Balada Transjakarta Busway

Tiga ratus dua puluh ribu orang menggunakan Transjakarta Busway di hari biasa. Saat ulang tahun Jakarta di tahun 2012 lalu, saat pemerintah memperbolehkan warganya menggunakan Transjakarta Busway secara gratis, sekitar 400 ribu orang yang menggunakan alat tranportasi ini. Seolah-olah déjà vu, pemerintah Jakarta akan mencanangkan program gratis di tanggal 22 Juni nanti dalam rangka ulang tahun ibukota. Tepat di akhir pekan.

Izinkan saya bercerita sebagai pengguna Transjakarta Busway ibukota, para hadirin dan hadirat. Saya adalah makhluk yang cukup loyal menggunakan busway karena ia dapat menjangkau titik-titik strategis Jakarta dari yang paling dekat dari kosan hingga paling jauh. Selain hanya diganjar Rp3.500 (dan sangat menguntungkan jika letak tempatnya di ujung langit), saya tidak perlu berpeluh akan keringat dan polusi kendaraan lain seperti saat naik Kopaja, misalnya. Misalnya kalau saya mau ke daerah Cililitan, saya hanya perlu naik Busway ke PGC lalu sambung angkot apapun ke daerah yang dituju. Lagian saya pun belum mampu menggunakan taksi kalau tidak terlalu darurat. Maklum, gaji wartawan kecil. Cih, kelas menengah rupanya.

Omong-omong tentang Transjakarta Busway, alat transportasi ini betul-betul bisa memberi saya gambaran umum tentang Jakarta tanpa perlu turun. Oh, ini toh yang namanya UI, ini toh yang namanya Mangga Dua, ini juga toh yang namanya Lebak Bulus. Selama saya eksplorasi ibukota dengan bus ini, saya diam-diam berterima kasih pada si penginisasi ide pengadaan Transjakarta Busway, si pembuat jalur, si pembuat jembatan penyebrangan, dan si pembuat sistem. Betapa terbantunya warga dengan keberadaannya!

Namun sayang seribu sayang, Jakarta bukanlah negeri dongeng yang hanya menawarkan kisah manis saja. Transjakarta Busway punya seribu kisah pahit yang ditawarkan kepada para penggunanya. Sebenarnya enggak seribu-seribu amat sih karena saya hanya memaparkan empat kekurangannya saja:

1. Nunggu busway bisa berjam-jam
Transjakarta Busway memiliki terminal transit utama yaitu Terminal Harmoni. Dari segala penjuru, bus akan menuju ke sini sehingga penumpang bisa ganti bus kemanapun ia akan pergi. Warga barat bisa ke utara, timur, dan selatan, juga sebaliknya. Dulu, saat saya masih ngekos di Halim, saya bergidik ngeri ketika antrian begitu membludak terutama arah Lebak Bulus dan Kalideres. Rupanya Tuhan berkata lain dengan menempatkan saya di daerah Kedoya sehingga kini saya pun terlibat dalam antrian arah Lebak Bulus. Walaupun antrian arah Kalideres lebih panjang dari Lebak Bulus, mereka lebih beruntung karena busnya datang lebih cepat. Sementara antrian si Lebak Bulus ini, tidak jarang saya harus mengantri sekitar 1-1.5 jam. Jadi, kalau saya habis jalan-jalan dari daerah pusat sekitar pukul 16.00, maka saya akan sampai kosan di tiga jam berikutnya.

Halte busway penuh sesak | Kompas/Wisnu Widiantoro
Foto diambil dari sini

2. Tidak bisa duduk
Beberapa waktu lalu saya melihat ada orang yang pingsan di antrian Lebak Bulus yang busnya sudah lama tidak kunjung datang. Saat itu orang-orang mengantri sambil berdiri. Pihak TransJakarta memang menyediakan kursi namun hanya di titik tertentu sehingga tidak memungkinkan ngantri dan duduk sekaligus. Jadi, dalam keadaan kaki sudah pegal, kadang masih harus berdesakkan di dalam bus dan tidak dapat tempat duduk pula. Kalau jaraknya dekat sih tidak apa-apa, tapi kalau jaraknya dari ujung hingga ujung terminal dan dalam keadaan macet sih ya salam saja.

3. Kesenjangan armada angkutan
Saya memang tidak tahu angka pasti armada setiap jurusan sehingga ini adalah data prasangka, tapi sebagai warga temporer rute Lebak Bulus, saya iri sekali dengan jalur Blok M-Kota yang busnya mondar-mandir layaknya setrikaan belum panas padahal antriannya tidak banyak-banyak amat. Apakah, lagi-lagi, pusat selalu diprioritaskan? Huhu.

4. Jalur yang kosong dan menggoda

The sinful way
Foto milik http://www.transjakarta.co.id

Poin keempat ini sebenarnya bukan tentang Transjakarta Busway, namun moral dan pikiran manusia yang turut masuk jalur busway padahal sudah banyak rambu-rambu bahwa ini dilarang dan berbahaya. Jalur busway yang eksklusif dan kosong melompong itu tentu menggiurkan para pengguna jalan yang bermacet-macetan di sisi lainnya. Sering ditemukan mereka masuk ke jalur busway, melenggang di atas jalan yang bukan haknya. Saya jadi menginginkan pemerintah membuat peraturan bahwa apapun bisa dilibas jika masuk jalur busway.

Padahal sudah diwanti-wanti oleh pemerintah
Foto milik http://www.transjakarta.co.id

Untuk kasus ini, saya memiliki saran. Bagaimana jika batas jalur busway dan jalur biasa ditinggikan sekitar setengah meter sehingga pengemudi tidak bisa masuk ke jalur busway seenaknya. Kemudian setiap ujung jalur dikasih pintu yang otomatis terbuka setiap busway akan melintas. Caranya? Dengan melakukan memindai chip yang ada di pinggir awal jalur dan tertera di bagian muka bus dan bisa terdeteksi dari jarak tiga meter. Genius, 'kan? Sebenarnya yang dipindai tuh chip atau bukan?

Tapi apa perlu dijaga terus seperti ini. Scan adalah solusinya!
Foto milik http://www.transjakarta.co.id

Saya akan memberikan tips agar bisa survive menggunakan Transjakarta Busway:
1. Hindari jam pulang kantor
2. Pakai sepatu atau sendal yang nyaman untuk berdiri lama-lama
3. Tapi sebaiknya pakai sepatu agar tidak mudah diinjak lalu copot
4. Bawa tas yang tidak memberatkan dan mudah jika kedua tangan harus pegangan ke bagian atas bus
5. Saat naik busway, tas disimpan di depan untuk menghindari copet
6. Minum tolak angin agar tidak masuk angin saat menunggu
7. Bawa mp3 atau gadget atau telepon genggam dengan baterai penuh biar bisa internetan atau mendengar lagu
8. Saat sudah duduk, utamakan manula dan ibu hamil yaa.. agar berpahala dan masuk surga
9. Terakhir, saya sih tidak menyarankan untuk serba mengalah ya, karena kalau sudah menunggu lama, pengguna bisa menggila layaknya ibu-ibu lihat barang diskonan!

Walaupun pahitnya sepahit saat makan insang ikan, saya berharap Transjakarta Busway ini tetap berdikari dan hanya butuh sedikit dirapikan saja. Semoga, saat ulang tahun Jakarta nanti, saya tiba-tiba dikasih rezeki nomplok sehingga bisa naik ojek atau taksi sehingga tidak perlu berkontribusi dalam aksi berjejalan di dalam halte yang sempit ini.

Comments

Begy Saputra said…
Udah lama ga mampir disini. Mau komen sekalian ah. Nambahin aja tips pas ngantri TJ biar ga mati gaya: bawa minum dan buku/e-reader!
Nia Janiar said…
Hai, Begy.. selamat datang lagi. *bersih-bersih*

Bener. Harap disimak tips tambahannya, pembaca!
memes said…
sejelek-jeleknya busway tuh yang jalur ke timur jan terutama yang ke pulo gadung, udah lama, jalurnya kepotong macet truk, tempatnya jelek, jumlahnya sedikit, dan gua setuju banget itu rute tengah selalu cepat datengnya dan sepi kosong melompong hahhahaha
Nia Janiar said…
Wah, rute Pulo Gadung gue baru sampe Velodrome gitu ya, yang ada Xtransnya. Haha. Seringnya kalo ke Senen doang pake itu. Hmmm..

Popular Posts