Dongeng Sebelum Tidur

Kemari, anakku, tidur di pangkuanku. Aku akan ceritakan kisah tentang sebuah tempat ibumu berasal. Dengarkan dengan hati-hati, anakku tersayang. Kau akan terpana dengan tempat ini yang begitu magis dan di luar imajinasimu.

Alkisah sebuah tempat yang jauh dan sulit ditemukan. Rimbunnya pepohonan harus ditebang dan gunung-gunung cadas ditembus dengan tekad yang terus menerus. Liukkan punggung gunung pun harus dijajal, berbatasan dengan jurang yang curam. Belum lagi kabut menyergap di saat pagi dan malam hari, membuat jarak pandang begitu terbatas. Lalu di sebuah lapang, kau akan sebuah lansekap pecahan surga yang dikelilingi pegunungan yang berundak-undak. Panorama abu pias dengan jentik-jentik air ketika kau menggapai udara. Bulu-bulu halus di kulitmu seketika berdiri begitu merasakan hawanya.

Apakah ini adnan dengan aliran air mengalir jernih (yang kemudian kuketahui) bernama Ci Kapundung? Apakah ini nirwana dengan lekukan jalur lava yang menghias di bibir sungainya? Apakah ini Shangri-la dengan bidadari berkulit kuning langsat berambut hitam kemiri yang sedang membasuh diri?

Para perempuan berjalan dengan tenang dengan balutan samping di kakinya, membawa bakul berisi beras yang baru saja dituai. Sementara para laki-laki berjalan tegap dengan memikul cangkul di salah satu pundaknya. Mereka berbicara dengan tata bahasa yang halus dan mengalun merdu seperti sedang memetik sepotong alunan lagu. Intonasi mereka seperti tanah subur yang mereka tinggali: berlekuk dan berliuk. Apakah mereka manusia?

Anakku, tempat ini jauh berbeda dari apa yang kita tinggali sekarang. Tanah Pasundan semakin dingin di kala malam sehingga kau akan merasakan nikmatnya nyaman bergulung di bawah selimut tebal. Jangkrik mengkerik, mengisi kekosongan di antara hembusan angin gunung yang membisikkan untuk segera tidur. Lalu lupa kau ada di mana. Lalu kau memasuki dunia luas yang tidak kalah indahnya.

Seperti sekarang.

Cipularang, 20 Juli 2013

6 comments:

Martina Zahirsyah said...

Kereeennnnn banget! Salah satu bukti bhw bacaan berbobot emang menghasilkan penulis yg berbobot juga :) like this very much! :)

Nia Janiar said...

Aaww, Martyy.. berlebihan aah. Thanks anyway :)

Riko Sofra Denata said...

Bagus Nia, bacaan berbobot seperti apakah yang membuat Nia Janiar menulis seperti ini?

Nia Janiar said...

Kyaaa, Rikoo.. berlebihaan. Banyak baca buku2 sastra Indonesia aja. Hee :D

mohamad yasin said...

aw..aw...aw...jani makan apa bs kyk gini hahaha, bs bikin ber bobot gini pasti makan nya banyak y :D terus berkarya

Nia Janiar said...

Bahahaa apaan sih looo ah..