Skip to main content

Menguras Air Mata Bersama Amour

Saat saya minta rekomendasi film yang manis, Andika menyarankan film Amour (2012) karya Michael Haneke yang memenangkan Best Foreign Language Oscar. Saat melihat trailer-nya, saya pikir ini kisah percintaan dua orang manusia yang long lasting dan saling merawat hingga mereka tua. Ya, memang betul sih, tapi twist tidak terduga di bagian akhir film membuat saya terhenyak. Ini semacam manis yang pahit.

Film dibuka beberapa orang pria yang mencoba masuk ke dalam apartemen yang mengeluarkan bau busuk. Saat mereka membuka kamar, terdapat mayat seorang wanita tua bernama Anne yang terbaring di atas tempat tidur dengan bunga-bunga di sekitar kepalanya. Kemudian film berjalan dengan plot mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Terlihat pasangan tua, Anne dan Georges yang merupakan pensiunan guru piano yang sedang menonton pertunjukkan muridnya, kemudian melakukan kegiatan seperti biasa di apartemennya.

Suatu saat Anne mengalami kondisi katatonik yaitu tidak merespon saat ditanya, seperti bengong, tidak bergerak. Dan lucunya, saat katatoniknya berakhir, ia tidak ingat ia mengalami hal tersebut. George merasa bahwa Anne mengerjainya. Tapi saat Anne akan menuangkan teh ke gelasnya, tangannya tidak mampu. Ternyata pembuluh darah Anne tersumbat. Setelah dioperasi dan pulang ke rumahnya, Anne mengalami kelumpuhan sebelah badannya dan semakin lama semakin parah.

Keparahannya terlihat bertahap seperti ia mulai mengompol, mulai tidak bisa duduk di kursi roda (karena berbaring terus), bicaranya tidak jelas, mulai mengenakan infus, sampai bergumam tidak jelas. Namun saat dalam fase itu, Georges terlihat tidak stres dan telaten mengurus istrinya. Bahkan ia sempat meyakinkan agar istrinya jangan merasa bahwa keadaannya membebani Georges. Untuk memaksimalkan perawatan, bahkan Georges menyewa beberapa pengasuh untuk merawat.

Anak mereka yang tinggal di luar negeri, Eva, menyuruh ayahnya agar membawa ibunya ke rumah sakit. Namun karena sudah kepalang berjanji pada Anne, Georges pun memutuskan untuk perawatan di rumah saja. Ia mencoba memberikan terapi sendiri seperti menggerakkan tubuh istrinya dan mengajari istrinya berbicara. Tapi ini tidak membuat keadaan Anne semakin membaik, justru sebaliknya. Bahkan Anne suka meraung-raung sendirian.

Pada suatu malam, Anne meraung tanpa henti sehingga Georges harus duduk di samping untuk menenangkan sambil membelai tangannya. Suami yang setia ini bercerita tentang masa kecilnya. Di sinilah twist terjadi. Tanpa disangka, sang suami membekap istrinya yang sakit dengan bantal hingga badan istrinya berhenti berontak. Kemudian, setelah habis nafasnya, dengan tenang pula Georges membeli bunga untuk menghias mayat istrinya dan memilih pakaian yang baik.

Georges seperti bom waktu dimana ia sudah menyimpan ketegangan dalam merawat istrinya seorang diri selama berbulan-bulan. Terbayang bahwa betapa stresnya mengurus orang sakit, apalagi berkepanjangan dan menunjukkan tidak ada tanda-tanda untuk sembuh. Apalagi reaksi Georges selama ini jauh berbeda dengan reaksi Eva yang kadang menunjukkan panik atau sedih.

Film ini berhasil membuat saya tersedu-sedu karena sepanjang film saya teringat pada ibu saya yang terkena stroke. Apalagi saya sempat wawancara seorang dokter spesialisasi syaraf bahwa orang yang pernah kena stroke kemungkinan kena stroke lagi lebih besar dan biasanya jadi lebih parah. Kemudian saya menyadari bahwa saya berada jauh dari ibu saya sehingga saya tidak bisa mengontrol kesehatannya. Saya jadi sangat cemas. Saya tidak mau ibu saya seperti itu.

Dari film ini juga saya berpikir tentang pentingnya manusia berpasangan (entah menikah atau hanya bersama saja). Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa sendirian. Mereka perlu orang lain mengurusnya semenjak mereka bayi. Anak perlu orang tua untuk merawatnya, juga sebaliknya. Jika anak tidak punya orang tua atau orang tua yang tidak punya anak, ya bisa jadi mereka terlunta-lunta sendirian.

Amour cukup memberikan kegalauan batin tentang masa depan bahwa tubuh tidak melulu sehat saat kita tua. Kemudian hanya bagaimana cara manusia meninggalkan dunia: merepotkan orang lain atau tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…