Skip to main content

Perihal Selera Segelintir Orang

Jadi, awal minggu ini, saya memiliki kesempatan datang ke sebuah launching album penyanyi baru yang pernah ikut ajang kompetisi di televisi dan melakukan duet dengan penyanyi pria ternama Indonesia. Jujur, walau si penyanyi pria ini terkenal, saya tidak pernah dengar tentang duet mereka dan tidak pula mendengar lagunya. Mungkin memang tidak menaruh perhatian pada pop Indonesia saja.

Setelah satu jam menunggu sementara para wartawan sudah datang, akhirnya si artis naik panggung dengan dandanan vintage ala Marilyn Monroe. Dress perak ketat, lipstick merah menyala, serta rambut keriting besar-besar. Kakinya yang jenjang dan seputih susu itu dihiasi dengan sepatu hak tinggi yang senada dengan dress-nya. Siapa yang sangka usianya baru 22 tahun.

Saat melihatnya, saya tidak kaget karena deskripsi fashion statement-nya sudah saya baca di press release yang dibagikan sebelum masuk ke ruangan. Slideshow fotonya berbalut gaun bling-bling yang kebesaran di bagian dada (sehingga harus disumpal biar terlihat penuh) juga wara-wiri di layar. Belum lagi ada foto perbandingan metamorfosis penampilan dari ia masih lugu. Tentu gaya ini dibuat untuk membentuk image album dan dirinya.

Karena acara ini bukan konser dan memang ditujukan untuk promosi kepada wartawan, pihak rekaman pun menjelaskan dan menggadang-gadang penyanyi muda ini. Ia "mendaur ulang" lagu-lagu lawas dari band yang sangat mahsyur di Indonesia pada zamannya. Pada kesempatan yang diberikan, pada wartawan (termasuk saya) bertanya kenapa pakaiannya seperti itu, apakah busananya akan berubah jika ia mengeluarkan album kedua, dan kenapa pilih band legendaris di Indonesia ketimbang yang lain. Seperti yang sudah saya sangka, artis ini hanya bentukan mereka-mereka yang ada di balik layar. Hanya string puppet yang pasrah mau diapa-apakan.

Oke, mungkin analoginya tidak gitu-gitu amat. Tapi begitu ditanya tentang fashion statement-nya, ia menunjuk sang produser untuk menjawab pertanyaan wartawan sembari bilang bahwa ini adalah keinginan dari produsernya. Pikiran saya jadi jorok: jangan-jangan si produser punya fantasi tentang Marilyn Monroe kemudian fantasi tersebut direalisasikan melalui penyanyi barunya. Bagaimana rasanya melihat kreasi barunya berlenggak-lenggok dan menggeliat laksana selebritis yang terkenal sebagai simbol seks itu?

Kemudian saat membaca press release-nya, saya jadi meragukan bahwa kalimat-kalimat langsung bisa saja tidak berasal dari dirinya. Mungkin press release dibuat oleh pihak public relation tanpa wawancara sehingga si penyanyi semacam tahu beres saja. Tulisan dibuat seolah-olah si artis betulan suka dengan band tersebut (kemudian saat wawancara diketahui bahwa pihak rekaman yang memilihkan, bukan karena dia yang memilih). Ya, mau kepentingan apalagi selain bisnis. Masa jualan buat rugi. Ya, toh?

Saya bertanya apa rencana dia setelah album ini keluar. Apakah ada rencana untuk keliling kota atau duet dengan penyanyi lainnya. Ia menjawab berputar-putar yang intinya mereka akan promosi saja. Titik. Dan penyanyi jelas bilang kalau dia mengikuti saja apa yang pihak rekaman rencanakan. Kemudian saya jadi meragukan perihal duet ia dengan penyanyi pria yang terkenal sebelumnya. Penyanyi pria tersebut berkata bahwa ia "menemukan" penyanyi wanita ini karena merasa cocok secara suara. Jangan-jangan mereka tidak saling menemukan karena ternyata mereka bernaung di perusahaan rekaman yang sama dan mungkin saja "dijodohkan" oleh produser mereka untuk duet. Tidak ada proses ketemu, cocok, kemudian kawin layaknya dua orang yang saling mencintai.

Duh, apa sih.

Tapi ya prasangka di atas tidak sepenuh benar. Tapi, Nia, selamat datang ke dunia yang diatur oleh segelintir orang yang berkuasa. Dunia palsu yang serba diatur.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…