Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2013

Terbentur Agama

Saudara laki-laki saya punya kisah pilu. Hubungan dia dan pacarnya yang sudah terjalin selama enam tahun itu harus kandas karena masalah kepercayaan. Saudara saya Islam, pacarnya Kristen. Saya menduga bahwa awalnya mereka tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama (semacam 'segimana nanti') karena saat itu belum ada niat serius. Namun seiring umur semakin bertambah dan kualitas hidup juga harus maju, agama menjadi jurang yang melebar dan memisahkan.

Setelah ayah dari saudara laki-laki saya menyatakan bahwa sebaiknya ia mulai memikirkan untuk menikah karena ayahnya sudah lelah bekerja dan ingin pensiun, mau tidak mau saudara laki-laki saya pun memikirkan pernikahan. Saya juga sudah memberi saran gedung serta berbagi imajinasi tentang resepsi seperti 'sebaiknya malam hari saja di Kartipah dengan sedikit undangan. Pasti acaranya romantis.' Namun si perempuan tampaknya tidak tergugah untuk excited dan mencari tempat untuk nikahannya nanti. Mungkin si perempuan mulai me…

Ragu

Ragu mengetuk pintu. Berbondong-bondong ia masuk ke lorong pikiran, memenuhi ruang kosong yang penuh tanda tanya. Dengan tidak sabarnya ia menggedor logika, membangunkan yang selama ini tidur bersama Perasaan. Lalu ia meneriakkan sebuah kalimat yang hingga kini terus bergaung, "Lihat dirinya! Lihat perilakunya! Apa alasanmu untuk tetap tinggal?"

Keraguan diizinkan; bahkan meskipun yang percaya lebih berbahagia--Ayu Utami berbisik di telinga kananku.

"A.. ada alasannya..." Aku tergugup menjawab dengan tidak yakin. Semakin aku tergugup, Ragu semakin mendesak. Aku berusaha tidak mendengarnya, tapi ia begitu bertekad dengan suaranya yang lama-lama memekakkan. "Beri aku waktu. Beri ia waktu!" ujarku agak panik. Sementara Ragu melotot, sambil mengetukkan jari ke jam tangannya.

Ragu, kumohon, jangan terburu-buru.

Pintu Terlarang

Jujur saja, sebetulnya saya penasaran dengan Pintu Terlarang ini karena teman saya, Vendy, yang pernah menggadang-gadangnya dulu. Kali ini saya akan berbagi tentang buku ini yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara tahun 2004. Sebagaimana aslinya tanpa interpretasi Joko Anwar yang membuat film adaptasinya tahun 2009. Buku ini saya habiskan dalam waktu beberapa jam saja. Karena selain tulisannya pendek-pendek per-chapter sehingga plot terasa cepat (mengingatkan pada The Da Vinci Code), kata-kata Sekar Ayu mengalir dan membuai sesuai porsinya dan dapat membuat pembaca penasaran hingga akhir novel.

Oke, ini akan total spoiler. Jadi yang belum baca dan berniat, jangan dilanjutkan yaa.

Awalnya diceritakan tentang seorang anak yang disiksa dengan orang tuanya dengan cara kejam. Ia mengalami penyiksaan seperti dipukuli, disundut rokok, dan dijambak rambutnya. Setelah penceritaan singkat, cerita pun beralih dari seorang seniman bernama Gambir dan beristrikan perempuan cantik bernama Talyda. Saat m…

Dongeng Sebelum Tidur

Kemari, anakku, tidur di pangkuanku. Aku akan ceritakan kisah tentang sebuah tempat ibumu berasal. Dengarkan dengan hati-hati, anakku tersayang. Kau akan terpana dengan tempat ini yang begitu magis dan di luar imajinasimu.

Alkisah sebuah tempat yang jauh dan sulit ditemukan. Rimbunnya pepohonan harus ditebang dan gunung-gunung cadas ditembus dengan tekad yang terus menerus. Liukkan punggung gunung pun harus dijajal, berbatasan dengan jurang yang curam. Belum lagi kabut menyergap di saat pagi dan malam hari, membuat jarak pandang begitu terbatas. Lalu di sebuah lapang, kau akan sebuah lansekap pecahan surga yang dikelilingi pegunungan yang berundak-undak. Panorama abu pias dengan jentik-jentik air ketika kau menggapai udara. Bulu-bulu halus di kulitmu seketika berdiri begitu merasakan hawanya.

Apakah ini adnan dengan aliran air mengalir jernih (yang kemudian kuketahui) bernama Ci Kapundung? Apakah ini nirwana dengan lekukan jalur lava yang menghias di bibir sungainya? Apakah ini Shangr…

Drip On Coffee

Halo, para penikmat kopi.

Duh, terlalu formal. Padahal postingan ini ditujukan untuk mereka yang suka minum kopi tanpa menjadi ahli dalam cara membuat dan membedakan rasa (belum apa-apa udah defense). By the way, tadi sore saya mendapatkan oleh-oleh dari teman kantor yang baru pulang dari Jepang. Ia memberi sekitar lima bungkus kopi yang di dalamnya ada saringan untuk coffee dripper. Semuanya ditulis dalam bahasa Jepang sehingga saya tidak mengerti perbedaan kopi satu dengan kopi lainnya. Ya sudah, saya pilih berdasarkan warna saja yaitu warna hitam. Lagipula, bungkusan ini hanya satu-satunya. Lebih eksklusif gitu.

Jadi pertama, buka bungkusnya dari cara yang sudah ditentukan di belakang bungkusan. Kedua, ambil coffee bag dan rentangkan di bibir cangkir. Ketiga, seduh pakai air panas dan diamkan hingga tetesan berakhir. Kalau tidak salah airnya dimasukkan sebanyak 140ml dan ditunggu selama 2-3 menit.


Menurut pendapat sotoy saya, kayaknya ini kopi robusta deh karena rasanya yang cender…

Kumpulan Puisi Sapardi Kesukaan #1

Beberapa puisi di bawah ini dipinjam dari buku "Hujan Bulan Juni"karya Sapardi Djoko Damono.

SONET: Y

walau kita sering bertemu
di antara orang-orang melawat ke kubur itu
di sela-sela suara biru
bencah-bencah kelabu dan ungu
walau kau sering kukenang
di antara kata-kata yang lama tlah hilang
terkunci dalam bayang-bayang
dendam remang
walau aku sering kausapa
di setiap simpang cuaca
hijau menjelma merah menyala
di pusing jantra
: ku tak tahu kenapa merindu
tergagap gugup di ruang tunggu

(1968)


JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi

(1968)


DI RESTORAN

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

(1989)

Petikan ucapan di bawah ini diambil dari buku …

A Farewell Note

Bagi para pembaca budiman sekaligus setia, mungkin kalian sudah membaca cerita tentang hari pertama saya bekerja di kantor. Suasana yang tidak akrab membikin saya sedih pada mulanya. Perasaan baru keluar dari zona nyaman lalu diburu untuk melakukan adaptasi dengan cepat itu tidak mengenakkan. Namun seiring waktu, akhirnya saya bisa berinteraksi dengan teman-teman. Mungkin ini juga karena bantuan tidak langsung dari salah satu teman kantor yang bernama Gita.


Gita adalah orang pertama yang saya temui saat masuk ke kantor. Saya ingat waktu itu saya duduk di kursinya Fikri, lalu Gita masuk, duduk di kursinya yang bersebelahan dengan kursi Fikri, dan menyapa canggung. Ia tidak mengenalkan namanya hingga saya yang bertanya siapa namanya. Kesan pertama yang diingat ya hanya rambutnya yang hemat itu. Beberapa hari kemudian, ia mulai mengajak saya shalat bersama. Wah, dia orang pertama yang mengajak untuk melakukan sesuatu--pikir saya. Kemudian saat menuju musholla, saya mulai berbasa-basi tan…