Skip to main content

#11 Lautan Grosir


Setelah sekian lama, akhirnya si monyet eksplorasi Jakarta di akhir pekan kemarin. Belakangan ini Sabtu dan Minggunya ia habiskan di kostan teman sepermonyetan yang adem di bilangan Jl. Radio, Blok M. Mana lagi pada saat itu sedang galau percintaan karena Bekantannya tidak ada kabar, oleh karena itu ia tidak mau berada di kostan sendirian. Eh, curhat.

Baiklah! Sudah lama monyet mendengar tentang Tanah Abang dan Mangga Dua ketika ia masih di suaka. Apalagi teman kostan monyet memanas-manasi "Tanah Abang itu pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara." Wogh! Walaupun si monyet bukan tukang belanja pakaian, monyet pikir tidak ada salahnya ia pergi ke sana agar rasa ingin tahunya terpenuhi. Ia memutuskan untuk bertanya ke teman kerjanya angkutan umum dari Jl. Pilar Raya ke Tanah Abang, ia direkomendasikan naik angkot KWK 09 disambung dengan M11. Saat ia akan menunggu angkot, ia lihat Kopaja 16 (atau 61) dengan tujuan Ciledug - Tanah Abang. Si Monyet tertarik dengan kopaja karena tentu harganya lebih murah. Maka, berangkatlah ia dengan kaleng rombeng berwarna hijau itu.

Ternyata kopaja itu berhenti di depan Museum Tekstil yang berada tidak jauh dari Tanah Abang. Si Monyet menyempatkan masuk dengan biaya Rp. 5.000. Di sana ia melihat beragam motif dan bahan kain Nusantara yang tidak begitu cantik dan detil. Bahkan beberapa kain tersulam dengan emas. Tidak hanya kain tenun, di sana juga terdapat beragam kain batik. Semua kain didisplay dengan representasi baik. Apalagi museum ini berada di dalam bangunan Belanda dengan pilar, langit-langit yang tinggi, serta lantai warna-warni. Juga di tengah area museum terdapat sebuah taman yang berisi tanaman-tanaman yang memberikan pewarnaan alam seperti Kesumba yang menghasilkan warna oranye atau lobi-lobi yang menghasilkan warna abu-abu.

Tidak lama di museum, ia meneruskan jalan kaki menuju Tanah Abang. Sebetulnya ia tidak tahu secara tepat letak Tanah Abang. Namun berbekal logika dan insting kepermonyetannya (apa sih) akhirnya ia sampai di Tanah Abang.

Dari kejauhan sudah terlihat banyak sekali tenda biru pedagang kaki lima yang menjual beragam pakaian. Tenda-tenda tersebut tersebar luas di luar gedung. Masuk ke dalam gedung (yang mirip seperti Pasar Baru, Bandung), ia menemukan banyak sekali kios dengan beragam pakaian. Ia hanya lihat-lihat sepintas karena tidak berniat beli apapun. Sampai akhirnya ia membeli sebuah syal warna cokelat yang murah meriah. Cocok, dia beli itu saja.

Mungkin si Monyet hanya menjamah sebagian kecil Tanah Abang. Di sana banyak sekali ibu-ibu monyet yang menenteng tas plastik besar. Mungkin untuk dikonsumsi sendiri atau dijual lagi. Dalam perjalanan di kopaja menuju pulang, ia bersebelahan dengan ibu monyet yang sedang mengamati belanjaannya yang berisi pakaian yang sebenarnya biasa-biasa aja. Si monyet jadi bertanya-tanya, "Seberapa penting sih orang butuh pakaian? Apakah mereka memang perlu atau konsumtif saja?" Pertanyaan tersebut muncul karena ia adalah tipe monyet yang baru beli baju jika sudah rusak atau belel. Jadi tidak heran jika pakaiannya itu-itu aja. Kalaupun ada yang baru, biasanya itu dikasih dari teteh monyetnya. Apalagi si Monyet tidak suka-suka amat dengan adegan tawar menawar. Rasanya ingin sekali memberi uang ke orang lain dan minta orang tersebut membelikan untuk si Monyet.

Gedung beserta refleksinya

Keesokannya, tepatnya di hari Minggu, si Monyet pergi ke Mangga Dua dengan menggunakan Busway. Mangga Dua juga sering disebut-sebut kalau orang membeli oleh-oleh atau belanja banyak di Jakarta. Awalnya dia pergi ke Mangga Dua Square yang isinya tidak sesuai yang ia harapkan karena banyak kios-kios kosong. Di lantai bawah, banyak orang-orang yang menjual dress atau baju pesta seharga ratusan ribu rupiah. Lho? Monyet kira di sini harganya murah-murah. Cocok bagi Anda yang mau pergi ke prom night atau menghadiri kawinan mantan. Di sini juga ia tidak mengeksplor lebih lanjut.

Saat akan pulang, dari kejauhan dia melihat WTC Mangga Dua. Monyet berpikir bahwa pusat perbelanjaan yang ia lihat itu adalah Mangga Dua versi murah. Saat masuk ke dalam mall, ia menemukan kios-kios kosong. Bingung, akhirnya monyet memutuskan pulang dari pergi ke Pasar Senen dan Senen Atrium Plaza.

Pasar Senen ini ibarat Gedebage-nya Bandung yang menjual pakaian bekas. Ia pernah beli beberapa pakaian di sini. Sempat ia melihat pakaian yang ia inginkan, tapi karena malas menawar, akhirnya ia pulang saja. Oh ya, di Pasar Senen bagian atas juga ada buku-buku bekas dan buku baru dengan harga yang lebih murah ketimbang toko buku. Karena ia sudah daftar buku baru yang mau ia beli, si Monyet mengurungkan niat untuk pergi ke bursa buku.

Niat hangout di tempat makan dengan akses internet sambil menikmati kopi ia urungkan. Rasanya kakinya sudah terlalu lelah. Ia memutuskan pulang dengan membawa oleh-oleh foto dan sehelai syal saja. Namun ia cukup puas karena rasa ingin tahunya terbayar sudah.

Comments

Andika said…
Sepertinya elu melakukan perjalanan yang melelahkan.
Nia Janiar said…
Iya, Dikaa.. pas tiduran terus turun dari tempat tidur, rasanya kaki tak kuasa menahan berat beban badan ini. Haha.
Niken said…
Lu pergi ke Mangga Dua yang salah, Nia. Mangga Dua yang banyak baju murah2, sampai eneg dan sakit kepala melihatnya, adalah Mal Mangga Dua. Bukan Mangga Dua Square ataupun WTC Mangga Dua. Kalo mau ke Mal Mangga Dua, kalo beneran mau sih ya, yang paling gampang (dan enak) adalah naik busway sampai shelter Kota, keluar melalui pintu yang tembus ke Stasiun Kota, lalu naik apa aja (angkot, kopaja, kopami) yang menuju ke arah Mangga Dua. Nanti lu akan melihat Mal Mangga Dua ada di sebelah kiri jalan. Begitulah.
Kalo emang pengen beli baju murah cuma untuk dipakai sendiri, rasanya Blok M Square sudah memadai. Atau kalo mau yang agak lucu2, bertandanglah ke ITC Ambassador. Kalo mau cari yang batik2, pergilah ke Thamrin City. Tanah Abang dan Mangga Dua itu terlalu besar, bising, ruwet, dan membingungkan. Sekali2nya gw belanja di Tanah Abang adalah waktu beli jilbab2 untuk oleh2. Sekali2nya gw ke Mangga Dua adalah untuk ke Vaio Service Centre. Cukuplah itu buat gw.
Nia Janiar said…
Waaah, Nikeeenn, I need you hereeee :D

Berarti Blok M Square sama ITC Ambassador yaa.. sip. Makasiih infonyaa!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…