Syphon: The Science of Coffee


Jadi, saat malam minggu kemarin, saya dan Anto berencana nonton film di bioskop. Tapi karena waktunya masih lama, kami memutuskan untuk ngopi sambil duduk-duduk cantik di salah satu cafe yang ada di Ciwalk. Biasanya kopi yang kami icipi adalah kopi hitam dengan ragam asal kopi agar pengetahuan perkopian bertambah. Oleh karena itu, saya memilih Kopi Tuan. Lagipula saya mencari tempat makan semacam kopitiam karena biasanya makanan yang disajikan tidak terlalu kebarat-baratan dan pilihan kopinya banyak.

Kami duduk di salah satu sofa. Pelayan yang ramah datang menghampiri kami. Akhirnya saya memilih Aceh Gayo sementara Anto memilih Kilimanjaro. Si pelayan menawarkan apakah kopinya mau dibuat dengan cara biasa (diaduk dengan air) atau pakai teknik syphon (dicampur dengan uap air). Wah! Saya baru tahu ini ada teknik syphon. Si pelayan menjelaskan sedikit tentang teknik ini. Saya pikir ini menarik, oleh karena itu kami memilih kopi yang dibuat dengan teknik syphon.

Pelayan datang dengan membawa sebuah alat seperti gelas kimia yang biasa ada di laboratorium. Di bagian atas terdapat kopi dan di bagian bawah terdapat air. Kemudian si pelayan menyimpan sumbu dan menyalakan api. Sumbu tersebut di simpan di bawah air hingga panas dan uapnya naik sendiri ke atas dan tercampur bersama kopi. Sementara itu, si pelayan mengaduk-aduk kopinya dengan sendok plastik yang besar.

Nyalakan apinya, Bang!

Teknik syphon dari dekat

Campur sari

Aduh, pelayanannya enak sekali

Saya terkesima. Saya pikir prosesnya akan lambat (seperti coffee dripper yang kadang harus bersabar hingga tetesan terakhir jatuh ke gelas), tahunya cepat sekali. Begitu uap air sudah tercampur dengan kopi di atas, dia akan jatuh ke bawah dengan sendirinya. Tanpa ampas!

Bagian lucunya dari proses ini adalah kami dilayani dengan dua pelayan yang ramah. Sambil menunggu kopinya turun, mereka berdiri di meja kami sehingga jadinya agak canggung. Hehe. Kemudian mereka dengan sigap menuangkan kopi ke gelas kami. Rasanya seperti nonton live cooking dimana pengunjung bisa melihat proses pembuatannya. Seru juga. Pengunjung yang ada di sebelah pun sampai curi-curi pandang.

Setelah saya coba, rasa kopinya lebih lembut ketimbang kopi bakar yang kadang menambah aroma gosong. Kopi disajikan dengan gula putih dan gula merah. Kami memilih gula putih. Kalau saya lebih suka menambahkan gula merah ke cappuccino ketimbang kopi hitam agar tidak merusak rasa. Perbedaan selanjutnya saya tidak tahu karena sebenarnya tidak ngerti-ngerti amat soal kopi.

Sebelumnya sahabat saya, Andika, menyarankan sebuah tempat kopi daerah Dago yang berada di depan Darul Hikam. Bisa coba dikunjungi. Saya berencana ajak Anto ke Today’s Koffie yang konon ada adegan live cooking seperti ini juga. Mungkin di kencan selanjutnya. :)


Coffee should be black as Hell, strong as death, and sweet as love.” 
~ Turkish Proverb

Comments

Niken said…
Ditungguin pelayan... hihihi, gw tau rasanya. Di Duck King, pelayan2nya kayak sulap, tiap2 kali teh tawar di gelas menyusut, mereka langsung muncul dan menuang lagi lalu dengan cepat 'menghilang' lagi.
Nia Janiar said…
Waahh.. :))

Popular Posts