Menghantarkan ke Peti Mati


Bagi seorang Nia Janiar (idih apaan sih) adalah bukan hal yang biasa untuk menonton film Jepang karena biasanya nonton film barat. Namun pasca nonton Amour, teman maya saya, Vendy, merekomendasikan Departures (2008) yang merupakan film drama Jepang karya Yōjirō Takita dan pernah memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film tahun 2009. Dengan asumsi film ini tidak akan jauh-jauh dari mayat seperti Amour, Departures bercerita tentang upacara pembersihan jenazah, diberi baju yang baik, dan diberi make up sebelum dimasukkan ke peti mati (encoffining).



Bercerita tentang Daigo Kobayashi, seorang pemain cello yang dipecat dari grup orkestra kemudian memutuskan pulang kampung ke Sakata bersama istrinya, Mika. Rumahnya Daigo dulunya merupakan cafe kecil dimana dulu diurus oleh kedua orang tuanya kemudian ayahnya kabur bersama pelayan meninggalkan istri dan Daigo yang kecil.

Dalam keadaan nganggur, Daigo melihat iklan lowongan kerja sebagai assisting departures yang awal ia sangka ia akan bekerja di agen perjalanan. Dalam wawancara yang begitu mudah serta penawaran gaji yang besar tanpa negosiasi dan basa basi, akhirnya ia mengetahui bahwa ia akan bekerja mengurus mayat. Ia pun kaget. Apalagi mayat pertamanya adalah mayat busuk yang sudah didiamkan berminggu-minggu.

Saat pertama kali kerja, perusahaan melakukan rekaman video dimana Daigo menjadi model yang memerankan mayat dan bosnya melakukan upacara pembersihan dirinya. Namun video ini nantinya akan menjadi penyebab pertengkaran Daigo dengan istrinya yang tidak tahu pekerjaannya. Mika merasa Daigo menjijikan sehingga Mika menolak untuk disentuh dan merasa ini bukan pekerjaan yang normal. Mendengar hal itu, Daigo membalas, "Bukankah kematian itu hal yang normal? Kamu akan mati dan saya juga akan mati." Namun istrinya tidak mau menerima bahkan memberikan suaminya pilihan apakah Daigo keluar atau istrinya kembali ke orang tuanya. Daigo memilih yang pertama.

Beberapa bulan mereka berpisah hingga istrinya datang dalam keadaan hamil (oleh Daigo, tentunya). Mika tampak masih ingin merubah pikiran suaminya untuk ganti profesi. Sebelum pembicaraan berlanjut, ada kabar bahwa kerabat lama mereka meninggal dunia. Saat itu Daigo memiliki kesempatan untuk memperlihatkan pada Mika (juga teman masa kecilnya yang ikut menolak profesi Daigo) bahwa ritual ini dilakukan dengan penuh khidmat dan penghargaan pada orang yang sudah meninggal.


Di luar dari cerita profesinya, film pun menceritakan bagaimana Daigo benci dengan ayah yang sudah meninggalkannya dan hampir menolak untuk datang ketika ayahnya meninggal. Saat ia melihat dan memegang jenazah ayahnya, sang ayah yang sudah 30 tahun tidak menemuinya itu terlihat menggenggam sesuatu. Rupanya batu itu adalah batu yang diberikan Daigo saat masih kecil. Melihat batu tersebut, Daigo menjalani proses upacara encoffining yang semula tidak akan ia lakukan. Tentu dengan sedih.

And I cried like a baby. Mungkin karena kesamaan personal. Hiks.

Upacara yang dilakukan di sini dilakukan dengan tepat, hati-hati, terstruktur, juga indah. Di sini diperlihatkan bagaimana jemari Daigo menyentuh jenazah dengan rasa hormat. Juga terlihat bagaimana keluarga yang ditinggalkan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda; ada yang tidak sungkan-sungkannya bertengkar di depan Daigo dan bosnya karena saling menyalahkan kematian anaknya hingga ada yang sangat berterima kasih sambil bersujud kepada Daigo karena membuat istrinya tidak pernah secantik ini.

Sepertinya film ini adalah film yang bercerita tentang kecintaan seseorang terhadap profesinya dan menceritakan bahwa kematian bukanlah hal yang mengerikan. Kematian bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal. Juga bagi mereka, orang yang mati pantas berbelanja peti mati yang mahal, berdandan, atau berpakaian yang indah untuk terakhir kalinya.

Comments

Popular Posts