan dicurigai, ditanya hubungan di antara mereka apa, dan ditahan jika mereka bukan suami istri. Keterbatasan ini membuat Marji menikah dengan pacarnya di usia 21 tahun. Namun akhirnya ia harus cerai karena merasa sudah tidak mencintai suaminya (yang di film terlihat acuh terhadap Marji). Saat dia curhat ke temannya, temannya bilang bahwa sebaiknya tidak bercerai karena saat perempuan menjadi janda, para laki-laki merasa bisa mengawininya karena perempuan tersebut sudah tidak perawan.

Setelah bercerai, akhirnya ia pindah ke Prancis. Bahkan ibunya meminta agar ia tidak kembali. Sayangnya kepergian Marji ke Prancis tersebut membuat ia tidak pernah melihat neneknya lagi. Tokoh nenek ini cukup kuat dimana ia digambarkan sebagai orang yang dekat dengan Marji. Kebiasaan menaruh bunga melati di dalam bra-nya agar tetap wangi membuat Marji merasa magical saat bunga-bunga tersebut berjatuhan saat sang nenek membuka bra. Selain itu, nenek juga digambarkan sebagai orang yang tidak konservatif. Ia tidak segan-segan memarahi Marji karena cucunya pura-pura tidak berdaya dengan melaporkan ke polisi moral gara-gara ada seorang pria yang menatap bokongnya.

Meski Marji digambarkan sebagai sosok yang pintar dan vocal, ia juga memiliki kelemahan. Saat ia masih SMA di Austria, ia memiliki seorang pacar dan ia mendapati pacarnya sedang tidur orang lain. Ia sangat menyesali mengapa ia begitu tergila-gila dengan pacarnya. Perasaan sakit hatinya ini membuat ia tidak mengurus dirinya dengan baik, berjalan-jalan tidak terarah di jalanan, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Pada saat itu, ia memutuskan untuk pulang ke Iran dengan satu syarat yaitu orang tuanya tidak bertanya macam-macam. Begitu sampai di Iran, Marji pun tidak serta merta pulih dari sakit hatinya. Semangatnya yang luntur membuat karakternya menjadi lebih nyata yaitu sekuat apapun seorang perempuan akan lemah jika patah hatinya.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…