Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

Perihal Selera Segelintir Orang

Jadi, awal minggu ini, saya memiliki kesempatan datang ke sebuah launching album penyanyi baru yang pernah ikut ajang kompetisi di televisi dan melakukan duet dengan penyanyi pria ternama Indonesia. Jujur, walau si penyanyi pria ini terkenal, saya tidak pernah dengar tentang duet mereka dan tidak pula mendengar lagunya. Mungkin memang tidak menaruh perhatian pada pop Indonesia saja.

Setelah satu jam menunggu sementara para wartawan sudah datang, akhirnya si artis naik panggung dengan dandanan vintage ala Marilyn Monroe. Dress perak ketat, lipstick merah menyala, serta rambut keriting besar-besar. Kakinya yang jenjang dan seputih susu itu dihiasi dengan sepatu hak tinggi yang senada dengan dress-nya. Siapa yang sangka usianya baru 22 tahun.

Saat melihatnya, saya tidak kaget karena deskripsi fashion statement-nya sudah saya baca di press release yang dibagikan sebelum masuk ke ruangan. Slideshow fotonya berbalut gaun bling-bling yang kebesaran di bagian dada (sehingga harus disumpal bia…

Menggila Bersama Sightseers

Jika kemarin sudah mengharu biru dalam drama, sekarang saya memilih Sightseers (2012) untuk merasakan black comedy thriller ala British yang disajikan sekitar 98 menit. Dibintangi oleh Alice Lowe dan Steve Oram yang sudah terbiasa berada di dalam genre komedi, film ini menawarkan humor gelap yang dibumbui dengan pembunuhan berdarah, kelucuan implisit tanpa adegan yang sengaja dibuat untuk terbahak, dan cerita yang baiknya tidak usah dipikirkan.


Berkisah tentang Tina yang diajak liburan bersama oleh kekasihnya, Chris, dalam rangka ajakan untuk mengenal dunia sang kekasih. Liburan panjang mereka dilalui dengan tidur di karavan, menginap berlama-lama di suatu tempat, dan datang ke museum dan tempat bersejarah. Di tempat pertama yang mereka kunjungi, Chris terusik dengan salah satu turis yang membuang sampah sembarangan di dalam kereta. Saat mereka akan pergi dari tempat tersebut, tanpa sengaja pria berjanggut dan berkumis lebat ini menabrak dan menggilas turis yang tidak disukainya. Keja…

Perihal Kostan

Bulan ini adalah bulan ketiga saya tinggal di Jakarta Barat dengan kostan yang jauh lebih baik ketimbang saat saya masih berada di Jakarta Timur (harganya juga jauh lebih "sesuai"). Saya baru ingat kalau dulu saya memaparkan panjang lebar tentang kostan di daerah Halim--sampai dibuat blog segala, lengkap dengan pemeran tambahan yaitu #housemate. Saya juga merasa kostan ini juga perlu mendapatkan hak dan kewajiban yang sama untuk diceritakan. 
Baiklah, mari kita masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang tingginya sekitar dua meter di Jl. Pilar Raya. Pilar Raya merupakan salah satu jalan yang diisi dengan rumah-rumah besar dan luas dan berpagar tinggi seperti kostan saya sekarang. Sepertinya daerah sini adalah lingkungan orang-orang kelas menengah ke atas, walaupun beberapa meter ke arah pertigaan Kemis yang tidak jauh dari sini, besar rumah semakin menyusut dan semakin padat. Pagar tinggi tidak hanya menjangkiti rumah besar. Rumah-rumah kecil yang letaknya beberapa meter dari …

Anna Karenina yang Memprihatinkan

Perihal Anna Karenina sudah terdengar sejak zaman kuliah karena novel karya Leo Tolstoy 1877 ini begitu terkenal. Bukunya yang berjilid-jilid serta cukup tebal membuat saya tertarik sekaligus enggan membacanya--apalagi saya memiliki kecenderungan tidak mengerti dengan karya-karya klasik para sastrawan dunia seperti Fyodor Dostoyevsky, Virginia Woolf, atau Ernest Hemingway. Kabar baiknya Joe Wright mengangkat novel ini menjadi sebuah film dengan judul yang sama di tahun 2012 dan dinobatkan dalam beberapa nominasi di Academy Awards dan Oscar. Jadi orang macam saya tidak perlu bersusah payah membaca novelnya untuk tahu ceritanya.

Tring!

Jadi kisah dibuka dengan Anna, seorang sosialita sekaligus istri kaya dari Alexei Karenin, yang melakukan perjalanan ke Moskow untuk membantu menyelesaikan masalah keluarganya. Saat akan turun dari kereta, dia berpapasan dengan seorang pria bernama Count Vronsky dan langsung saling tertarik pada pandangan pertama. Saat mereka akan pergi dari stasiun, seo…

Menghantarkan ke Peti Mati

Bagi seorang Nia Janiar (idih apaan sih) adalah bukan hal yang biasa untuk menonton film Jepang karena biasanya nonton film barat. Namun pasca nonton Amour, teman maya saya, Vendy, merekomendasikan Departures (2008) yang merupakan film drama Jepang karya Yōjirō Takita dan pernah memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film tahun 2009. Dengan asumsi film ini tidak akan jauh-jauh dari mayat seperti Amour, Departures bercerita tentang upacara pembersihan jenazah, diberi baju yang baik, dan diberi make up sebelum dimasukkan ke peti mati (encoffining).



Bercerita tentang Daigo Kobayashi, seorang pemain cello yang dipecat dari grup orkestra kemudian memutuskan pulang kampung ke Sakata bersama istrinya, Mika. Rumahnya Daigo dulunya merupakan cafe kecil dimana dulu diurus oleh kedua orang tuanya kemudian ayahnya kabur bersama pelayan meninggalkan istri dan Daigo yang kecil.

Dalam keadaan nganggur, Daigo melihat iklan lowongan kerja sebagai assisting departures yang awal ia sangka …

Menguras Air Mata Bersama Amour

Saat saya minta rekomendasi film yang manis, Andika menyarankan film Amour (2012) karya Michael Haneke yang memenangkan Best Foreign Language Oscar. Saat melihat trailer-nya, saya pikir ini kisah percintaan dua orang manusia yang long lasting dan saling merawat hingga mereka tua. Ya, memang betul sih, tapi twist tidak terduga di bagian akhir film membuat saya terhenyak. Ini semacam manis yang pahit.

Film dibuka beberapa orang pria yang mencoba masuk ke dalam apartemen yang mengeluarkan bau busuk. Saat mereka membuka kamar, terdapat mayat seorang wanita tua bernama Anne yang terbaring di atas tempat tidur dengan bunga-bunga di sekitar kepalanya. Kemudian film berjalan dengan plot mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Terlihat pasangan tua, Anne dan Georges yang merupakan pensiunan guru piano yang sedang menonton pertunjukkan muridnya, kemudian melakukan kegiatan seperti biasa di apartemennya.

Suatu saat Anne mengalami kondisi katatonik yaitu tidak merespon saat ditanya, seperti bengong,…

Kenapa Harus Ngaku?

Ada urusan apa yang membuat Ayu Utami menulis ratusan halaman demi sebuah pengakuan bahwa ia pada akhirnya memutuskan untuk menikah di usia 40-an? Mungkin jawabannya adalah ia sedang mempertanggungjawabkan sebuah prinsip yang sudah ia tuliskan di buku sebelumnya tentang alasan-alasan mengapa ia memutuskan untuk tidak menikah. Ia tidak bisa mematahkan hati orang-orang yang sudah kepalang dibela atau merasa memiliki teman bahwa tidak apa-apa untuk tidak menikah. Oleh karena itu, mungkin, Ayu Utami menulis curhatan panjang yang berisi pemikirannya dari kecil hingga ia dewasa, bahkan pengalaman-pengalaman seksualnya seperti rekor berapa banyak ia bercinta dalam satu hari.


Ulasan buku
Buku Eks Parasit Lajang yang baru diterbitkan tahun ini tidak berisi dengan pendapat-pendapat atau rasionalisasi kaku. Penulis menceritakannya dalam bentuk narasi yang enak diiukuti dan berhiaskan metafora. Misalnya Ayu menuliskan bahwa hidupnya seperti game yang dengan tokoh A yang memulai petualangan dari P…