Raya dan Bulan


"Bu, Bulannya ngikutin aku!" ujar Raya sambil menunjuk ke langit. Bulan penuh yang tampak bersinar putih itu bergeming di atas sana, mengikuti kemanapun Raya pergi. Kadang ia ada di belakang, kadang ia ada di samping kanan. Kadang ia juga hilang di balik gedung dan pepohonan. Walaupun Raya kesal dan mengeluh kalau Bulan yang terus mengikutinya (aku tahu ia pura-pura), ia sering mencari-cari jika Bulannya menghilang sebentar.

"Ayo, lihat jalan di depan, jangan lihat ke atas terus," ujarku sambil menggandeng tangan kecilnya. Kemudian ia hanya nurut sebentar kemudian kembali mendongkakkan kepalanya hingga aku harus menuntunnya berjalan.

"Ada yang tinggal di Bulan enggak, Bu?"

"Hmm.. ada. Namanya Nini Anteh. Dia suka menenun di Bulan."

"Menenun?"

"Menenun itu bikin benang dari kapas. Kalau benangnya dikumpulkan, nanti jadi kain. Kalau udah jadi kain, nanti bisa dibuat baju seperti yang Raya pakai ini."

"Jadi baju aku ini buatan Nini Anteh?"

Aku tertawa kecil kemudian berkata, "Enggak dong.. ibu beli baju kamu di toko."

"Kalau Nini Anteh udah tua?"

"Iya, sudah nenek-nenek. Seperti enin. Mungkin lebih tua."

"Ngapain sih Nini Anteh tinggal di Bulan?" Mulut kecilnya tidak hentinya bertanya.

"Engga tahu." Aku agak menyesali kurangnya pengetahuanku tentang dongeng sehingga harus melihat wajahnya yang penuh dengan rasa tidak puas.

"Nini Anteh merasa kesepian enggak?"

"Kayaknya enggak, soalnya dia ditemenin sama kucing. Candramawat, namanya kucingnya. Bulunya hitam."

"Wah! Kayak kucing kita ya, Bu!! Matanya kuning enggak kalau malam?"

"Sepertinya iya."

"Kalau Bulan merasa kesepian engga?"

"Kenapa Bulan harus merasa kesepian?"

"Liat deh, Bu. Itu bulannya cuman sendiri di atas. Engga ada temennya."

Pikiranku melesat ke dimensi waktu yang sudah kulewati selama tujuh tahun yang lalu, teringat bahwa si benda langit melankolis itu menjadi teman baik saat aku tersesat di hingar bingar kota besar. Setiap aku pulang kantor, ia selalu hadir di depan pintu keluar dengan beragam bentuk: sabit, separuh, atau purnama. Kalau aku jalan-jalan, aku kecewa jika ia hilang dari pengelihatan. Apalagi kalau langit mendung berkepanjangan. Namun jika cerah, dengan setia ia mengantarkan aku pulang hingga rumah kontrakan dan bertengger di atasnya hingga pagi.

Foto bulan yang kuambil pada 26 Maret 2013. Purnama.

Sering aku bercerita pada Bulan tentang apa yang terjadi sehari-hari, baik yang menyenangkan atau menyedihkan. Kalau tidak ada cerita, aku menikmati perubahannya dari waktu ke waktu sambil melihat Nini Anteh menenun benang kantih dengan tekun. Dengan setianya ia menghabiskan waktunya untuk membuat kain yang akan diberikan ke aki yang sedang menyadap di bumi dan kembali ke Bulan berteman mega.

Aku juga pernah bertanya-tanya apakah Bulan pernah merasa sepi di tengah jagat raya yang hitam layaknya selimut kelam. Lalu kupikir ia tidak pernah merasa sepi karena ia tidak punya waktu untuk merasa sepi. Karena tanpa jemu ia mengagumi keindahan bola hijau biru di depannya seperti iluminasi lampu hias. Ia puas dengan apa yang dilihatnya. Bulan jatuh cinta pada Bumi sehingga diikutinya kemana-mana. Ia berpuas selalu ada di samping Bumi tanpa memperhatikan keberadaannya.

"Bu..," ujar Raya sambil merentangkan kedua tangannya minta digendong. Berat anak yang sebentar lagi berumur lima tahun ini sudah mulai bikin pinggang pegal. Begitu sudah ada di dalam pelukan, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahuku. Malam sudah terlalu larut, waktunya ia tidur.

"Kalau ibu dan bapak sedang tidak ada, Raya ingat bulan ya. Ia tidak pernah mengajarkan rasa sepi saat sendirian."

Entah Raya dengar atau tidak.

4 comments:

Anonymous said...

Awhh suka cerita ini apalagi endingnya... kalimatnya kena! (NEni)

Nia Janiar said...

Makasih, Neniii..

reza said...

ada nini anteh! xD

Nia Janiar said...

Told yaa!