Perihal Kostan

Bulan ini adalah bulan ketiga saya tinggal di Jakarta Barat dengan kostan yang jauh lebih baik ketimbang saat saya masih berada di Jakarta Timur (harganya juga jauh lebih "sesuai"). Saya baru ingat kalau dulu saya memaparkan panjang lebar tentang kostan di daerah Halim--sampai dibuat blog segala, lengkap dengan pemeran tambahan yaitu #housemate. Saya juga merasa kostan ini juga perlu mendapatkan hak dan kewajiban yang sama untuk diceritakan. 

Baiklah, mari kita masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang tingginya sekitar dua meter di Jl. Pilar Raya. Pilar Raya merupakan salah satu jalan yang diisi dengan rumah-rumah besar dan luas dan berpagar tinggi seperti kostan saya sekarang. Sepertinya daerah sini adalah lingkungan orang-orang kelas menengah ke atas, walaupun beberapa meter ke arah pertigaan Kemis yang tidak jauh dari sini, besar rumah semakin menyusut dan semakin padat. Pagar tinggi tidak hanya menjangkiti rumah besar. Rumah-rumah kecil yang letaknya beberapa meter dari jalan utama juga dipagari tinggi-tinggi, bahkan ada yang diberi jejaring dan terpal sehingga menutup bagian depan rumah. Melihatnya saja sudah pengap. Kalau bukan pagar besi yang renggang, biasanya rumah-rumah besar ditutup dengan satu lempengan besi besar atau tembok yang tinggi sehingga rumah-rumah di sini hanya terlihat seperti balok-balok saja.

Gerbang kostan saya digembok yang kuncinya dipegang oleh seluruh penghuni kost. Tangan harus terampil menjulur ke lubang kecil sembari tangan satunya lagi memasukkan kunci. Jika kunci sudah terbuka, maka kerahkan tenaga untuk membuka slotan besi yang berat. Jika sudah masuk ke dalam, jangan lupa tutup lagi. Karena nanti akan dimarahi ibu kos.

Begitu masuk, kamu akan melihat sebuah tempat parkir yang luas untuk memuat mobil-mobil besar pemilik kost yang salah satunya adalah mobil yang saya idam-idamkan yaitu Honda CR-V berwarna putih. Sementara di sebelah lapangan parkir terdapat rumah yang arsitekturnya biasa saja, hanya satu tingkat, dan luasnya tidak intimidatif. Beranjak agak masuk ke area rumah, maka kamu akan melihat bangunan berlantai dua yang terdapat 12 kamar khusus untuk putri yang long distance relationship dengan pacarnya, atau tidak punya pacar, atau biarawati. Karena kalau punya pacar, pasti memilih kostan campur antara pria dan wanita.

Kostannya bersih karena setiap hari dibersihkan oleh pembantu di sini. Terdapat empat kamar mandi yang setiap hari dibersihkan, dua buah area jemur, dan dapur yang tidak berfungsi karena pada enggan udunan untuk beli gas. Lagian mayoritas penghuni pulang malam sehingga tidak ada waktu untuk memasak. Setiap lantai juga memiliki lorong. Lorong lantai bawah berhadapan dengan teralis sebagai ventilasi udara. Lorong lantai atas berhadap dengan tembok. Duh, mana saya di lantai dua, jadinya kurang pasokan udara nih.

Mari kita masuk ke kamar saya. Saya berada di kamar nomer 10, yang kalau tidak salah pacar saya bilang kalau angka 10 ini baik karena menandakan Tuhan. Alasannya lupa. Tanpa AC, hanya ada kipas di atas ruangan yang tentu tidak cukup untuk membuat kamar adem, sehingga saya harus bawa kipas tambahan dari Bandung. Derajat kepanasan juga diperparah dengan dinding kiri dan kanan yang terbuat dari papan atau triplex sehingga tentu sulit berbuat yang aneh-aneh tanpa merambatkan suara ke kamar sebelah (lagian mau apa?). Dinding dicat dengan warga hijau pastel yang tidak bagus-bagus amat walaupun saya suka dengan warna hijau. Putih lebih baik. Simplicity is the best.

Diambil pk. 2:09 sebelum tulisan ini diketik--dalam keadaan susah tidur

Di kamar ini hanya tersedia kasur, bantal, satu set seprai, dan sebuah lemari. Kasurnya hanya muat satu orang, susah untuk tidur berdampingan. Ketiadaan guling membuat saya harus membeli guling di Carrefour dekat Puri Indah Mall. Saya juga harus membawa seprai tambahan dari Bandung agar bisa diganti per dua minggu sekali. Sayangnya, ketiadaan meja cukup berpengaruh banyak karena saya tidak bisa menyimpan barang-barang kecil seperti perlengkapan kosmetik, buku, tissue, pewarna kuku, dan lainnya. Oleh karena itu saya menyisakan satu tempat di bagian atas lemari untuk menaruh pernak-pernik.

Para penghuni di sini memiliki jam kerja yang berbeda-beda. Kamar 8 dan 9, mereka kerja shift malam sehingga berangkat siang dan pulang lebih larut. Kamar 11 dan 12 lebih teratur tipe nine to six. Sementara saya lebih suka-suka mau berangkat dan pulang kapan saja. Yah, maklum, jurnalis. Konon pekerjaan ini tidak memiliki waktu kerja yang fix. Namun kami saling sapa jika berpapasan di lorong atau kamar mandi, saling meminjam barang (saya tidak pernah pinjam barang tapi mereka beberapa kali pinjam ember, setrikaan, dan minta pasta gigi). Tidak ada cerita khusus yang menarik seperti #housemate. Semuanya standar begitu saja.

Kostan ini hanya ramai di saat hari kerja. Kebanyakan para penghuni pulang di akhir pekan dan hanya menyisakan satu hingga dua orang di setiap lantai. Biasanya saya dan teman di sebelah hanya tinggal berdua karena saya tidak setiap minggu pulang ke Bandung sementara kampung halaman si teman sebelah jauh yaitu Yogyakarta. Juga tidak ada kejadian horor atau aneh-aneh, kecuali malam kemarin--yang mungkin karena lupa atau sleep walking--kunci slot pintu kamar ikut terkunci, padahal kunci tersebut tidak pernah saya gunakan. Karena slot letaknya dekat dan bisa dijangkau dari luar jendela, saya jadi parno ada yang menggapai dari luar dan iseng mengunci slot pintu tersebut. Alhasil malam ini saya susah tidur dan berkali-kali menatap jendela, sambil membayangkan jika ada tangan yang keluar dari sana. Hiiii.

Tinggal di kostan putri membuat saya sadar akan beberapa hal tentang kelebihan dan kekurangan seperti di bawah ini: 

Nilai positif:
- Kostan cenderung wangi dan bersih
- Bebas jalan dari kamar ke kamar mandi tanpa mengenakan bra
- Bebas pakai celana pendek atau tank top atau pakaian tidur minimalis lainnya
- Bebas tidak pakai bra
- Bebas tidak pakai bra juga

Nilai negatif:
- Tidak bisa menerima tamu laki-laki, mereka hanya boleh duduk di teras (walaupun ada yang nekat bawa ke kamar)
- Sampahnya berupa pembalut yang tidak dibuang dengan kertas koran atau plastik sehingga masih terlihat darah cokelatnya di tempat sampah
- Ada yang darah menstruasinya tembus ke pakaian lalu pakaiannya digantung di gantungan kamar mandi dan noda darahnya mengotori dinding kamar mandi
- Rambut yang menutupi pembuangan air
- Lebih boros menggunakan air karena mayoritas waktu mandinya sekitar 15-30 menit setiap orangnya

Yah, lumayanlah, setidaknya bukan berak yang brecetan di pinggir kakus seperti yang saya alami dulu akibat joroknya teman seatap.

Teman-teman saya bilang kalau kostan ini terbilang mahal dengan fasilitas yang begitu-begitu saja. Saya sadar ini mahal karena letaknya sangat strategis yaitu berada di pinggir jalan yang dilewati beragam kendaraan umum dan mudah dicari--bukan masuk gang seperti kosan saya dulu. Gang membuat saya trauma karena saya seringkali melihat sampah, baju basah yang menetes di kiri dan kanan gang, juga dahak bekas penduduk sekitar. Namun di dekat kosan ini ada jalan kecil yang muat satu mobil dengan harga yang lebih murah. Mudah-mudahan saya bisa secepatnya pindah ke sana.

Kalau ke Jakarta, jangan lupa main ya ke kosan. Mumpung masih bagus!

Comments

Niken said…
Bebas ga pake bra! Hell yeah! \m/
Nia Janiar said…
Hahaayy! \m/
yang maen k kosan lo, kaga pake bra juga ya? hahaa!
yang maen k kosan berarti ga pake bra? hahaaa!
Nia Janiar said…
Yaa, feel free aja sih Gitt untuk gak pake. Hahaa..

Popular Posts