A Farewell Note

Bagi para pembaca budiman sekaligus setia, mungkin kalian sudah membaca cerita tentang hari pertama saya bekerja di kantor. Suasana yang tidak akrab membikin saya sedih pada mulanya. Perasaan baru keluar dari zona nyaman lalu diburu untuk melakukan adaptasi dengan cepat itu tidak mengenakkan. Namun seiring waktu, akhirnya saya bisa berinteraksi dengan teman-teman. Mungkin ini juga karena bantuan tidak langsung dari salah satu teman kantor yang bernama Gita.

Diambil saat farewell party dan menerima mesin jahit!

Gita adalah orang pertama yang saya temui saat masuk ke kantor. Saya ingat waktu itu saya duduk di kursinya Fikri, lalu Gita masuk, duduk di kursinya yang bersebelahan dengan kursi Fikri, dan menyapa canggung. Ia tidak mengenalkan namanya hingga saya yang bertanya siapa namanya. Kesan pertama yang diingat ya hanya rambutnya yang hemat itu. Beberapa hari kemudian, ia mulai mengajak saya shalat bersama. Wah, dia orang pertama yang mengajak untuk melakukan sesuatu--pikir saya. Kemudian saat menuju musholla, saya mulai berbasa-basi tanya-tanya tentang kantor, pekerjaan, dan pribadi Gita sendiri.

Rupanya adegan shalat-menyalat itu membuat pertemanan lebih mudah terjalin. Di luar beribadah, ia juga banyak mengajak untuk makan siang bersama. Walaupun tidak terlalu banyak ngomong, Gita ini sekalinya nyeletuk suka lucu dan gerak-gerik seperti tangan cumi-cumi juga khas. Dia juga suka mengeluh bokek di akhir bulan dan tanpa tedeng aling-aling menyerahkan nasibnya pada pacarnya di tanggal 25 (haha!). Di luar lingkungan kantor, kami pernah melakukan liputan bersama-sama di Jakarta Convention Center atau janjian makan siang bareng di kantor demi menggunakan kupon makan di hari libur (biar hemat). Ia juga cenderung mudah membuka diri terhadap orang lain dan mudah membuka pembicaraan. Saya pikir, dia teman bicara yang bisa sekaligus mendengarkan.

Topik pembicaraan semakin luas. Selain suka ngobrolin pacar masing-masing, rupanya kami memiliki beberapa kesamaan dalam selera musik. Latar belakang kesundaan kami juga membuat kami dapat menyumpah serapah dalam bahasa Sunda kasar atau kata-kata seperti 'sateh', 'digebok', atau 'kokolot begog'. Kemudian di suatu hari, ia bilang ia akan berhenti dari kantor karena kontraknya sudah habis. Saya agak kaget. Lho, nanti saya akan berteman dengan siapa?

Gita sebagai everyone's sweetheart pasti membuat banyak orang kehilangan. Saya melihat ia banyak menyapa dan disapa orang di lingkungan kantor. Saya pikir itu adalah sebuah tanda bahwa ia orangnya memang mudah bergaul. Tentunya hal ini akan memudahkan Gita saat berada di lingkungan baru. Ia tidak perlu khawatir.

Postingan ini memang sengaja ditujukan untuknya sebagai catatan perpisahan dan sudah diatur otomatis saat ia berada di perjalanan pulang menuju Bandung. Karena Gita perlu tahu bahwa, tanpa disadari, ia adalah teman yang membuat saya merasa nyaman berada di kantor.

Aneh juga sih ya orangnya.

Dear Gita, semoga sukses selalu ya dan kegiatan kreatifnya jangan dihilangkan. Semoga pertemanan tidak putus. See you when I see you in Bandung!

No comments: