Skip to main content

Titik Nol (2012)

Begitu Agustinus Wibowo berkata di Twitternya bahwa buku barunya sudah ditelurkan, saya langsung penasaran untuk membelinya. Bagaimana tidak, dua karya sebelumnya yaitu Selimut Debu dan Garis Batas begitu mempesona sehingga saya rekomendasikan buku ini ke teman-teman saya. Bahkan saking terkesimanya, saya mengulas bukunya dengan percakapan imajiner seperti yang ditulis di sini.

Agustinus yang saya kenal melalui karyanya adalah orang yang pandai menggambarkan situasi sosial sebuah tempat kemudian menarik makna terhadap dirinya sendiri. Di Garis Batas, Agustinus menceritakan batasan negara tetangga Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan namun keadaan setiap negara sangat jomplang. Garis Batas yang imajiner itu ia persempit maknanya dan membawa ke tingkat yang lebih personal yaitu garis batas ia sebagai Tionghoa yang tinggal di Indonesia namun masih terasa berbeda akibat warna kulit, ras, dan wujud lahiriah.

"Betapa burung-burung itu mempunyai hidup yang boleh membuat manusia iri. Betapa bebas mereka berkelana, bertualang menikmati surga-surga di muka bumi. Sedangkan kami manusia fana, tersekat begitu banyak batas. Batas-batas itulah yang terus memenjarakan diriku dalam identitas yang senantiasa disangkal. Di negeri kelahiranku, aku dianggap sebagai orang luar. Bahkan hingga di tanah leluhur pun, aku tetaplah hanya sebagai orang asing. Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas negeri di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasatmata? Siapa yang menentukan suku-suku, bangsa-bangsa, ras dan etnis? Siapa pula yang tega mengobatkan perang dan pertumpahan darah, demi garis-garis batas itu?" (Titik Nol: 34-35)
Selain itu, Titik Nol memberikan teropong bagi para pembaca untuk mengetahui tempat-tempat yang jauh tanpa harus mengunjunginya.
"Walaupun Indonesia dan Pakistan adalah dua negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, guncangan culture shock setiap kali aku memasuki Pakistan selalu dahsyat.  Di Pakistan, segala sesuatu dipisahkan berdasarkan gender. Mulai dari sekolah sampai warung, dari bus sampai ke bank. Kata 'perempuan' dalam bahasa Urdu adalah 'aurat'. Bukan hanya bagian dari tubuh, tapi sekujur tubuh mereka secara keseluruhan adalah aurat. Perempuan disinonimkan dengan ketelanjangan yang memalukan yang tidak boleh dipertontonkan. Kaum hawa tidak keluar rumah, kecuali kalau dibarengi ayah atau suaminya atau anggota keluarga yang laki-laki. Banyak mereka yang mengenakan cadar pekat yang menutup dari kepala sampai kaki, biasanya berwarna hitam dan hanya menyisakan sepasang mata. Ada ulama yang bahkan menyuruh para perempuan selalu mengenakan kacamata hitam, sarung tangan, kaus kaki, bahkan untuk berhadapan dengan sepupu sendiri sekalipun. Perempuan seperti makhluk keramat. Jangan tatap mata mereka! Jangan bicara dengan mereka! Awas, jangan berani-berani kurang ajar memotret mereka!" (Titik Nol: 430)

Lain dengan novel sebelumnya, Titik Nol bercerita tentang keinginan Agustinus Wibowo untuk melalang buana hingga Afrika. Namun impiannya itu harus hancur saat ia menerima kabar bahwa ibunya menderita kanker dan membuatnya harus kembali ke tanah air. Pulang. Kembali ke titik nol untuk menghadapi kenyataan-kenyataan yang selama ini ia tinggalkan, untuk melihat kotanya yang menyesakkan, untuk ke keluarganya yang terpontang-panting masalah utang karena membiayai pengobatan ibunya, dan untuk menghadapi rasa bersalah karena ia membelakangi keluarganya dan meninggalkan ibu yang sangat mencintainya.


Dalam buku setebal 552 halaman (melihatnya saja sudah membuat menyerah untuk dibaca, memang), Ming, nama Tionghoa dari penulis, bercerita tentang perjalanannya ke Himalaya, melihat khusyuknya ziarah di Tibet, mendatangi surga-surga dunia dibalik pegunungan yang sulit untuk dijangkau, menjajaki gunung Everest yang menurutnya gunung lebih seperti monster besar yang mengintimidasi, juga berada di tengah caruk maruknya India dimana ia harus pintar-pintar menghindari dari segala tipu muslihat warganya. Di sana ia berinteraksi dengan kebaikan warga yang justru melayani Ming dengan berbagai makanan sebagai musafir walaupun mereka sendiri kekurangan. Bahkan ia sempat mendapatkan pelecehan seksual karena ia sebagai makhluk Asia nan kecil, berkulit terang, dan berkulit mulus saat berada di India yang entah mengapa hasrat seksual mereka begitu besar.

Dalam buku ini, di setiap tulisan perjalanannya, terdapat sepenggal cerita saat ia mengunjungi ibunya di rumah sakit dan Ming bercerita tentang Safarnama. Dalam bahasa Persia, safar berarti 'perjalananan' dan nama berarti 'tulisan, surat, kitab'. Sederhananya adalah catatan perjalanan. Ia menceritakan catatan perjalanannya saat mengunjungi negara-negara tersebut. Ia menuliskan bagaimana ibunya juga memiliki keinginan untuk jalan-jalan serta pulang ke negeri para leluhurnya--Beijing. Tak pula ia menuliskan meski usus ibunya sudah lengket, sang ibu tetap semangat. Bahkan detik-detik kematiannya, ia dapat menghadapinya dengan tenang, tidak seperti keluarganya yang ribut menentukan ia harus dimakamkan dan didoakan dengan agama apa. Ibunya juga pulang, kembali ke titik nol.

Berbeda dengan buku keduanya terdahulu, Titik Nol memang menyediakan ruang khusus bagi penulis untuk menuliskan kehidupan pribadinya. Di akhir buku juga ia menuliskan panjang-panjang hubungan kasih sayang antara ia dan ibunya. Tak terlewatkan sebuah surat yang ia tulis untuk  ibunya sebagai penutup cerita di Titik Nol.

Pergi dan terus berjalan selama kaki bisa dan mampu berjalan. Pulang dan tinggal kapanpun hati sudah memutuskan.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…