Membuka Luka Lama Bersama The Act of Killing

Tema komunisme menjadi begitu dekat ketika saya mulai membaca karya sastra Indonesia. Banyak penulis yang selalu menyinggungkan nasib tokoh dengan komunis. Tengoklah Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Amba karya Laksmi Pamuntjak, Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Saman karya Ayu Utami, Pulang karya Leila S. Chudori, dan masih banyak lagi. Setiap membaca, saya bertemu dengan tema komunis terus menerus. Lama-lama saya jadi berpikir: Memangnya sejarah Indonesia ini hanya komunis saja?

Di luar dari rasa bosan itu, lama-lama pandangan tentang komunisme mulai berubah. Karya sastra menceritakan pembelaan terhadap kaum petani, bagaimana seorang tokoh hidup dalam pelarian, dan efek psikologis lain yang dialami. Selama ini di sejarah, para komunis diperlihatkan sebagai antagonis yang layak disiksa tanpa diadili. Tentu saja hal-hal yang dicerminkan di dalam karya sastra tidak disebutkan di buku pelajaran sejarah.

Setelah peristiwa 30 September, sekitar dua juta orang dibantai di Jawa dan Bali, termasuk mereka yang hanya dicurigai saja. Pantas saja jika peristiwa ini disebut-sebut sebagai lembar terhitam sejarah Indonesia dan terus diceritakan di dalam sastra. Jangan-jangan karya sastra adalah sebuah media agar kita tidak pernah lupa?

Foto dipinjam dari sini
Lalu beberapa minggu yang lalu, saya menonton The Act of Killing (Jagal). Film dokumenter arahan Joshua Oppenheimer ini bercerita Anwar Congo dan Adi Zulkadry, eks preman bioskop, yang ditugaskan untuk menumpas orang-orang yang dituduh PKI, termasuk orang-orang Cina yang menolak untuk bayar. Bahkan ada salah satu dari mereka yang membunuh setiap orang Cina yang ditemui. "Saya bunuh semua orang Cina yang saya temui. Tapi kemudian saya ketemu bapaknya pacar saya. Awalnya saya sempat ragu, tapi akhirnya saya bunuh juga. Haha," ujar salah satu dari mereka tanpa beban.

Dengan rekonstruksi dramatis layaknya film fiksi, mereka melakukan reka ulang bagaimana mereka membunuh orang-orang. Alat yang dipakai dan tempat pembunuhan diperlihatkan. Lalu Anwar Congo, si pria kulit hitam kontras dengan celana putih yang telah membunuh 1000 orang, menari-nari di atas tempat perkara. Kemudian Anwar dan teman-temannya diundang oleh sang sutradara untuk membuat film reka ulang (seperti film dalam film) dimana Anwar berpura-pura korban. Lucunya, ia tidak dapat melanjutkan karena dia merasakan  apa yang korbannya terdahulu rasakan. Oppenheimer berkata perasaan tersebut tidak ada apa-apanya dengan para korban yang benar-benar mati kala itu.

Film ini mendapat penghargaan Human Rights Human Dignity International Film Festival 2013 - Aung San Suu Kyi Award. Sayangnya film yang dipuji-puji di luar negeri sana bukanlah film yang ditonton oleh masyarakat Indonesia secara masif. Ia dipertontonkan dalam komunitas-komunitas kecil, bergerilya di bawah tanah.

The Act of Killing adalah sebuah film dokumenter yang menimbulkan perasaan masygul setelah menontonnya. Mungkin perasaan itu muncul ketika seseorang dibukakan matanya agar melihat ... kenyataan?

Comments

Fandi Ahmad said…
Ini film yang keren, dan gilanya lagi sama sutradaranya dikasih gratis untuk orang Indonesia.

Tulisan yang bagus.
Nia Janiar said…
Terima kasih!

Popular Posts