Pria di Ujung Kiri


Mereka duduk berjajar di depanku, di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu. Kuhitung ada lima orang jumlahnya. Di sisi kanan terdapat tiga orang yang berkumpul bersama dengan perhatian yang terarah pada satu pria yang sedang heboh menceritakan apa saja yang ada di pikirannya. Kadang ia melucu sehingga membuat ketiga temannya tertawa terpingkal-pingkal. Candaan tanpa habisnya, seseorang sedang terlihat sedang berusaha menghangatkan suasana.

Atau entah memang dia sedang menikmati perhatian yang terlimpah padanya.

Sementara satu pria di paling kiri yang beberapa jengkal jauhnya terkadang melihat kepada polah teman-temannya kemudian tertawa sedikit saja. Selain itu, ia akan memainkan telepon genggamnya, menyeruput kopinya, atau memainkan pasir dengan kakinya. Kalau sudah bosan lihat ke bawah, ia akan lihat ke atas, menerawang ke langit yang maha luas. Atau lihat ke kiri dan ke kanan. Jika tertarik, maka ia akan memperhatikan teman-temannya. Ia akan bicara seperlunya. Ia tidak punya amunisi humor yang dibuat untuk mendekatkan pertemanan (atau memang dirasa tidak perlu dikeluarkan).

"Kenapa kamu pilih aku ketimbang si kupu-kupu sosial yang pandai bergaul dan menghangatkan suasana itu?" tanya dia suatu sore, jauh dari hari aku melihatnya pertama kali.

"Bergaul? Bagiku, ia berisik. Aku lebih suka yang tenang. Lagipula, aku tidak perlu badut yang merasa wajib membuat orang lain tertawa dan senang."

Pria itu tertawa, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Sambil menggandeng tangan, ia mengantarkanku pulang.

No comments: