Skip to main content

Kenapa Harus Ngaku?


Ada urusan apa yang membuat Ayu Utami menulis ratusan halaman demi sebuah pengakuan bahwa ia pada akhirnya memutuskan untuk menikah di usia 40-an? Mungkin jawabannya adalah ia sedang mempertanggungjawabkan sebuah prinsip yang sudah ia tuliskan di buku sebelumnya tentang alasan-alasan mengapa ia memutuskan untuk tidak menikah. Ia tidak bisa mematahkan hati orang-orang yang sudah kepalang dibela atau merasa memiliki teman bahwa tidak apa-apa untuk tidak menikah. Oleh karena itu, mungkin, Ayu Utami menulis curhatan panjang yang berisi pemikirannya dari kecil hingga ia dewasa, bahkan pengalaman-pengalaman seksualnya seperti rekor berapa banyak ia bercinta dalam satu hari.

Diambil dari salihara.org

Ulasan buku
Buku Eks Parasit Lajang yang baru diterbitkan tahun ini tidak berisi dengan pendapat-pendapat atau rasionalisasi kaku. Penulis menceritakannya dalam bentuk narasi yang enak diiukuti dan berhiaskan metafora. Misalnya Ayu menuliskan bahwa hidupnya seperti game yang dengan tokoh A yang memulai petualangan dari Paradiso/Paradise sebagai representasi kebermulaan seks yaitu saat Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Penceritaan yang diawali Pohon Pengetahuan yang berbuah merah keemasan sebagai representasi birahi ini tentunya sangat erat dengan agama. Ini juga sangat beralasan karena Ayu Utami diceritakan sebagai orang yang awalnya religius, dekat dengan agama semenjak kecil, kemudian memutuskan untuk menjauh dari agamanya karena ia harus memilih apakah menjadi agamis atau penzinah. Ia memilih yang kedua. Justru, menurutnya, keterjauhan itu sebagai tanda ia sayang pada agamanya (tidak seperti pacarnya yang konsisten beribadah sekaligus berzinah).

Ayu, sebagai tokoh A, bercerita tentang keluarganya dimana ia memiliki bibi-bibi yang pada akhirnya diketahui bahwa mereka adalah alasan mengapa A tidak menikah. Para bibi yang dianggap keturunan monster (karena mereka tidak baik, dipenuhi cerita hantu dan cerita mistis) itu disebut Perawan Tua karena tidak menikah hingga akhir hayatnya (salah seorangnya menikah pada usia setengah abad namun bernasib tragis). Ketidaan pasangan serta standar masyarakat bahwa manusia harus berpasangan dan menikah membuat para bibi memiliki kedengkian pada hal-hal romantis. Misalnya saat mereka memfitnah ibunya A telah berselingkuh. Kedengkian juga ditunjukkan dengan biarawati yang menghukum salah satu murid sekolah yang cantik dengan alasan yang tidak jelas. A juga bercerita bahwa keharusan memiliki pasangan ini membuat seseorang diberi label 'perawan tua' dan 'bujang lapuk'.

Maka A memiliki kebutuhan untuk melakukan perbuatan yang menunjukkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak menikah, masih bisa bahagia, masih bisa menjalani hidup. Tidak ada kedengkian romansa terhadap yang lain. Mungkin itulah perbedaan orang yang memilih untuk tidak menikah dan memang nasibnya tidak menikah (karena pasangan telat datang atau tidak sama sekali). Apalagi nikah hanya membuat wanita dan pria masuk ke dalam hirearki siapa yang memimpin dan mengikuti, kecuali dalam pernikahan Katolik. Oleh karena itu, A setuju.

Walau ada kejadian yang dikurangi atau ditambahkan agar emosi lebih terasa, misalnya saat A tega membunuh ular hitam karena rasa takut yang berlebihan, saya takjub dengan kejujuran yang penulis ceritakan. Bagaimana bisa orang memaparkan pengalaman dan pemikiran tentang seks dan agama kepada masyarakat Indonesia yang serba tabu dan konservatif ini? Penulis memaparkan di usia berapa ia kehilangan keperawanan, bersama siapa, hingga berselingkuh dan menjadi peselingkuh. Jika sastra sebagai media untuk mengungkapkan kejujuran sebagaimana yang Ayu utarakan, saya setuju.

Keperawanan
Selaput yang konon ada di dalam vagina yang menentukan layaknya seseorang dipinang atau tidak dan dipertimbangkan apakah seorang perempuan bermoral atau tidak menjadi hal yang dikritisi oleh penulis. A percaya bahwa selaput itu tidak ada. Kalaupun berdarah, bukan masalah robeknya selaput, melainkan dinding vagina yang terluka akibat terlalu dipaksa. Apalagi zaman dulu remaja belia sudah dikawinkan dan belum organnya belum siap. Selaput dara, bagi A, hanya merupakan konsep yang diciptakan oleh masyarakat.

Di luar dosa atau ketakutan tidak diterima suami, saya sih lebih tidak percaya terhadap laki-laki yang berkeliaran dengan bebas pasca bersetubuh tanpa ikatan pernikahan. Perempuan tidak bisa mengendalikan apa yang akan laki-laki ucapkan kepada teman-temannya seperti, "Dia 'kan abis dipakai gue tuh!" Sebagus apa pakaian dan aksesoris yang dipakai, tubuh yang pernah terlihat telanjang akan selalu terlihat telanjang. Apalagi ada resiko yang mungkin saja terjadi seperti kehamilan di luar nikah lalu laki-lakinya berdalih, "Ah, anak orang lain mungkin. Kalo sama gue saja mau, berarti sama orang lain juga!"

Terlalu sinetron memang. Dan mungkin terlalu menuduh sebagaimana yang diucapkan pacar saya, "Kamu terlalu melihat laki-laki sebagai tokoh antagonis. Juga jangan paranoid." Izinkan saya mengemukakan justifikasi bahwa: jika orang bisa memilih menjadi perawan atau tidak, saya memilih yang pertama. Dan satu paragraf di atas adalah alasan saya. Pribadi dan subjektif, tentunya. Namun ingat, jika kamu memilih bergaya hidup ala Melrose Place, jangan menuntut tanggung jawab seperti pernikahan sesudahnya. Dan saya tidak cocok dengan gaya serial tv dari tahun 1992-1999 itu.

Balik lagi ke Ayu Utami, sebelum memutuskan untuk melepas keperawanan dan mendobrak konstruksi masyarakat, ia sudah membangun nilai yang dipikir secara kritis. Bukan sekedar nafsu atau sekedar ikut-ikutan. Dan sebagai kelebihan yang dimiliki penulis, Ayu memiliki fasilitas nama, media berbentuk buku, dan publikasi sehingga tentu ia dapat menuliskan kemudian meralat apa yang ia mau.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…