Skip to main content

A Clockwork Orange


Jika ingin nonton film yang menganggu dan menimbulkan kesan yang tidak enak setelah menontonnnya A Clockwork Orange adalah jawabannya. Film yang dibuat Stanley Kubrick pada tahun 1971 ini sudah menunjukkan keganjilannya di scene pertama. Kamera fokus pada wajah Alex (Malcolm McDowell) dengan sebelah mata yang mengenakan bulu mata palsu dan menatap tajam ke arah kamera. Secara perlahan, kamera menjauh dan memperlihatkan Alex dan gengnya berada di sebuah bar yang menyediakan campuran susu dan obat-obatan dengan interior yang sangat seksual namun tetap bagus.

Diceritakan tentang Alex dan gangnya yang suka melakukan kegiatan 'ultraviolent' dengan memukuli korban-korban yang tidak berdaya, merampok, membunuh, dan memperkosa. Tidak hanya kepada orang lain, Alex juga melakukan adegan kekerasan dengan teman-temannya sendiri. Setelah merampok rumah 'A Cat Lady', kepala Alex dipukul dengan botol kaca sehingga ia lengah dan tertangkap polisi. Di kepolisian, ia ditawarkan untuk melakukan aversion therapy. Namun hasil dari aversion therapy ini tidak sesuai yang diinginkan. Tidak hanya takut dengan kekerasan, terapi ini memberi efek Alex tidak bisa membela diri ketika orang-orang yang pernah dipukulinya ini melakukan balas dendam.

Foto dipinjam dari sini

Tidak hanya itu, kegemaran Alex pada seks juga hilang. Ia bahkan enggan menyentuh seorang perempuan yang bertelanjang dada di depannya. Alex diketahui menyukai musik klasik yaitu Beethoven. Aversion therapy ini membuat Alex sangat enggan mendengarnya dan membuatnya loncat dari jendela dan menyebabkan ia luka-luka. Saat ia di rumah sakit, pemimpin terapi tersebut minta maaf atas efek buruk dari terapi yang gagal. Di akhir cerita, Alex kembali membayangkan sebuah adegan seks dengan seorang perempuan. Ia berkata, "I was cured, all right!"

Melihat film yang penuh kekerasan fisik dan seksual ini, saya menyukai karakter Alex yang kuat. Alex digambarkan sebagai tokoh yang memiliki karakter karismatik, sociopath, dan tidak sungkan-sungkan melakukan kekerasan. Selain itu penampilan Alex digambarkan begitu ikonik yaitu mengenakan topi, berpakaian dominan putih, serta bulu mata palsu di mata kanan yang membuat sosoknya tidak mudah dilupakan.

Foto dipinjam dari sini
Suasana ganjil dan menganggu semakin terasa ketika Alex melakukan Ludovico technique. Dalam teknik ini, pasien dipaksa untul melihat, dengan alat bantu yang menahan kedua mata agar tidak menutup, gambar-gambar yang penuh kekerasan dalam jangka waktu yang lama, sambil dimasukkan obat agar merasa mual. Tujuan dari terapi ini adalah membuat pasien merasa mual ketika melakukan atau bahkan membayangkan kekerasan, kebalikan dari perilaku Alex selama ini.

Film ini juga menyindir psikologi B.F. Skinner dengan teori behaviorismenya bahwa manusia dapat dibentuk melalui teknik reward and punishment yang dilakukan secara sistematis. Manusia tidak ubahnya produk mekanistis (seperti clockwork) dan meniadakan free will yang dimiliki setiap orang. Dalam film ini, behaviorisme dipercaya dapat membentuk sebuah masyarakat yang ideal atau utopia--jauh dari suasana distopia sebagaimana yang digambarkan di film.

Film yang diadaptasi dari Anthony Burgess tahun 1962 ini adalah film yang menarik dan sangat banyak hal yang bisa dibahas. Karena diangkat dari novel, tentu banyak perbedaan. Berdasarkan yang saya baca dari internet, Alex berusia 15 tahun, bukan 17 atau 18 tahun seperti yang ada di film. Korban yang diperkosa juga bukan cenderung perempuan dewasa, bukan anak-anak berusia 10 tahun seperti yang ditulis di novel. Saya lebih ngeri membayangkan jika novel sekaligus film ini diangkat dari kisah nyata. Mengerikan.

Pada saat saya menulis ini, sebuah tempat kursus bahasa Prancis berencana menonton bareng film A Clockwork Orange. Tentu film seperti ini paling enak dianalisa dan didiskusikan bersama dalam komunitas atau lingkungan kampus. Namun saya membayangkan kecanggungan para penonton ketika melihat wanita-wanita telanjang menghiasi layar. Bukannya hal-hal yang berbau seks gitu enaknya dinikmati sendiri saja?

Comments

Anonymous said…
persis dengan lagu yg d gambarkan oleh band the addict yg berjudul "smart aLex"

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…