Skip to main content

Drip On Coffee

Halo, para penikmat kopi.

Duh, terlalu formal. Padahal postingan ini ditujukan untuk mereka yang suka minum kopi tanpa menjadi ahli dalam cara membuat dan membedakan rasa (belum apa-apa udah defense). By the way, tadi sore saya mendapatkan oleh-oleh dari teman kantor yang baru pulang dari Jepang. Ia memberi sekitar lima bungkus kopi yang di dalamnya ada saringan untuk coffee dripper. Semuanya ditulis dalam bahasa Jepang sehingga saya tidak mengerti perbedaan kopi satu dengan kopi lainnya. Ya sudah, saya pilih berdasarkan warna saja yaitu warna hitam. Lagipula, bungkusan ini hanya satu-satunya. Lebih eksklusif gitu.

Jadi pertama, buka bungkusnya dari cara yang sudah ditentukan di belakang bungkusan. Kedua, ambil coffee bag dan rentangkan di bibir cangkir. Ketiga, seduh pakai air panas dan diamkan hingga tetesan berakhir. Kalau tidak salah airnya dimasukkan sebanyak 140ml dan ditunggu selama 2-3 menit.


Menurut pendapat sotoy saya, kayaknya ini kopi robusta deh karena rasanya yang cenderung asam. Tenang, bukan kopi kadaluarsa kok karena sebagaimana yang tertera di belakang bungkusan, tanggal kadaluarsanya adalah 16 April 2014. Kalau dari yang saya baca, dibandingkan arabika, robusta memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dan kopi seperti ini banyak dijadikan espresso untuk dibuat beragam olahan. Meminum kopi di atas mengingatkan akan kopi-kopi instan yang dijual di pasaran.

Oh ya, saya jadi ingat pengalaman saya minum kopi turki. Rasanya tidak enak karena seperti mengandung rempah-rempah. Selain itu juga kopi dari Australia rasanya tidak semenendang kopi kita. Walaupun baru mencoba hanya beberapa asal kopi yang ada di Indonesia, saya pikir kopi dari tanah air ini tidak kalah enaknya.

Bagi para penikmat kopi atau mengamat kopi beneran, saya tunggu komentar dan berbagi pengalamannya ya. Terutama koreksi jika ada yang salah informasi dalam postingan di atas. ;)

Comments

dhitYD said…
ada rekomendasi ndak mbak Nia? kalau di sekitar Jakarta beli dimana?

keep posting, cheers :)
Nia Janiar said…
Haloo.

Wah, saya kurang tahu, mungkin bisa dicoba di mini market/retail Jepang seperti Mini Stop yang ada di Bintaro.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…