Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Membuka Luka Lama Bersama The Act of Killing

Tema komunisme menjadi begitu dekat ketika saya mulai membaca karya sastra Indonesia. Banyak penulis yang selalu menyinggungkan nasib tokoh dengan komunis. Tengoklah Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Amba karya Laksmi Pamuntjak, Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Saman karya Ayu Utami, Pulang karya Leila S. Chudori, dan masih banyak lagi. Setiap membaca, saya bertemu dengan tema komunis terus menerus. Lama-lama saya jadi berpikir: Memangnya sejarah Indonesia ini hanya komunis saja?

Di luar dari rasa bosan itu, lama-lama pandangan tentang komunisme mulai berubah. Karya sastra menceritakan pembelaan terhadap kaum petani, bagaimana seorang tokoh hidup dalam pelarian, dan efek psikologis lain yang dialami. Selama ini di sejarah, para komunis diperlihatkan sebagai antagonis yang layak disiksa tanpa diadili. Tentu saja hal-hal yang dicerminkan di dalam karya sastra tidak disebutkan di buku pelajaran sejarah.

Setelah peristiwa 30 September, sekitar dua juta orang dibantai …

Random Memories

1. Sometimes, in the moment before I fall asleep, I am thinking about why we didn't work out. I am remembering about the pain when I started to realize that you already had someone in mind so you frequently traveled to out of town. You wouldn't answer whenever I asked with whom you were accompanied. I remembered the pain when you took another direction so I had to come back home by myself. The air was so cold and I felt so lonely. I knew you didn't mean to hurt but I couldn't hold back the tears.

I thought I found my own man because you were so gentle and I have never been taken care of so well. And it was so hard to let go.

2. I admit. I am not a psychologist although I've passed four years in psychology major. I'm a writer, a lifestyle magazine journalist. I have sympathy, empathy, or patient just like average people. I don't have any extra time and skill to treat someone--you know--like you and make an exception to your goddamn past. I am not Freud! I w…

A Clockwork Orange

Jika ingin nonton film yang menganggu dan menimbulkan kesan yang tidak enak setelah menontonnnya A Clockwork Orange adalah jawabannya. Film yang dibuat Stanley Kubrick pada tahun 1971 ini sudah menunjukkan keganjilannya di scene pertama. Kamera fokus pada wajah Alex (Malcolm McDowell) dengan sebelah mata yang mengenakan bulu mata palsu dan menatap tajam ke arah kamera. Secara perlahan, kamera menjauh dan memperlihatkan Alex dan gengnya berada di sebuah bar yang menyediakan campuran susu dan obat-obatan dengan interior yang sangat seksual namun tetap bagus.

Diceritakan tentang Alex dan gangnya yang suka melakukan kegiatan 'ultraviolent' dengan memukuli korban-korban yang tidak berdaya, merampok, membunuh, dan memperkosa. Tidak hanya kepada orang lain, Alex juga melakukan adegan kekerasan dengan teman-temannya sendiri. Setelah merampok rumah 'A Cat Lady', kepala Alex dipukul dengan botol kaca sehingga ia lengah dan tertangkap polisi. Di kepolisian, ia ditawarkan untuk m…

Forget Me Not

Tempat yang kini saya tinggali telah menginjak umur 486 pada tanggal 22 Juni kemarin. Untuk merayakan ulang tahunnya, pemerintah menyelenggarakan pesta yaitu dengan mengadakan beragam acara di Jakarta Pusat  (foto bisa dilihat di Flickr). Ancol juga ikut merayakan dengan membiarkan masyarakat masuk secara gratis. Sementara di lini transportasi, TransJakarta Busway pun digratiskan.

Di tengah hingar bingar itu, saya dan kedua teman kantor memilih untuk menyepi dengan nonton gratis di Blitzmegaplex Pacific Place karena sedang ada festival film Jerman. Kami sudah bersepakat bahwa pengeluaran hari ini hanya boleh hingga Rp100.000 (terkait akhir bulan dan memang hanya itu yang saya punya di dompet). Sebelum berangkat, kami mencari transportasi non busway dan akhirnya mendapatkan bus menuju Polda seharga Rp5.000 saja.


Kami nonton film Vergiss mein nicht (Forget Me Not). Film ini merupakan film dokumenter tentang seorang anak (beserta keluarga) yang merawat Gretel, sang ibu, yang terkena Alzh…

#12 Homo Homini Lupus

Di daerah Pasar Minggu sana, terdapat sebuah ruang kreatif sekaligus komunitas bernama Salihara. Gaungnya sebagai tempat kumpul para seniman dan sastrawan sudah terdengar hingga Bandung. Saat pertama kali si monyet berdomisili di Jakarta, Salihara menjadi tempat yang ia cita-citakan untuk disambangi. Beruntung saat itu si monyet masih tinggal di daerah Halim, walaupun masih terbilang jauh, lama perjalanan ke Salihara hanya memakan waktu 1-1.5 jam saja.

Kini si monyet tinggal di Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Lama perjalanan menuju Salihara menjadi dua kali lipat. Apalagi saat itu hujan, macet, dan busway penuh karena sudah musim liburan. Kini datang ke Salihara harus diniatkan betul-betul dan menjadi sebuah perjuangan. Kalau saja tidak ada pameran dan acara gratis.

Acara gratis kemarin adalah pertunjukkan sirkus Sans arrêt yang digawangi oleh Edward Aleman dan Wilmer Marquez. Jadi, jika dilihat dari katalog acara, Sans arrêt adalah sebuah pertunjukkan yang ditampilkan di ruangan terbu…

Balada Transjakarta Busway

Tiga ratus dua puluh ribu orang menggunakan Transjakarta Busway di hari biasa. Saat ulang tahun Jakarta di tahun 2012 lalu, saat pemerintah memperbolehkan warganya menggunakan Transjakarta Busway secara gratis, sekitar 400 ribu orang yang menggunakan alat tranportasi ini. Seolah-olah déjà vu, pemerintah Jakarta akan mencanangkan program gratis di tanggal 22 Juni nanti dalam rangka ulang tahun ibukota. Tepat di akhir pekan.

Izinkan saya bercerita sebagai pengguna Transjakarta Busway ibukota, para hadirin dan hadirat. Saya adalah makhluk yang cukup loyal menggunakan busway karena ia dapat menjangkau titik-titik strategis Jakarta dari yang paling dekat dari kosan hingga paling jauh. Selain hanya diganjar Rp3.500 (dan sangat menguntungkan jika letak tempatnya di ujung langit), saya tidak perlu berpeluh akan keringat dan polusi kendaraan lain seperti saat naik Kopaja, misalnya. Misalnya kalau saya mau ke daerah Cililitan, saya hanya perlu naik Busway ke PGC lalu sambung angkot apapun ke da…

Titik Nol (2012)

Begitu Agustinus Wibowo berkata di Twitternya bahwa buku barunya sudah ditelurkan, saya langsung penasaran untuk membelinya. Bagaimana tidak, dua karya sebelumnya yaitu Selimut Debu dan Garis Batas begitu mempesona sehingga saya rekomendasikan buku ini ke teman-teman saya. Bahkan saking terkesimanya, saya mengulas bukunya dengan percakapan imajiner seperti yang ditulis di sini.

Agustinus yang saya kenal melalui karyanya adalah orang yang pandai menggambarkan situasi sosial sebuah tempat kemudian menarik makna terhadap dirinya sendiri. Di Garis Batas, Agustinus menceritakan batasan negara tetangga Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan namun keadaan setiap negara sangat jomplang. Garis Batas yang imajiner itu ia persempit maknanya dan membawa ke tingkat yang lebih personal yaitu garis batas ia sebagai Tionghoa yang tinggal di Indonesia namun masih terasa berbeda akibat warna kulit, ras, dan wujud lahiriah.

"Betapa burung-burung itu mempunyai hidup yang bol…