Forget Me Not

Tempat yang kini saya tinggali telah menginjak umur 486 pada tanggal 22 Juni kemarin. Untuk merayakan ulang tahunnya, pemerintah menyelenggarakan pesta yaitu dengan mengadakan beragam acara di Jakarta Pusat  (foto bisa dilihat di Flickr). Ancol juga ikut merayakan dengan membiarkan masyarakat masuk secara gratis. Sementara di lini transportasi, TransJakarta Busway pun digratiskan.

Di tengah hingar bingar itu, saya dan kedua teman kantor memilih untuk menyepi dengan nonton gratis di Blitzmegaplex Pacific Place karena sedang ada festival film Jerman. Kami sudah bersepakat bahwa pengeluaran hari ini hanya boleh hingga Rp100.000 (terkait akhir bulan dan memang hanya itu yang saya punya di dompet). Sebelum berangkat, kami mencari transportasi non busway dan akhirnya mendapatkan bus menuju Polda seharga Rp5.000 saja.

Foto dipinjam dari sini

Kami nonton film Vergiss mein nicht (Forget Me Not). Film ini merupakan film dokumenter tentang seorang anak (beserta keluarga) yang merawat Gretel, sang ibu, yang terkena Alzheimer's disease. Akibat penyakit ini, Gretel jadi kesulitan beraktivitas, enggan melakukan apa-apa, serta kehilangan ingatannya seperti ia tidak bisa mengingat siapa suami dan anaknya. Selain itu juga ia tidak bisa mengenali bahwa ia tinggal di rumahnya sendiri. Alzheimer's disease ini merupakan penyakit degeneratif. Walaupun ada kemajuan, semakin hari Gretel terlihat semakin mundur kesehatannya. Di akhir film, diperlihatkan akhirnya Gretel terbaring lemah di atas tempat tidur dan sulit untuk makan.

Tidak hanya kisah Gretel dan penyakitnya, David Sieveking, sang sutradara film sekaligus putra dari Gretel, menyajikan penonton dengan masa lalu kedua orang tuanya yaitu Gretel dan Malte. Rupanya mereka adalah pasangan yang menjunjung kemandirian dan kebebasan individu dengan melakukan pisah ranjang selama pernikahan berlangsung. Gretel juga tidak pernah berkata 'I love you' pada suaminya. Ternyata Malte juga pernah memiliki beberapa affair, namun Gretel tidak pernah memperlihatkan kecemburuannya. Malte sempat ingin menyatakan cerai namun Gretel meminta Malte untuk bertahan demi anak-anaknnya. Kemudian saat Malte membaca buku harian Gretel, dituliskan bahwa Gretel merasa tersakiti karena affair Malte.

Film arahan David Sieveking, putra dari Gretel, ini mengingatkan saya pada Amour. Keduanya adalah film manis namun menyedihkan. Selain itu kedua film ini membuat saya sadar tentang pentingnya saling menyayangi dan mengasuh antar manusia karena manusia itu saling membutuhkan. Saat menjadi tua renta, manusia kembali seperti bayi yang perlu dibantu. Jika kita sendirian pada saat tua seperti tidak menikah, hidup sendiri, tidak memiliki anak atau keluarga, maka kita akan dibantu oleh siapa? Syukur kalau terus sehat bugar dan meninggal dalam tidur yang tenang.

Di dalam film pun terlihat Gretel yang begitu aktif di kala mudanya. Ia adalah seorang perempuan cantik yang bersemangat dan suka tersenyum. Siapa sangka jika seseorang bisa sedemikian lemah dan tidak berdaya di usia senja?

Di akhir film, Gita, salah satu teman saya, pun menitikkan air mata. Memang, Vergiss mein nicht adalah film humanis yang mengharukan.

Foto dipinjam dari sini

Comments

Popular Posts